Kisah An-Nadhr Ibn Harits, Tantang Rasulullah SAW Ditimpa Hujan Batu
Selasa, 12 April 2022 - 03:00 WIB
loading...
A
A
A
Lalu, ia pun pulang ke Mekkah, dan membuat acara khusus dengan mengumpulkan banyak orang termasuk Nabi Muhammad. Dalam acaranya itu, ia bertanya kepada Rasulullah SAW.
“Wahai Muhammad, jika kamu benar-benar nabi utusan tuhan, tentu kamu bisa menjawab tiga pertanyaanku ini. Kamu bersedia?”
“Katakanlah, apa itu?!” jawab Rasulullah.
“Pertama; Tahukah kamu tentang sekelompok pemuda yang mengasingkan dirinya demi menjaga iman-akidahnya? Kedua, tahukah kamu tentang seorang raja yang kekuasaannya meliputi barat hingga timur? Ketiga, bisakah menjelaskan tentang hakikat Ruh?”
“Pemuda itu dikenal dengan Ashabul Kahfi,” jawab Nabi Muhammad. Lalu secara detail dibacakanlah Surah Al-Kahfi ayat 9 hingga 26.
“Raja Tersebut bernama Dzulqarnain,” lanjut Rasulullah SAW. Kemudian untuk detailnya, dibacakanlah Surah Al-Kahfi ayat 83 hingga 101.
“Adapun soal hakikat Ruh, itu urusan Allah Ta’ala. Sementara manusia tidaklah diberi pengetahuan, melainkan hanya sedikit,” jawab Nabi Muhammad untuk pertanyaan ketiga. Kemudian, tanpa mendetailkan, dibacakanlah Surah Al-Isra’ ayat 85.
An-Nadhr merasa upayanya menghentikan dakwah Nabi gagal total. Bahkan, saban hari pengaruh dan pengikut Rasulullah kian banyak.
Baca juga: Abu Jahal, Sang Penyulut yang Tewas dalam Perang Badar
Saking malu serta marahnya, Nadhr kemudian makin dahsyat pula kedengkian serta kekufurannya terhadap Nabi Muhammad. Lantas An-Nadhr mengumpulkan orang lebih banyak dan lebih besar lagi. Tentu, diundang pula Nabi Muhammad pada acaranya tersebut.
“Wahai Muhammad, jika kamu benar-benar nabi utusan tuhan, tentu kamu bisa menjawab tiga pertanyaanku ini. Kamu bersedia?”
“Katakanlah, apa itu?!” jawab Rasulullah.
“Pertama; Tahukah kamu tentang sekelompok pemuda yang mengasingkan dirinya demi menjaga iman-akidahnya? Kedua, tahukah kamu tentang seorang raja yang kekuasaannya meliputi barat hingga timur? Ketiga, bisakah menjelaskan tentang hakikat Ruh?”
“Pemuda itu dikenal dengan Ashabul Kahfi,” jawab Nabi Muhammad. Lalu secara detail dibacakanlah Surah Al-Kahfi ayat 9 hingga 26.
“Raja Tersebut bernama Dzulqarnain,” lanjut Rasulullah SAW. Kemudian untuk detailnya, dibacakanlah Surah Al-Kahfi ayat 83 hingga 101.
“Adapun soal hakikat Ruh, itu urusan Allah Ta’ala. Sementara manusia tidaklah diberi pengetahuan, melainkan hanya sedikit,” jawab Nabi Muhammad untuk pertanyaan ketiga. Kemudian, tanpa mendetailkan, dibacakanlah Surah Al-Isra’ ayat 85.
An-Nadhr merasa upayanya menghentikan dakwah Nabi gagal total. Bahkan, saban hari pengaruh dan pengikut Rasulullah kian banyak.
Baca juga: Abu Jahal, Sang Penyulut yang Tewas dalam Perang Badar
Saking malu serta marahnya, Nadhr kemudian makin dahsyat pula kedengkian serta kekufurannya terhadap Nabi Muhammad. Lantas An-Nadhr mengumpulkan orang lebih banyak dan lebih besar lagi. Tentu, diundang pula Nabi Muhammad pada acaranya tersebut.
Lihat Juga :