Ubaidillah bin Ziyad, Minta Dibai'at sebagai Khalifah, Mati dengan Kepala Dipenggal
Senin, 21 Februari 2022 - 14:56 WIB
loading...
Ibnu Ziyad dalam tragedi Karbala mencocok-cocok dan memukul-mukul kepala al-Husein dengan tombak. (Foto/Ilustrasi: Ist)
A
A
A
Sejak Muawiyah bin Abu Sufyan memaksakan putranya yang sama sekali tidak kompeten, bahkan berbanding terbalik dengan kualifikasi para sahabat utama Nabi SAW, kewibawaan kursi khalifah terjun bebas. Hal ini digenapi pula dengan kebijakan-kebijakan Yazid bin Muawiyah yang kontra-produktif bahkan ngawur selama periode masa pemerintahannya.
Akbar Shah Najeebabadi dalam bukunya "The History Of Islam" menyebutkan tak ayal, semua orang akhirnya merasa layak menjadi khalifah, tak terkecuali Ubaidillah bin Ziyad, sosok yang kekejamannya sangat masyur di panggung sejarah.
Tanpa malu ia mendapuk dirinya sendiri menjadi khalifah kaum Muslimin dan mengambil bai’at dari masyarakat di Basrah dan Kufah, yang umumnya adalah mendukung Husein bin Ali.
Ibnu Ziyad jelas nekad. Luka atas tindakan dirinya dan pasukannya di Karbala belum lagi sembuh, dan sekarang mereka diminta untuk memberikan bai’atnya pada pembunuh junjungannya. Ini jelas kesalahan yang fatal.
Di Basrah, Ibn Ziyad berhasil mendapatkan bai’at. Tapi semua tahu, termasuk Ibn Ziyad sendiri, bahwa mereka tidak benar-benar tulus memberikannya. Sedang di Kufah, masyarakatnya terang-terangan menolak. Di tolak di Kufah, akhirnya ia berangkat ke Damaskus.
Baca juga: Kisah Bani Umayyah: Tragedi Karbala, Ketika Pembunuhan dan Pemerkosaan Nodai Madinah
Gubernur Kufah dan Bashrah
Ibnu Ziyad adalah gubernur Umayyah di Basra, Kufah dan Khurasan selama masa pemerintahan khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan dan Yazid bin Muawiyah.
Sayyid Hasan al-Husaini dalam buku berjudul "Hasan dan Husain the Untold Story" menjelaskan Ibnu Ziyad, adalah sosok gubernur yang zalim, berhati busuk, suka mencela para sahabat, dan membenci Ahlul Bait. Dialah yang menolak semua tawaran al-Husein karena lebih suka melihat cucu Nabi itu mati.
Dia pula yang mencocok-cocok dan memukul-mukul kepala al-Husain dengan tombak kecil miliknya. Setelah al-Mukhtar ats-Tsaqafi berhasil memerangi penduduk Kufah pada akhir tahun 61 Hijriyah, dia pun mengutus Ibrahim bin al-Asytar menyerang pasukan Ubaidillah bin Ziyad.
Dalam Tarikh Ibnu Khaldun disebutkan, pasukan Ibrahim kemudian berhadapan dengan pasukan Ubaidillah hingga peperangan hebat pun tidak bisa dielakkan. Dalam pertempuran itu pasukan Ubaidillah kalah.
Ubaidillah dan para pengikutnya mati terbunuh, di antaranya Hushain bin Numair. Kepala Ubaidillah kemudian dipenggal dan dibawa ke hadapan al-Mukhtar ats-Tsaqafi.
Akbar Shah Najeebabadi dalam bukunya "The History Of Islam" menyebutkan tak ayal, semua orang akhirnya merasa layak menjadi khalifah, tak terkecuali Ubaidillah bin Ziyad, sosok yang kekejamannya sangat masyur di panggung sejarah.
Tanpa malu ia mendapuk dirinya sendiri menjadi khalifah kaum Muslimin dan mengambil bai’at dari masyarakat di Basrah dan Kufah, yang umumnya adalah mendukung Husein bin Ali.
Ibnu Ziyad jelas nekad. Luka atas tindakan dirinya dan pasukannya di Karbala belum lagi sembuh, dan sekarang mereka diminta untuk memberikan bai’atnya pada pembunuh junjungannya. Ini jelas kesalahan yang fatal.
Di Basrah, Ibn Ziyad berhasil mendapatkan bai’at. Tapi semua tahu, termasuk Ibn Ziyad sendiri, bahwa mereka tidak benar-benar tulus memberikannya. Sedang di Kufah, masyarakatnya terang-terangan menolak. Di tolak di Kufah, akhirnya ia berangkat ke Damaskus.
Baca juga: Kisah Bani Umayyah: Tragedi Karbala, Ketika Pembunuhan dan Pemerkosaan Nodai Madinah
Gubernur Kufah dan Bashrah
Ibnu Ziyad adalah gubernur Umayyah di Basra, Kufah dan Khurasan selama masa pemerintahan khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan dan Yazid bin Muawiyah.
Sayyid Hasan al-Husaini dalam buku berjudul "Hasan dan Husain the Untold Story" menjelaskan Ibnu Ziyad, adalah sosok gubernur yang zalim, berhati busuk, suka mencela para sahabat, dan membenci Ahlul Bait. Dialah yang menolak semua tawaran al-Husein karena lebih suka melihat cucu Nabi itu mati.
Dia pula yang mencocok-cocok dan memukul-mukul kepala al-Husain dengan tombak kecil miliknya. Setelah al-Mukhtar ats-Tsaqafi berhasil memerangi penduduk Kufah pada akhir tahun 61 Hijriyah, dia pun mengutus Ibrahim bin al-Asytar menyerang pasukan Ubaidillah bin Ziyad.
Dalam Tarikh Ibnu Khaldun disebutkan, pasukan Ibrahim kemudian berhadapan dengan pasukan Ubaidillah hingga peperangan hebat pun tidak bisa dielakkan. Dalam pertempuran itu pasukan Ubaidillah kalah.
Ubaidillah dan para pengikutnya mati terbunuh, di antaranya Hushain bin Numair. Kepala Ubaidillah kemudian dipenggal dan dibawa ke hadapan al-Mukhtar ats-Tsaqafi.
Lihat Juga :