Puasa Lahir Batin Menurut Imam Abul Qashim al-Qusyairi

Selasa, 12 April 2022 - 14:52 WIB
loading...
Puasa Lahir Batin Menurut...
Puasa batin adalah puasanya hati (qalb) dari segala penyakitnya; puasa jiwa (ruh) dari semua bentuk kenyamanan dan ketenangan; puasa sirr dari segala bentuk pengawasan. Foto/Ilustrasi: SINDOnews
A A A
Puasa itu ada dua: puasa lahir dan puasa batin. Abul Qashim al-Qusyairi an-Naisaburi dalam bukunya berjudul "Lathaif al-Isyarat" menjelaskan puasa lahir sebatas menahan (dari lapar dan dahaga) dari segala sesuatu yang membatalkan disertai dengan niat.

Sementara puasa batin adalah puasanya hati (qalb) dari segala penyakitnya; puasa jiwa (ruh) dari semua bentuk kenyamanan dan ketenangan; puasa sirr dari segala bentuk pengawasan.

Baca juga: Puasa Kaum Sufi: Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Haus

Al-Qusyairi juga menjelaskan, "Bagi siapa yang sekadar menahan sesuatu yang membatalkan maka akhir dari puasanya ketika tersingkapnya malam. Dan siapa yang puasa menahan diri beragam kecemburuan (aghyar), maka puncak puasanya dengan menyaksikan al-Haqq".

Ini seperti isyarat hadis Nabi Muhammad SAW , “Shumu wa afthiru li ruyatihi.” Penggalan hadis ini dalam pandangan kaum sufi memiliki makna yang berbeda dari makna lahiriahnya. Huruf ha dhamir di akhir kalimat ini merujuk kepada Allah SWT.

Demikian pula pernyataan terakhir di atas secara lahir diartikan dengan: “Berpuasalah kalian ketika melihat hilal (bulan) Ramadhan, dan berbukalah tatkala melihat hilal bulan Syawal.”

Sementara itu, bagi kaum khawas (khusus) maka puasa mereka benar-benar untuk Allah SWT. Karena mereka menyaksikan Allah, berbuka bersama-Nya, penerimaan mereka karena Allah, dan mereka senantiasa diliputi Allah.

Pada ayat berikutnya, penafsiran Al-Qusyairi pun beranjak pada penentuan masa atau waktu (QS. Al-Baqarah [2]: 184). Dalam hal ini, Al-Qusyairi membagi tipologi puasa beserta karakteristiknya masing-masing:

Baca juga: Tiga Tingkatan Puasa Menurut Al-Ghazali

Pertama, siapa yang melihat bulan (Ramadhan) maka dia akan berpuasa karena Allah, dan dia pun berhak mendapatkan pahala. Puasa karena Allah itu juga menegaskan penghambaan kepada-Nya. Dia menjadi sifat setiap hamba. Puasa lahiriah ini sekadar menegakkan aspek-aspek lahiriah semata, seperti syarat dan rukunnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Mengembalikan Kemuliaan...
Mengembalikan Kemuliaan Nuzulul Qur'an dengan Kesalehan Ritual dan Sosial
Kisah Sufi: Namus Si...
Kisah Sufi: Namus Si Agas dan Gajah,  Ilustrasi Tajam tentang Kesia-siaan Hidup
Kisah Sufi: Putri yang...
Kisah Sufi: Putri yang Tidak Patuh dan Raja yang Terbatas Pikirannya
Kisah Sufi: Segala Kebajikan...
Kisah Sufi: Segala Kebajikan Dijalankan, Sayangnya Kurang Perhatian
Kisah Sufi:  Penyusunan...
Kisah Sufi:  Penyusunan Tradisi, Bermula ketika Darwis Mengupas Bawang
Kisah Sufi: Si Bebal...
Kisah Sufi: Si Bebal di Kota Agung yang Bangunnya Keliru
Rekomendasi
10 Tsunami Terbesar...
10 Tsunami Terbesar Setinggi Puluhan Meter yang Pernah Terjadi
Ini Penyebab Lautan...
Ini Penyebab Lautan Pertama di Bumi Tidak Berwarna Biru
Masjid Istiqlal Gelar...
Masjid Istiqlal Gelar Salat Gerhana Bulan, Ini Waktunya
Artikel Terkini
Larangan Menikah di...
Larangan Menikah di Bulan Suro: Bagaimana Pandangan Islam?
Doa Memasuki Tahun Baru...
Doa Memasuki Tahun Baru Islam, Jangan Lupa Diamalkan!
Samakah 1 Muharram dengan...
Samakah 1 Muharram dengan 1 Suro? Simak Penjelasannya di Sini!
Perlukah Melakukan Resolusi...
Perlukah Melakukan Resolusi Hidup di Tahun Baru Islam?
Siap-siap Memasuki Muharram,...
Siap-siap Memasuki Muharram, Ini 4 Keutamaan Bulan Haram Tersebut!
Lambaian Tangan PPIH...
Lambaian Tangan PPIH Iringi 5.499 Jemaah Haji Gelombang Kedua Tinggalkan Makkah
Infografis
Sebelum Islam Datang,...
Sebelum Islam Datang, Puasa Sudah Diwajibkan pada Umat Terdahulu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved