Surat Al-Jumu’ah Ayat 9, Dalil Perintah Sholat Jumat
Kamis, 17 Maret 2022 - 14:43 WIB
loading...
A
A
A
Dalam Rawa’i’ul Bayan, ‘Ali As-Shabuni mengutip pendapat Pakar Bahasa, yakni Al-Farra’ bahwa as-sa’yu (asal dari fas’au) bukan berarti tergesa-gesa dengan berlarian. Melainkan bergegas melaksanakan sholat dengan sungguh-sungguh dan semangat. Ini sesuai dengan sabda Nabi yang diriwayatkan Abu Hurairah:
اِذَا سَمِعْتُمْ الإِقَامَةَ فَامْشُوا اِلىَ الصَّلاَةِ، وَعَلَيْكُمْ السَّكِيْنَةُ وَالْوَقَارُ، وَلَا تُسْرِعُوا، فَمَا اَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا رواه البخاري
“Jika kalian mendengar iqamah, maka jalanlah menuju ke sana. Dan wajib bagi kalian untuk tetap tenang dan anggun, dan janganlah kalian tergesa-gesa. Maka, jika kalian mendapati (sholat masih dilaksanakan), segeralah sholat. Jika kalian ketinggalan, maka sempurnakanlah.” ( HR Al-Buhkari )
Dipilihnya Hari Jumat
Pada mulanya, Hari Jumat yang kita kenal sekarang bernama ‘Arubah. Dulu, Hari ‘Arubah dijadikan kebiasaan oleh masyarakat Arab untuk memamerkan segala yang mereka miliki, seperti hasil dagangan, syair, sihir, dan lainnya. Kemudian, saat Islam datang, nama-nama hari yang digunakan pada masa jahiliyah mengalami perubahan.
Baca juga: Amalan Jumat, Baca Sholawat 1000 Kali Kelak Diperlihatkan Kedudukannya di Surga
Orang yang pertama kali mengubahnya menjadi Jumat adalah Ka’ab bin Luay. Sebelum kedatangan Nabi ke Madinah, penduduk di sana berkumpul dan membahas perihal Ahli Kitab yang memiliki hari tertentu sebagai waktu berkumpul. Lalu mereka bersepakat menjadikan Hari ‘Arubah sebagai hari berkumpulnya umat Islam untuk beribadah dan mengganti nama ‘Arubah menjadi Jumat.
Ada tiga versi cara membaca kata jumat dalam bahasa Arab, yaitu jumu’ah, jum’ah, dan juma’ah. Namun, penyebutan yang populer adalah jumu’ah. Menurut Al-Farra’, ketiga bacaan tersebut merupakan sifat hari, artinya berkumpulnya manusia.
Demikian pula mengenai asal penamaan kata Jumat, ada banyak pendapat. Pendapat yang lebih sahih, seperti yang tertera dalam riwayat Imam Ahmad bahwa Allah menghimpun penciptaan Nabi Adam as pada hari itu.
Tinggalkan Aktivitas Dagang
Selanjutnya, pada ayat di atas, Allah juga mengingatkan hamba-Nya agar meninggalkan aktivitas jual beli saat panggilan salat dikumandangkan. Hal ini karena saat hari mulai siang, orang-orang Islam masih terbawa kebiasaan penduduk Arab sebelumnya yang melakukan aktivitas seperti berdagang. Sehingga, Allah mengajak mereka untuk bersegera dalam aktivitas transaksi akhirat dan meninggalkan transaksi dunia sampai salat selesai dilaksanakan.
As-Shabuni menyebutkan, larangan ini tidak hanya berlaku untuk jual beli, tetapi berlaku juga untuk aktivitas muamalah yang lain, seperti sewa-menyewa, pinjaman, pesanan, dan lainnya.
اِذَا سَمِعْتُمْ الإِقَامَةَ فَامْشُوا اِلىَ الصَّلاَةِ، وَعَلَيْكُمْ السَّكِيْنَةُ وَالْوَقَارُ، وَلَا تُسْرِعُوا، فَمَا اَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا رواه البخاري
“Jika kalian mendengar iqamah, maka jalanlah menuju ke sana. Dan wajib bagi kalian untuk tetap tenang dan anggun, dan janganlah kalian tergesa-gesa. Maka, jika kalian mendapati (sholat masih dilaksanakan), segeralah sholat. Jika kalian ketinggalan, maka sempurnakanlah.” ( HR Al-Buhkari )
Dipilihnya Hari Jumat
Pada mulanya, Hari Jumat yang kita kenal sekarang bernama ‘Arubah. Dulu, Hari ‘Arubah dijadikan kebiasaan oleh masyarakat Arab untuk memamerkan segala yang mereka miliki, seperti hasil dagangan, syair, sihir, dan lainnya. Kemudian, saat Islam datang, nama-nama hari yang digunakan pada masa jahiliyah mengalami perubahan.
Baca juga: Amalan Jumat, Baca Sholawat 1000 Kali Kelak Diperlihatkan Kedudukannya di Surga
Orang yang pertama kali mengubahnya menjadi Jumat adalah Ka’ab bin Luay. Sebelum kedatangan Nabi ke Madinah, penduduk di sana berkumpul dan membahas perihal Ahli Kitab yang memiliki hari tertentu sebagai waktu berkumpul. Lalu mereka bersepakat menjadikan Hari ‘Arubah sebagai hari berkumpulnya umat Islam untuk beribadah dan mengganti nama ‘Arubah menjadi Jumat.
Ada tiga versi cara membaca kata jumat dalam bahasa Arab, yaitu jumu’ah, jum’ah, dan juma’ah. Namun, penyebutan yang populer adalah jumu’ah. Menurut Al-Farra’, ketiga bacaan tersebut merupakan sifat hari, artinya berkumpulnya manusia.
Demikian pula mengenai asal penamaan kata Jumat, ada banyak pendapat. Pendapat yang lebih sahih, seperti yang tertera dalam riwayat Imam Ahmad bahwa Allah menghimpun penciptaan Nabi Adam as pada hari itu.
Tinggalkan Aktivitas Dagang
Selanjutnya, pada ayat di atas, Allah juga mengingatkan hamba-Nya agar meninggalkan aktivitas jual beli saat panggilan salat dikumandangkan. Hal ini karena saat hari mulai siang, orang-orang Islam masih terbawa kebiasaan penduduk Arab sebelumnya yang melakukan aktivitas seperti berdagang. Sehingga, Allah mengajak mereka untuk bersegera dalam aktivitas transaksi akhirat dan meninggalkan transaksi dunia sampai salat selesai dilaksanakan.
As-Shabuni menyebutkan, larangan ini tidak hanya berlaku untuk jual beli, tetapi berlaku juga untuk aktivitas muamalah yang lain, seperti sewa-menyewa, pinjaman, pesanan, dan lainnya.
Lihat Juga :