Khalifah Yazid bin Walid: Kekuasaan 6 Bulan, Buah dari Kudeta Berdarah
Senin, 14 Maret 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Dari negeri Hims juga muncul rencana perebutan kekuasaan. Ketika mendengar terbunuhnya Khalifah Walid bin Yazid, para pendukungnya dari negeri Hims segera bergerak menuju Damaskus. Khalifah Yazid segera mengirimkan pasukan besar untuk menghalaunya. Pasukan Hims kalah dan sisa-sisa tentaranya kembali menyatakan baiat.
Salah satu anggota keluarga Umayyah yang sangat mencintai Walid II adalah Marwan bin Muhammad yang ketika itu menjabat gubernur di Asia Tengah. Ia datang bersama pasukannya ke Damaskus untuk membalas dendam kepada Yazid III. Namun Yazid III lagi-lagi berhasil membujuknya dalam sebuah negosiasi yang alot, serta membuatnya berbaiat pada Yazid III dan kembali tanpa terjadi pertempuran.
Akbar Shah Najeebabadi dalam bukunya berjudul "The History Of Islam" menyebutkan Marwan bin Muhammad diberi kekuasaan otonom yang mencakup wilayah Azarbaijan, Armenia dan Mosul.
Meski begitu Marwan bin Muhammad tetap memelihara api dalam sekam di dadanya. Ia secara seksama memantau perkembangan yang terjadi di Damaskus, dan secara tidak langsung menjadi oposisi pemerintahan Yazid III.
Tampaknya, fanatisme kesukuan benar-benar telah mewabahi pemerintahan Yazid III. Di samping usaha perebutan kekuasaan di atas, dari lembah Irak juga muncul gejolak. Namun gubernurnya berhasil meredam gejolak masyarakat. Penduduk Yamamah juga demikian. Mereka berusaha melakukan kudeta terhadap gubernurnya.
Baca juga: Khalifah Al-Walid bin 'Abdul-Malik, Ketika Upeti Membanjiri Dinasti Umayyah
Gejolak di wilayah Khurasan justru lebih parah. Gubernur Nushair bin Sayyaf menolak keinginan Khalifah Yazid yang ingin mengalihkan jabatannya pada Panglima Manshur bin Jamhur. Konflik berdarah pun terjadi.
Keadaan pemerintahan Khalifah Yazid semakin tak menentu. Gerakan Abbasiyah yang sejak beberapa tahun terakhir mulai muncul, makin berani unjuk diri. Beragam kerusuhan itu berakibat pukulan batin dari diri Khalifah Yazid.
Ia meninggal pada 7 Dzulhijjah 126 Hijriyah setelah sebelumnya mengalami kelumpuhan fisik. Ada yang mengatakan ia meninggal karena penyakit tha'un. Para sejarawan berbeda pendapat tentang usianya ketika wafat. Ada yang mengatakan ia wafat pada usia 46 dan ada pula yang mengatakan ia wafat pada usia 37 tahun.
Masa pemerintahannya hanya 6 bulan. Ia wafat tanpa meninggalkan jejak emas berarti. Bahkan ia mewariskan beragam permasalahan yang kelak berujung pada berakhirnya kejayaan Daulah Umayyah.
Baca juga: Kisah Khalifah Muawiyah Mengganti Sistem Demokratis ke Monarki
Salah satu anggota keluarga Umayyah yang sangat mencintai Walid II adalah Marwan bin Muhammad yang ketika itu menjabat gubernur di Asia Tengah. Ia datang bersama pasukannya ke Damaskus untuk membalas dendam kepada Yazid III. Namun Yazid III lagi-lagi berhasil membujuknya dalam sebuah negosiasi yang alot, serta membuatnya berbaiat pada Yazid III dan kembali tanpa terjadi pertempuran.
Akbar Shah Najeebabadi dalam bukunya berjudul "The History Of Islam" menyebutkan Marwan bin Muhammad diberi kekuasaan otonom yang mencakup wilayah Azarbaijan, Armenia dan Mosul.
Meski begitu Marwan bin Muhammad tetap memelihara api dalam sekam di dadanya. Ia secara seksama memantau perkembangan yang terjadi di Damaskus, dan secara tidak langsung menjadi oposisi pemerintahan Yazid III.
Tampaknya, fanatisme kesukuan benar-benar telah mewabahi pemerintahan Yazid III. Di samping usaha perebutan kekuasaan di atas, dari lembah Irak juga muncul gejolak. Namun gubernurnya berhasil meredam gejolak masyarakat. Penduduk Yamamah juga demikian. Mereka berusaha melakukan kudeta terhadap gubernurnya.
Baca juga: Khalifah Al-Walid bin 'Abdul-Malik, Ketika Upeti Membanjiri Dinasti Umayyah
Gejolak di wilayah Khurasan justru lebih parah. Gubernur Nushair bin Sayyaf menolak keinginan Khalifah Yazid yang ingin mengalihkan jabatannya pada Panglima Manshur bin Jamhur. Konflik berdarah pun terjadi.
Keadaan pemerintahan Khalifah Yazid semakin tak menentu. Gerakan Abbasiyah yang sejak beberapa tahun terakhir mulai muncul, makin berani unjuk diri. Beragam kerusuhan itu berakibat pukulan batin dari diri Khalifah Yazid.
Ia meninggal pada 7 Dzulhijjah 126 Hijriyah setelah sebelumnya mengalami kelumpuhan fisik. Ada yang mengatakan ia meninggal karena penyakit tha'un. Para sejarawan berbeda pendapat tentang usianya ketika wafat. Ada yang mengatakan ia wafat pada usia 46 dan ada pula yang mengatakan ia wafat pada usia 37 tahun.
Masa pemerintahannya hanya 6 bulan. Ia wafat tanpa meninggalkan jejak emas berarti. Bahkan ia mewariskan beragam permasalahan yang kelak berujung pada berakhirnya kejayaan Daulah Umayyah.
Baca juga: Kisah Khalifah Muawiyah Mengganti Sistem Demokratis ke Monarki
(mhy)
Lihat Juga :