Ubaidillah bin Ziyad, Minta Dibai'at sebagai Khalifah, Mati dengan Kepala Dipenggal
Senin, 21 Februari 2022 - 14:56 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Konflik Bani Umayyah dan Bani Hasyim, Berkaca Peristiwa Damaskus Gantikan Madinah
Allah Ta'ala menakdirkan Ibnu Ziyad terbunuh pada hari Asyura (10 Muharram) tahun 67 Hijriyah, persis seperti hari kematian al-Husein di Karbala. Al-Mukhtar kemudian mengirim kepala Ibnu Ziyah ke Abdullah bin Zubair, lalu kepala itu dikirimkan kepada Ali bin al-Husein (Ali Zainal Abidin) (Al-Istii'ab).
Saat kepala Ubaidillah bin Ziyad dan para pengikutnya tiba, kepala-kepala tersebut disusun di pelataran masjid. Umarah bin Umari yang menuturkan kisah ini mengatakan, "Aku pun segera menghampiri kerumunan massa saat mereka mengatakan: "Ada ular datang, ada ular!"
Tanpa diduga, seekor ular datang lalu menyelinap di antara kepala-kepala tersebut hingga masuk ke dalam lubang hidung Ibnu Ziyad selama beberapa saat, lalu keluar lagi dan pergi entah ke mana. Tidak lama berselang, orang-orang kembali berteriak: "Ada ular, ada ular datang!" Ular itu melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, dan kejadian ini berulang hingga dua atau tiga kali" (At-Tirmidzi).
Kisah Tragis
Ada banyak riwayat yang mengisahkan hukuman Allah terhadap para pembunuh al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, dan sebagian besarnya merupakan kisah sahih.
Ibnu Katsir dalam bukunya berjudul al-Bidayah wan Nihayah menuturkan, sebagian besar riwayat tentang petaka yang menimpa para pembunuh al-Husein adalah sahih. Sedikit sekali dari mereka yang berhasil selamat dari petaka dunia. Tidak seorang pun dari mereka yang mati tanpa menderita sakit sebelumnya, dan kebanyakan mereka menderita penyakit gila."
"Aku mendengar perihal seorang laki-laki yang sengaja buang air besar di atas makam al-Husein bin Ali. Maka Allah menimpakan penyakit gila, lepra, sopak, dan berbagai penyakit serta musibah kepada keluarganya," tutur Al-A'masy dalam Tarikh Dimasyq.
Baca juga: Masjid Lumpur Bani Umayyah Ditemukan, Dibangun di Awal Islam
Menurut Ibnu Katsir, para pembunuh al-Husein dan ahlul baitnya juga menjadi buronan yang terus dikejar pasukan al-Mukhtar bin Abu Ubaid ats-Tsaqafi, seorang yang ingin menuntut balas atas kematian al-Husein dan ahlul baitnya pada tragedi Karbala. Akhirnya, pasukan ini berhasil menggelandang mereka satu per satu ke hadapan al-Mukhtar. Al-Mukhtar lantas memerintahkan untuk membunuh mereka dengan cara yang berbeda-beda, sesuai dengan kekejian mereka terhadap al-Husein ketika itu.
Salah seorang pembunuh bernama Syamr bin Dzul Jausyan, menurut az- Zarkali dalam al-Alam, dibunuh dalam sebuah penyergapan yang dilakukan pasukan al-Mukhtar. Ketika itu, Syamr menghadapi pasukan tersebut tanpa sempat mengenakan baju atau menyentuh pedangnya. Syamr memang sempat melukai mereka, namun Abu Umarah kemudian berhasil membunuhnya. Jasadnya lalu dilemparkan untuk makanan anjing.
Khauli bin Yazid al-Ashbahi juga mengalami nasib yang sama, ia dibunuh lalu jasadnya dibakar. Pasukan al-Mukhtar menghukumnya demikian karena dialah yang membawa kepala al-Husein.
Allah Ta'ala menakdirkan Ibnu Ziyad terbunuh pada hari Asyura (10 Muharram) tahun 67 Hijriyah, persis seperti hari kematian al-Husein di Karbala. Al-Mukhtar kemudian mengirim kepala Ibnu Ziyah ke Abdullah bin Zubair, lalu kepala itu dikirimkan kepada Ali bin al-Husein (Ali Zainal Abidin) (Al-Istii'ab).
Saat kepala Ubaidillah bin Ziyad dan para pengikutnya tiba, kepala-kepala tersebut disusun di pelataran masjid. Umarah bin Umari yang menuturkan kisah ini mengatakan, "Aku pun segera menghampiri kerumunan massa saat mereka mengatakan: "Ada ular datang, ada ular!"
Tanpa diduga, seekor ular datang lalu menyelinap di antara kepala-kepala tersebut hingga masuk ke dalam lubang hidung Ibnu Ziyad selama beberapa saat, lalu keluar lagi dan pergi entah ke mana. Tidak lama berselang, orang-orang kembali berteriak: "Ada ular, ada ular datang!" Ular itu melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, dan kejadian ini berulang hingga dua atau tiga kali" (At-Tirmidzi).
Kisah Tragis
Ada banyak riwayat yang mengisahkan hukuman Allah terhadap para pembunuh al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, dan sebagian besarnya merupakan kisah sahih.
Ibnu Katsir dalam bukunya berjudul al-Bidayah wan Nihayah menuturkan, sebagian besar riwayat tentang petaka yang menimpa para pembunuh al-Husein adalah sahih. Sedikit sekali dari mereka yang berhasil selamat dari petaka dunia. Tidak seorang pun dari mereka yang mati tanpa menderita sakit sebelumnya, dan kebanyakan mereka menderita penyakit gila."
"Aku mendengar perihal seorang laki-laki yang sengaja buang air besar di atas makam al-Husein bin Ali. Maka Allah menimpakan penyakit gila, lepra, sopak, dan berbagai penyakit serta musibah kepada keluarganya," tutur Al-A'masy dalam Tarikh Dimasyq.
Baca juga: Masjid Lumpur Bani Umayyah Ditemukan, Dibangun di Awal Islam
Menurut Ibnu Katsir, para pembunuh al-Husein dan ahlul baitnya juga menjadi buronan yang terus dikejar pasukan al-Mukhtar bin Abu Ubaid ats-Tsaqafi, seorang yang ingin menuntut balas atas kematian al-Husein dan ahlul baitnya pada tragedi Karbala. Akhirnya, pasukan ini berhasil menggelandang mereka satu per satu ke hadapan al-Mukhtar. Al-Mukhtar lantas memerintahkan untuk membunuh mereka dengan cara yang berbeda-beda, sesuai dengan kekejian mereka terhadap al-Husein ketika itu.
Salah seorang pembunuh bernama Syamr bin Dzul Jausyan, menurut az- Zarkali dalam al-Alam, dibunuh dalam sebuah penyergapan yang dilakukan pasukan al-Mukhtar. Ketika itu, Syamr menghadapi pasukan tersebut tanpa sempat mengenakan baju atau menyentuh pedangnya. Syamr memang sempat melukai mereka, namun Abu Umarah kemudian berhasil membunuhnya. Jasadnya lalu dilemparkan untuk makanan anjing.
Khauli bin Yazid al-Ashbahi juga mengalami nasib yang sama, ia dibunuh lalu jasadnya dibakar. Pasukan al-Mukhtar menghukumnya demikian karena dialah yang membawa kepala al-Husein.
Lihat Juga :