Kisah Umar bin Khattab yang Dianggap Sinting karena Sering Tertawa dan Menangis Sendiri
Rabu, 27 April 2022 - 03:00 WIB
loading...
Khalifah Umar bin Khattab sering tertawa dan menangin sendiri sehingga sempat dianggap gila atau setidak-tidaknya lupa ingatan. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Khalifah Umar Bin Khattab punya kisah yang cukup memilukan. Beliau sempat dianggap gila atau setidak-tidaknya lupa ingatan. Kala itu, orang menduga-duga, itu akibat dosa-dosa Umar yang bertumpuk semasa muda. Maklum saja, sebelum masuk Islam, Umar dikenal sangat temperamental. Dia jago gulat sehingga disegani di Mekkah.
KH Abdurrahman Arroisi, dalam buku berjudul “Kisah Teladan” menuturkan di masa sebelum memeluk Islam, Umar gemar mengamuk tanpa mengenal perikemanusiaan. Banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban. “Itulah yang mungkin telah menyiksa batinnya sehingga ia ditimpa penyakit jiwa,” pikir orang-orang ketika mendapati Umar sering kedapatan menangis sendirian. Dan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, juga sendirian. Itu sering dilakukan tiap selesai sholat.
Baca juga: Pidato Pelantikan Umar bin Khattab yang Menggetarkan
Abdurrahman bin Auf , sebagai salah seorang sahabat Umar yang paling akrab, merasa tersinggung dan sangat murung mendengar gunjingan itu. Apalagi, hampir semua rakyat Madinah telah sepakat menganggap Umar betul-betul sinting. Dan, sudah tentu, orang sinting tidak layak lagi memimpin umat atau negara.
Yang lebih mengejutkan rakyat, pada waktu melakukan sholat Jumat yang lalu, ketika sedang berada di mimbar untuk membacakan khutbahnya, sekonyong-konyong Umar berseru, "Hai Sariah, hai tentaraku. Bukit itu, bukit itu, bukit itu!" Jemaah pun geger. Sebab ucapan tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi khutbah yang disampaikan. "Wah, khalifah kita benar-benar sudah gila," gumam rakyat Madinah yang menjadi makmum sholat Jumat hari itu.
Tetapi Abdurrahman bin Auf tidak mau bertindak gegabah, ia harus tahu betul, apa sebabnya Umar berbuat begitu. Maka didatanginya Umar, dan ditanyainya.
"Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khutbah engkau seraya pandangan engkau menatap kejauhan?" tanya Abdurrahman.
Umar dengan tenang menjelaskan, "Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkan Sariah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaum pengacau. Tatkala aku sedang berkhutbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankan diri adalah sebuah bukit di belakang mereka. Maka aku berseru: bukit itu, bukit itu, bukit itu!"
Baca juga: Bidadari Hitam Manis untuk Umar Bin Khattab
Setengah tidak percaya, Abdurrahman mengerutkan kening. "Lalu, mengapa engkau juga sering menangis dan tertawa sendirian selesai melaksanakan sholat fardhu?" tanya Abdurrahman pula.
KH Abdurrahman Arroisi, dalam buku berjudul “Kisah Teladan” menuturkan di masa sebelum memeluk Islam, Umar gemar mengamuk tanpa mengenal perikemanusiaan. Banyak orang yang tidak bersalah menjadi korban. “Itulah yang mungkin telah menyiksa batinnya sehingga ia ditimpa penyakit jiwa,” pikir orang-orang ketika mendapati Umar sering kedapatan menangis sendirian. Dan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, juga sendirian. Itu sering dilakukan tiap selesai sholat.
Baca juga: Pidato Pelantikan Umar bin Khattab yang Menggetarkan
Abdurrahman bin Auf , sebagai salah seorang sahabat Umar yang paling akrab, merasa tersinggung dan sangat murung mendengar gunjingan itu. Apalagi, hampir semua rakyat Madinah telah sepakat menganggap Umar betul-betul sinting. Dan, sudah tentu, orang sinting tidak layak lagi memimpin umat atau negara.
Yang lebih mengejutkan rakyat, pada waktu melakukan sholat Jumat yang lalu, ketika sedang berada di mimbar untuk membacakan khutbahnya, sekonyong-konyong Umar berseru, "Hai Sariah, hai tentaraku. Bukit itu, bukit itu, bukit itu!" Jemaah pun geger. Sebab ucapan tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi khutbah yang disampaikan. "Wah, khalifah kita benar-benar sudah gila," gumam rakyat Madinah yang menjadi makmum sholat Jumat hari itu.
Tetapi Abdurrahman bin Auf tidak mau bertindak gegabah, ia harus tahu betul, apa sebabnya Umar berbuat begitu. Maka didatanginya Umar, dan ditanyainya.
"Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khutbah engkau seraya pandangan engkau menatap kejauhan?" tanya Abdurrahman.
Umar dengan tenang menjelaskan, "Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkan Sariah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaum pengacau. Tatkala aku sedang berkhutbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankan diri adalah sebuah bukit di belakang mereka. Maka aku berseru: bukit itu, bukit itu, bukit itu!"
Baca juga: Bidadari Hitam Manis untuk Umar Bin Khattab
Setengah tidak percaya, Abdurrahman mengerutkan kening. "Lalu, mengapa engkau juga sering menangis dan tertawa sendirian selesai melaksanakan sholat fardhu?" tanya Abdurrahman pula.
Lihat Juga :