Kisah Sayyidah Raihanah, Ketika Harus Memilih Jadi Budak atau Istri Rasulullah SAW
Senin, 09 Mei 2022 - 12:41 WIB
loading...
A
A
A
“Kalau kau mau, aku akan memerdekakanmu. Kemudian menikahimu dan telah kulakukan. Tapi, jika kau lebih suka menjadi kepemilikanku akan aku turuti. Dan telah kulakukan.”
Raihanah menjawab,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ أَخَفُّ عَلَيْكَ وَعَلَيَّ أَنْ أَكُونَ فِي مِلْكِكَ
“Wahai Rasulullah, sungguh lebih ringan untuk Anda dan untukku kalau aku berada di bawah kepemilikanmu.”
Beda Pendapat
Apakah Raihanah seorang Ummul Mukminin? Para ulama berbeda pendapat apakah Raihanah termasuk istri Rasulullah SAW ataukah budak beliau. Mereka yang berpendapat bahwa Raihanah ra adalah budak beliau berargumen dengan riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa Raihanah sendiri yang lebih memilih untuk menjadi budak beliau dibanding istri beliau.
Demikian juga diriwayatkan dari Ibnu Sirin (seoran tabi’in) bahwa ada seseorang menemui Raihanah ra. Orang tersebut berkata, “Sesungguhnya Allah tidak menghendakimu sebagai ibu dari orang-orang yang beriman.”
Raihanah menjawab, “(dengan demikian) engkau tidak Allah kehendaki menjadi anakku.”
Jawaban Raihanah ini sebagaimana disebut dalam buku "Nisa Ahlul Baits" karya Ahmad Khalil Jum’ah, menunjukkan bahwa ia bukanlah istri nabi.
Baca juga: Cemburu Berat Istri-Istri Nabi dengan Mariyah al-Qibthiyah
Di antara sejarawan yang berpendapat bahwa Raihanah istri Nabi adalah al-Waqidi. Ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerdekakan Raihanah binti Zaid bin Amr bin Khunafah. Dan saat itu ia telah menikah. Suaminya mencintai dan memuliakannya.
Ia berkata, ‘Aku tidak akan minta dijaga (bersuamikan) siapapun setelahnya’.
Ia adalah seorang wanita yang cantik. Tatkala ia menjadi tawanan dari Bani Quraizah, ia dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Aku termasuk di antara orang yang dihadapkan padanya. Ia memerintahkan agar aku dipisah. Ia memiliki bagian dari setiap rampasan perang. Saat aku dipisah, Allah membuatku tunduk. Aku ditempatkan di rumah Ummul Mundzir binti Qais selama beberapa hari. Sampai eksekusi kepada pasukan Bani Quraizhah usai dan tawanan dipisahkan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menemuiku. Aku merasa sangat malu. Beliau mendakwahiku di hadapannya. Beliau bersabda,
Raihanah menjawab,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ أَخَفُّ عَلَيْكَ وَعَلَيَّ أَنْ أَكُونَ فِي مِلْكِكَ
“Wahai Rasulullah, sungguh lebih ringan untuk Anda dan untukku kalau aku berada di bawah kepemilikanmu.”
Beda Pendapat
Apakah Raihanah seorang Ummul Mukminin? Para ulama berbeda pendapat apakah Raihanah termasuk istri Rasulullah SAW ataukah budak beliau. Mereka yang berpendapat bahwa Raihanah ra adalah budak beliau berargumen dengan riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa Raihanah sendiri yang lebih memilih untuk menjadi budak beliau dibanding istri beliau.
Demikian juga diriwayatkan dari Ibnu Sirin (seoran tabi’in) bahwa ada seseorang menemui Raihanah ra. Orang tersebut berkata, “Sesungguhnya Allah tidak menghendakimu sebagai ibu dari orang-orang yang beriman.”
Raihanah menjawab, “(dengan demikian) engkau tidak Allah kehendaki menjadi anakku.”
Jawaban Raihanah ini sebagaimana disebut dalam buku "Nisa Ahlul Baits" karya Ahmad Khalil Jum’ah, menunjukkan bahwa ia bukanlah istri nabi.
Baca juga: Cemburu Berat Istri-Istri Nabi dengan Mariyah al-Qibthiyah
Di antara sejarawan yang berpendapat bahwa Raihanah istri Nabi adalah al-Waqidi. Ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerdekakan Raihanah binti Zaid bin Amr bin Khunafah. Dan saat itu ia telah menikah. Suaminya mencintai dan memuliakannya.
Ia berkata, ‘Aku tidak akan minta dijaga (bersuamikan) siapapun setelahnya’.
Ia adalah seorang wanita yang cantik. Tatkala ia menjadi tawanan dari Bani Quraizah, ia dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, “Aku termasuk di antara orang yang dihadapkan padanya. Ia memerintahkan agar aku dipisah. Ia memiliki bagian dari setiap rampasan perang. Saat aku dipisah, Allah membuatku tunduk. Aku ditempatkan di rumah Ummul Mundzir binti Qais selama beberapa hari. Sampai eksekusi kepada pasukan Bani Quraizhah usai dan tawanan dipisahkan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menemuiku. Aku merasa sangat malu. Beliau mendakwahiku di hadapannya. Beliau bersabda,
Lihat Juga :