Kisah Amir bin Syurahabil Asy-Sya’bi, Dijadikan Pemancing Kecemburuan oleh Kaisar Romawi
Senin, 18 April 2022 - 14:26 WIB
loading...
A
A
A
“Tidak wahai amirul mukmin,” jawab Asy-Sya’bi.
“Kaisar Romawi itu berkata, ‘Saya heran kenapa orang Arab mau mengangkat raja selain orang ini (asy-Sya’bi)’?” ujar Khalifah.
Asy-Sya’bi berkomentar, “Dia berkata demikian karena belum pernah berjumpa dengan Anda. Andai saja dia pernah melihat Anda, tentulah dia tak akan berkata demikian.”
“Tahukah Anda, mengapa kaisar menulis surat seperti ini?” tanya Khalifah.
“Tidak wahai amirul mukmin,” jawab Asy-Sya’bi.
“Dia menulis surat seperti itu karena iri kepadaku lantaran memiliki pendamping sepertimu, lalu dia hendak memancing kecemburuanku sehingga aku akan menyingkirkan dirimu,” ujar Khalifah.
Ketika pernyataan Abdul Malik ini sampai ke telinga Justinian, dia berkata, “Demi Allah, memang tidak ada maksud dariku selain itu.”
Baca juga: Dia Tabiin yang Tak Pernah Tidur Malam, Ini Penyebabnya
Sifat Tawadhu
Asy-Sya’bi mampu meraih derajat ilmu yang setara dengan para ulama pada zamannya. Az-Zuhri berkata, “Sesungguhnya ulama itu ada empat, yaitu Sa’id bin Musayyab di Madinah, Amir bin Syurahabil di Kufah, Hasan Al-Bashri di Bashrah dan Makhul di Syam.”
Hanya saja karena sifat tawadhu’, beliau tidak suka bila ada yang menyebutnya alim (orang yang berilmu). Pernah salah seorang dari kaumnya berkata, “Jawablah wahai faqih, wahai ‘alim!” beliau berkata, “Janganlah memujiku dengan apa yang tidak ada padaku. Orang yang faqih adalah orang yang benar-benar menjauhi segala yang diharamkan Allah dan orang alim adalah orang yang takut kepada Allah. Manalah aku termasuk di dalamnya?”
Suatu ketika beliau ditanya tentang suatu masalah, beliau menjawab, “Umar bin Khathab berkata begini, Ali bin Abi Thalib berkata begini.” Maka penanya berkata, “Maka bagaimana pendapat Anda wahai Amru?”
Beliau tersenyum malu dan berkata, “Apa pula pentingnya kata-kataku bagimu padahal Anda sudah mendengar pendapat Umar dan Ali?”
“Kaisar Romawi itu berkata, ‘Saya heran kenapa orang Arab mau mengangkat raja selain orang ini (asy-Sya’bi)’?” ujar Khalifah.
Asy-Sya’bi berkomentar, “Dia berkata demikian karena belum pernah berjumpa dengan Anda. Andai saja dia pernah melihat Anda, tentulah dia tak akan berkata demikian.”
“Tahukah Anda, mengapa kaisar menulis surat seperti ini?” tanya Khalifah.
“Tidak wahai amirul mukmin,” jawab Asy-Sya’bi.
“Dia menulis surat seperti itu karena iri kepadaku lantaran memiliki pendamping sepertimu, lalu dia hendak memancing kecemburuanku sehingga aku akan menyingkirkan dirimu,” ujar Khalifah.
Ketika pernyataan Abdul Malik ini sampai ke telinga Justinian, dia berkata, “Demi Allah, memang tidak ada maksud dariku selain itu.”
Baca juga: Dia Tabiin yang Tak Pernah Tidur Malam, Ini Penyebabnya
Sifat Tawadhu
Asy-Sya’bi mampu meraih derajat ilmu yang setara dengan para ulama pada zamannya. Az-Zuhri berkata, “Sesungguhnya ulama itu ada empat, yaitu Sa’id bin Musayyab di Madinah, Amir bin Syurahabil di Kufah, Hasan Al-Bashri di Bashrah dan Makhul di Syam.”
Hanya saja karena sifat tawadhu’, beliau tidak suka bila ada yang menyebutnya alim (orang yang berilmu). Pernah salah seorang dari kaumnya berkata, “Jawablah wahai faqih, wahai ‘alim!” beliau berkata, “Janganlah memujiku dengan apa yang tidak ada padaku. Orang yang faqih adalah orang yang benar-benar menjauhi segala yang diharamkan Allah dan orang alim adalah orang yang takut kepada Allah. Manalah aku termasuk di dalamnya?”
Suatu ketika beliau ditanya tentang suatu masalah, beliau menjawab, “Umar bin Khathab berkata begini, Ali bin Abi Thalib berkata begini.” Maka penanya berkata, “Maka bagaimana pendapat Anda wahai Amru?”
Beliau tersenyum malu dan berkata, “Apa pula pentingnya kata-kataku bagimu padahal Anda sudah mendengar pendapat Umar dan Ali?”
Lihat Juga :