Halalbihalal dalam Al-Quran: Perintah Lapang Dada dan Memberi Maaf

Sabtu, 07 Mei 2022 - 15:59 WIB
loading...
Halalbihalal dalam Al-Quran: Perintah Lapang Dada dan Memberi Maaf
Mushafahat (jabat tangan) adalah lambang kesediaan seseorang untuk membuka lembaran baru, dan tidak mengingat atau menggunakan lagi lembaran lama. Foto/Ilustrasi: SINDOnews
A A A
Al-shafh dalam berbagai bentuk terulang sebanyak delapan kali dalam Al-Quran . Kata ini pada mulanya berarti lapang. Halaman pada sebuah buku dinamai shafhat karena kelapangan dan keluasannya.

M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan Al-Qur’an , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" menjelaskan al-shafh dapat diartikan kelapangan dada. "Berjabat tangan dinamai mushafahat karena melakukannya menjadi perlambang kelapangan dada," jelasnya.

Dari delapan kali bentuk al-shafh yang dikemukakan, empat di antaranya didahului oleh perintah memberi maaf.

Baca juga: Halalbihalal dalam Al-Qur'an: Begini Makna Minal 'Aidin Wal Faizin

Perhatikan ayat-ayat berikut:

Apabila kamu memaafkan, dan melapangkan dada serta melindungi, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang ( QS Al-Thaghabun [64] : 14 ).

Hendaklah mereka memaafkan dan melapangkan dada! Apakah kamu tidak ingin diampuni oleh Allah? ( QS Al-Nur [24] : 22)

Maafkanlah mereka dan lapangkan dada. Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya) ( QS Al-Ma-idah [5] : l3 . Juga baca surat Al-Baqarah [2] : 109 ).

Ulama-ulama Al-Quran seperti Ar-Raghib Al-Isfahani menyatakan bahwa al-shafa lebih tinggi kedudukannya dari al-'afw (maaf). Pernyataan yang dikemukakan itu, kata Quraish, dapat dipahami melalui alasan kebahasaan sebagai berikut.

Kata al-shafh lahirlah shafhat yang berarti halaman. "Jika Anda memiliki selembar kertas yang ditulisi suatu kesalahan, lantas kesalahan itu ditulis dengan pensil, Anda tentu dapat mengambil penghapus karet untuk menghapusnya. Seperti demikianlah ketika Anda melakukan 'afw (memberi maaf). Seandainya kesalahan pada kertas itu ditulis dengan tinta, tentu Anda akan menghapusnya dengan Tipp Ex agar tidak terlihat lagi, dan di sini Anda melakukan takfir," katanya.

Menurut Quraish, betapapun Anda menghapus bekas kesalahan, namun pasti sedikit banyak, lembaran tersebut tidak lagi sama sepenuhnya dengan lembaran baru. Malah barangkali kertas itu menjadi kusut. Nah, di sinilah letak perbedaan antara al-shafh yang mengandung arti lapang dan lembaran baru dengan takfir. Al-Shafh menuntut seseorang untuk membuka lembaran baru hingga sedikit pun hubungan tidak ternodai, tidak kusut, dan tidak seperti halaman yang telah dihapus kesalahannya.

Baca juga: Sejarah Munculnya Istilah Halal Bihalal di Indonesia

Mushafahat (jabat tangan) adalah lambang kesediaan seseorang untuk membuka lembaran baru, dan tidak mengingat atau menggunakan lagi lembaran lama. Sebab, walaupun kesalahan telah dihapus, kadang-kadang masih saja ada kekusutan masalah.

Tadi telah dikemukakan bahwa memberi maaf dilanjutkan dengan perintah al-shafh. Perintah memaafkan tetap diperlukan, karena tidak mungkin membuka lembaran baru dengan membiarkan lembar yang telah ada kesalahannya tanpa terhapus. Itu sebabnya ayat-ayat yang memerintahkan al-shafh tetapi tidak didahului oleh perintah memberi maaf, dirangkaikan dengan jamil yang berarti indah.

Selain itu, al-shafh juga dirangkaikan dengan perintah menyatakan kedamaian dan keselamatan bagi semua pihak (perhatikan firman-Nya dalam Al-Quran surat Al-Hijr [15] : 85, serta Al-Zukhruf [43] : 89):

Berlapang dadalah terhadap mereka dengan cara yang baik (Al-Hijri [5]: 85).

Berlapang dadalah terhadap mereka dengan mengatakan salam/kedamaian (QS Al-Zukhruf [43]: 84 ).

Baca juga: Halal Bihalal Menurut Al-Quran: Tak Ada Alasan untuk Bilang Tiada Maaf Bagimu
(mhy)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2351 seconds (11.252#12.26)