Khalifah Abdul Malik dan Kisah Cucu Abu Bakar yang Dipenggal Kepalanya
Selasa, 01 Maret 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Terkait pemilihan Hajjaj bin Yusuf ini, Ath-Thabari mengatakan bahwa Hajjaj sendiri yang meminta kepada Abdul Malik. Ia mengatakan pada Abdul Malik bahwa ia bermimpi mengalahkan Abdullah bin Zubair dan mengulitinya.
Abdul Malik kemudian berpesan pada Hajjaj bin Yusuf bahwa ia diperbolehkan melakukan apapun yang dianggapnya baik. Atau dengan kata lain, Hajjaj diberikan wewenang penuh atas misi ini.
Hajjaj bin Yusuf lalu berangkat menuju Mekkah, namun ia tidak melalui jalur biasa, melainkan menggunakan jalur ke Irak lalu memutar ke arah Mekkah. Dan pada bulan Sya’ban 72 H, dia tiba di Tha’if.
Pada kesempatan yang sama, sisa kekuatan Abdullah bin Zubair yang semula sudah bersiap menyambut serangan ini di Madinah, harus berkemas dan bergerak menunju Tha’if. Di Thaif perangpun tak dapat dihindarkan. Dalam pertempuran ini, armada yang merupakan kekuatan terakhir Abdulah bin Zubair hancur. Sedang di sisi lain, Hajjaj bin Yusuf juga mengalami kerugian yang besar.
Setelah pertempuran ini, Hajjaj bin Yusuf mengirim laporan kepada Abdul Malik tentang kemenangan dan juga kerugian yang dialaminya. Mendapat laporan ini, Abdul Malik pun mengirimkan pasukan tambahan sebanyak 5000 personil dari Damaskus untuk menggandakan kekuatan Hajjaj bin Yusuf.
Pasukan ini baru tiba pada bulan Zulqaidah atau hanya satu bulan sebelum bulan haji. Mereka langsung bergabung dengan pasukan sebelumnya dan membombardir kota Mekkah dengan ketapel. Menurut beberapa laporan, mereka hanya menghentikan penyerangan hanya pada musim haji, itupun atas permohonan Abdullah bin Umar.
Salama proses haji berlangsung, pasukan Hajjaj bin Yusuf tidak mengenakan ihram dan berkeliling kota Mekkah dengan menghunus pedang. Pada tahun 73 H, akhirnya pasukan Damaskus berhasil membunuh Abdullah bin Zubair. Cucu khalifah Abu Bakar ini ditusuk dengan pedang dan kepalanya dipenggal.
Baca juga: Konflik Bani Umayyah dan Bani Hasyim, Berkaca Peristiwa Damaskus Gantikan Madinah
Menaklukkan Binzantium
Setelah menjinakkan kekuatan Abdullah bin Zubair, praktis kekuasaan Dinasti Umayyah tidak memiliki saingan. Abdul Malik benar-benar berkuasa penuh layaknya seorang raja. Ia memiliki keleluasaan untuk berkreasi dan mengembangkan wilayahnya.
Pada masa inilah banyak progresivitas yang dilakukannya, baik dalam hal perluasan wilayah, maupun dalam manajemen administrasi pemerintahan. Wilayah penaklukan yang sebelumnya dimulai oleh Muawiyah bin Abu Sufyan, dilanjutkan lagi pada masa Abdul Malik.
Pasukan Bani Umayyah merangsek ke Eropa menaklukkan Binzantium, mengukuhkan kekuasaannya di Afrika Utara, dan meluaskan wilayah ke Timur hingga ke India dan Asia Tengah.
Abdul Malik kemudian berpesan pada Hajjaj bin Yusuf bahwa ia diperbolehkan melakukan apapun yang dianggapnya baik. Atau dengan kata lain, Hajjaj diberikan wewenang penuh atas misi ini.
Hajjaj bin Yusuf lalu berangkat menuju Mekkah, namun ia tidak melalui jalur biasa, melainkan menggunakan jalur ke Irak lalu memutar ke arah Mekkah. Dan pada bulan Sya’ban 72 H, dia tiba di Tha’if.
Pada kesempatan yang sama, sisa kekuatan Abdullah bin Zubair yang semula sudah bersiap menyambut serangan ini di Madinah, harus berkemas dan bergerak menunju Tha’if. Di Thaif perangpun tak dapat dihindarkan. Dalam pertempuran ini, armada yang merupakan kekuatan terakhir Abdulah bin Zubair hancur. Sedang di sisi lain, Hajjaj bin Yusuf juga mengalami kerugian yang besar.
Setelah pertempuran ini, Hajjaj bin Yusuf mengirim laporan kepada Abdul Malik tentang kemenangan dan juga kerugian yang dialaminya. Mendapat laporan ini, Abdul Malik pun mengirimkan pasukan tambahan sebanyak 5000 personil dari Damaskus untuk menggandakan kekuatan Hajjaj bin Yusuf.
Pasukan ini baru tiba pada bulan Zulqaidah atau hanya satu bulan sebelum bulan haji. Mereka langsung bergabung dengan pasukan sebelumnya dan membombardir kota Mekkah dengan ketapel. Menurut beberapa laporan, mereka hanya menghentikan penyerangan hanya pada musim haji, itupun atas permohonan Abdullah bin Umar.
Salama proses haji berlangsung, pasukan Hajjaj bin Yusuf tidak mengenakan ihram dan berkeliling kota Mekkah dengan menghunus pedang. Pada tahun 73 H, akhirnya pasukan Damaskus berhasil membunuh Abdullah bin Zubair. Cucu khalifah Abu Bakar ini ditusuk dengan pedang dan kepalanya dipenggal.
Baca juga: Konflik Bani Umayyah dan Bani Hasyim, Berkaca Peristiwa Damaskus Gantikan Madinah
Menaklukkan Binzantium
Setelah menjinakkan kekuatan Abdullah bin Zubair, praktis kekuasaan Dinasti Umayyah tidak memiliki saingan. Abdul Malik benar-benar berkuasa penuh layaknya seorang raja. Ia memiliki keleluasaan untuk berkreasi dan mengembangkan wilayahnya.
Pada masa inilah banyak progresivitas yang dilakukannya, baik dalam hal perluasan wilayah, maupun dalam manajemen administrasi pemerintahan. Wilayah penaklukan yang sebelumnya dimulai oleh Muawiyah bin Abu Sufyan, dilanjutkan lagi pada masa Abdul Malik.
Pasukan Bani Umayyah merangsek ke Eropa menaklukkan Binzantium, mengukuhkan kekuasaannya di Afrika Utara, dan meluaskan wilayah ke Timur hingga ke India dan Asia Tengah.
Lihat Juga :