Surat Yasin Ayat 80: Nyala Api, Pohon, dan Hari Kebangkitan
Kamis, 17 Februari 2022 - 17:29 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Imam al-Thabari dalam kitab Jami’ al-bayan fi Ta’wil al-Quran sebagaimana mengutip riwayat dari Basyar dari Yazid dari Sa’id dari Qatadah bahwasanya Allah SWT berkuasa untuk menyalakan api dari kayu bakar yang mati, begitu pun Dia berkuasa untuk menghidupkan tulang belulang menjadi manusia kembali.
Dalam kitab tafsir Ma’alim al-Tanzil fi Tafsir al-Quran, Abdullah bin ‘Abbas seorang sahabat yang memiliki gelar ‘turjuman al-Quran’ sebagaimana dikutip Imam al-Baghawi menerangkan bahwa yang dimaksud dengan al-syajar (pohon) dalam ayat di atas adalah jenis pohon yang memiliki senyawa khusus yang dapat menimbulkan api.
Orang-orang Arab pada zaman itu mengenal dua jenis pohon bernama al-marakh dan al-‘affar yang dipergunakan sebagai bahan bakar untuk menyalakan api.
Ibnu ‘Abbas bercerita bahwa orang yang ingin menyalakan api biasanya memotong bagian dari pohon tersebut sebesar kayu siwak, kemudian jenis kayu ini bisa digesekkan dengan jenis pohon kering apa pun untuk menghasilkan api.
Imam Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa ayat 80 di atas merupakan perumpamaan bagi seorang manusia yang terdiri dari jasad yang fisik dan ruh metafisik yang meliputi jasad. Ruh ini, menurut al-Razi seperti energi panas yang terus menyala meskipun manusia tidak mengetahui bagaimana bentuk dari energi panas yang ada dalam diri manusia (istab’adtum wujud hararatin).
Berbeda dengan penafsiran al-Razi, Jamaluddin al-Qasimi dalam kitabnya Mahasin al-Ta’wil menjelaskan bahwa ayat 80 ini juga mencerminkan proses penciptaan manusia.
Menurut al-Qasimi, Allah SWT adalah Dzat yang menciptakan pohon (al-syajar) dari unsur air hingga menjadi pohon yang kokoh dan hijau yang kemudian bisa berbunga dan berbuah, lalu sebagian dahan dan rantinya kering dan berguguran.
Dari situlah kemudian menjadi bahan baku kayu bakar kering yang dapat menghasilkan api. Mengutip Qatadah, al-Qasimi menerangkan bahwa proses api ini merupakan bentuk kuasa Allah SWT, Dia pun berkuasa untuk menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati.
Sama seperti mufassir-mufassir di atas, Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya Marah Labid juga menekankan bahwa ayat 80 ini adalah bentuk perbandingan untuk kaum musyrik Mekah bahwa Allah SWT berkuasa untuk menghidupkan api dari pohon yang hijau, begitu pun Dia berkuasa untuk menghidupkan manusia dari tulang-belulang yang telah hancur.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 76: Boleh Bersedih, tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Dalam kitab tafsir Ma’alim al-Tanzil fi Tafsir al-Quran, Abdullah bin ‘Abbas seorang sahabat yang memiliki gelar ‘turjuman al-Quran’ sebagaimana dikutip Imam al-Baghawi menerangkan bahwa yang dimaksud dengan al-syajar (pohon) dalam ayat di atas adalah jenis pohon yang memiliki senyawa khusus yang dapat menimbulkan api.
Orang-orang Arab pada zaman itu mengenal dua jenis pohon bernama al-marakh dan al-‘affar yang dipergunakan sebagai bahan bakar untuk menyalakan api.
Ibnu ‘Abbas bercerita bahwa orang yang ingin menyalakan api biasanya memotong bagian dari pohon tersebut sebesar kayu siwak, kemudian jenis kayu ini bisa digesekkan dengan jenis pohon kering apa pun untuk menghasilkan api.
Imam Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa ayat 80 di atas merupakan perumpamaan bagi seorang manusia yang terdiri dari jasad yang fisik dan ruh metafisik yang meliputi jasad. Ruh ini, menurut al-Razi seperti energi panas yang terus menyala meskipun manusia tidak mengetahui bagaimana bentuk dari energi panas yang ada dalam diri manusia (istab’adtum wujud hararatin).
Berbeda dengan penafsiran al-Razi, Jamaluddin al-Qasimi dalam kitabnya Mahasin al-Ta’wil menjelaskan bahwa ayat 80 ini juga mencerminkan proses penciptaan manusia.
Menurut al-Qasimi, Allah SWT adalah Dzat yang menciptakan pohon (al-syajar) dari unsur air hingga menjadi pohon yang kokoh dan hijau yang kemudian bisa berbunga dan berbuah, lalu sebagian dahan dan rantinya kering dan berguguran.
Dari situlah kemudian menjadi bahan baku kayu bakar kering yang dapat menghasilkan api. Mengutip Qatadah, al-Qasimi menerangkan bahwa proses api ini merupakan bentuk kuasa Allah SWT, Dia pun berkuasa untuk menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati.
Sama seperti mufassir-mufassir di atas, Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya Marah Labid juga menekankan bahwa ayat 80 ini adalah bentuk perbandingan untuk kaum musyrik Mekah bahwa Allah SWT berkuasa untuk menghidupkan api dari pohon yang hijau, begitu pun Dia berkuasa untuk menghidupkan manusia dari tulang-belulang yang telah hancur.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 76: Boleh Bersedih, tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Lihat Juga :