Idul Fitri: Salah Satu Pengganti Hari Raya Masa Jahiliyah
Jum'at, 29 April 2022 - 16:22 WIB
loading...
A
A
A
Rasulullah SAW bersabda:
”Wahai Abu Bakar, setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita”.[Kedua hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Ibnu Majah]
Tentang Bu’ats, Imam Al-Baghawi dalam “Syarhus Sunnah” menjelaskan sebagai hari yang terkenal di antara hari-harinya bangsa Arab.
Baca juga: Merayakan Idul Fitri dalam Kesunyian
Pada hari itu suku Aus mendapatkan kemenangan yang besar dalam peperangan dengan suku Khazraj. Peperangan antara kedua suku ini berlangsung selama 120 tahun sampai datang Islam.
Syair yang didendangkan oleh kedua anak perempuan itu berisi penggambaran (tentang) peperangan dan keberanian serta menyinggung upaya untuk membantu tegaknya perkara agama.
Adapun nyanyian yang berisi kekejian, pengakuan berbuat haram dan menampakkan kemungkaran dengan terang-terangan melalui ucapan, adalah termasukg nyanyian yang dilarang. Tidak mungkin nyanyian seperti itu yang didendangkan di hadapan Nabi SAW lalu dilalaikan untuk mengingkarinya.
Sabda beliau: “Ini adalah hari raya kita”, beliau mengemukakan alasan dari Aisyah bahwa menampakkan kegembiraan pada dua hari raya merupakan syiar (slogan) agama ini, dan tidaklah hari raya itu seperti hari-hari lain”.
Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata: “Dalam hadits ini ada beberapa faedah, disyariatkan untuk memberikan kelapangan kepada keluarga pada hari-hari raya untuk melakukan berbagai hal yang dapat menyampaikan mereka pada kesenangan jiwa dan istirahatnya tubuh dari beban ibadah. Dan sesungguhnya berpaling dari hal itu lebih utama. Dalam hadis ini juga menunjukkan bahwa menampakkan kegembiraan pada hari-hari raya merupakan syiar agama.
Baca juga: Inilah Asal Mula Perayaan Idul Fitri
”Wahai Abu Bakar, setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita”.[Kedua hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Ibnu Majah]
Tentang Bu’ats, Imam Al-Baghawi dalam “Syarhus Sunnah” menjelaskan sebagai hari yang terkenal di antara hari-harinya bangsa Arab.
Baca juga: Merayakan Idul Fitri dalam Kesunyian
Pada hari itu suku Aus mendapatkan kemenangan yang besar dalam peperangan dengan suku Khazraj. Peperangan antara kedua suku ini berlangsung selama 120 tahun sampai datang Islam.
Syair yang didendangkan oleh kedua anak perempuan itu berisi penggambaran (tentang) peperangan dan keberanian serta menyinggung upaya untuk membantu tegaknya perkara agama.
Adapun nyanyian yang berisi kekejian, pengakuan berbuat haram dan menampakkan kemungkaran dengan terang-terangan melalui ucapan, adalah termasukg nyanyian yang dilarang. Tidak mungkin nyanyian seperti itu yang didendangkan di hadapan Nabi SAW lalu dilalaikan untuk mengingkarinya.
Sabda beliau: “Ini adalah hari raya kita”, beliau mengemukakan alasan dari Aisyah bahwa menampakkan kegembiraan pada dua hari raya merupakan syiar (slogan) agama ini, dan tidaklah hari raya itu seperti hari-hari lain”.
Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata: “Dalam hadits ini ada beberapa faedah, disyariatkan untuk memberikan kelapangan kepada keluarga pada hari-hari raya untuk melakukan berbagai hal yang dapat menyampaikan mereka pada kesenangan jiwa dan istirahatnya tubuh dari beban ibadah. Dan sesungguhnya berpaling dari hal itu lebih utama. Dalam hadis ini juga menunjukkan bahwa menampakkan kegembiraan pada hari-hari raya merupakan syiar agama.
Baca juga: Inilah Asal Mula Perayaan Idul Fitri
(mhy)
Lihat Juga :