Kisah Khalifah Al-Mahdi Taklukkan Konstantinopel, Harun Al-Rasyid Jadi Bintang Abbasiyah

loading...
Kisah Khalifah Al-Mahdi Taklukkan Konstantinopel, Harun Al-Rasyid Jadi Bintang Abbasiyah
Keberhasilan dalam ekspedisi ke wilayah Romawi membuat Harun menjadi bintang baru dalam peta politik Abbasiyah. Foto/Ilustrasi : Ist
Khalifah Al-Mahdi adalah khalifah ketiga Dinasti Abbasiyah (775-785 M). Nama dan nasabnya adalah Muhammad bin Abdullah (Al-Manshur) bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Dia biasa dipanggil Abu Abdullah dan bergelar Al-Mahdi.

Akbar Shah Najeebabadi dalam bukunya berjudul "The History Of Islam" menceritakan pada 160 H, atau di tahun keduanya sebagai khalifah, Al-Mahdi mengirimkan sebuah ekspedisi militer ke India, yang dipimpin oleh jenderal bernama Abdul Malik bin Shahab Masmai. Mereka berhasil mencapai pantai India, di sebuah tempat bernama Arbad/Barbad. Di tempat itu mereka bertempur dengan pasukan setempat, dan berhasil mendapat kemenangan gemilang.

Tapi tak lama setelah itu, mereka terserang wabah, yang merenggut nyawa sekitar 1000 orang tentara Abbasiyah. Kondisi ini membuat Abdul Malik memutuskan tidak melanjutkan ekspedisi lebih jauh dan memilih kembali ke Persia. Tapi dalam perjalanan pulang, ketika hendak mencapai pantai Persia , mereka diserang badai, yang menyebabkan beberapa kapal mereka tenggelam. Hanya sedikit pasukan yang kembali dari ekspedisi ini. Dan ekspedisi itupun tidak dilanjutkan.

Baca juga: Kisah Khalifah Al-Mahdi Menumpas Kaum Zindiq, Hakim Al-Muqanna Mengaku Tuhan

Pada tahun 162 H, datang kabar dari wilayah Asia Kecil – yang ketika itu merupakan perbatasan antara Kekhalifahan Abbasiyah dengan Kekasiran Romawi – bahwa pasukan Bizantium berhasil merangsek masuk ke wilayah teritori Abbasiyah. Mereka bahkan telah berhasil menguasai sejumlah kota di wilayah tersebut.

Mendengar kabar ini, pada 163 H, Al-Mahdi mendeklarasikan jihad melawan Romawi. Dia memanggil sejumlah pasukan dari Khurasan dan provinsi lainnya untuk ikut serta dalam ekspedisi tersebut.

Kali ini, Al-Mahdi sendiri yang memimpin pasukan. Dia didampingi oleh putranya bernama Harun bin Al-Mahdi. Sedangkan putra mahkota, Musa bin Al-Mahdi, dia tugaskan menjalankan roda pemerintahan selama kepergiannya.

Buku The History of al-Tabari mengisahkan banyak tokoh militer dan prajurit kenamaan yang dibawa Al-Mahdi dalam ekspedisi ini. Mulai dari Isa bin Musa (mantan putra mahkota) hingga Hasan bin Qahtaba yang merupakan jenderal perang Khurasan pada masa revolusi Abbasiyah. Tapi yang terjadi kemudian, ekspedisi ini menjadi panggung bagi Harun bin Al-Mahdi menunjukkan kebolehannya di tengah para jenderal perang Abbasiyah.

SerangBizantium
Dia dipercaya Al-Mahdi untuk mengkomandoi pasukan, dan memimpin mereka menaklukkan kembali kota-kota yang sudah dikuasai oleh Romawi. Harun berhasil mengambil alih wilayah Abbasiyah, namun dia tidak bergerak lebih jauh lagi. Meski begitu, Al-Mahdi sangat bangga dengan keberhasilan ini. Dia mengangkat Harun menjadi penguasa Azarbaijan, Armenia dan seluruh wilayah barat.

Pada tahun 165 H, Harun kembali diperintahkan ayahnya untuk menyerang Bizantium. Kali ini dia dampingi oleh Al-Rabi, orang kepercayaan Al-Mahdi, berserta 100.000 prajurit terpilih. Dengan modal kekuatan sebesar ini, Harun berhasil menembus pertahanan Bizantium dan menghancurkan satu persatu kota mereka.

Baca juga: Kisah Khalifah Al-Mahdi Membangun Infrastruktur Mekkah, Masjidil Haram Ditaburi Parfum

Kemenangan yang dicapai Harun terbilang luar biasa. Ketika akhirnya mencapai Konstantinopel , ibu kota Bizantium, dia masih memiliki 95.793 prajurit, dengan hasil harta rampasan sebesar 194.450 dinar dalam bentuk emas, dan 21.414.800 dirham dalam bentuk perak.

Kala itu pemimpin tertinggi Romawi adalah Ratu Augusta (Barat: Irine), yang merupakan janda dari Kaisar Leo. Ratu Augusta terpaksa memimpin Romawi, karena putranya, yang tidak lain adalah pewaris tahta, masih berusia sangat muda. Sehingga dia untuk sementara waktu menggantikan tugas-tugas pemerintahan.

Melihat kekuatannya sudah terdesak, Ratu Augusta memutuskan berdamai. Harun pun memenuhi permintaan tersebut dengan syarat, bahwa Ratu akan memberikan akses seluas-luasnya pada kaum Muslimin untuk berdagang di wilayah kekuasaannya. Di samping itu, Bizantium dikenai kewajiban membayar upeti sebenar 90.000 atau 70.000 Dinar setiap tahun kepada Abbasiyah.

Maka demikianlah, ekspedisi militer yang pimpin Harun bin Al-Mahdi bisa dikatakan penaklukkan terbesar di era pemerintahan Al-Mahdi. Tidak main-main, yang ditaklukkannya adalah sebuah adidaya dunia yang sudah bertahan lebih 500 tahun. Dari hasil penaklukkan ini Harun berhasil membawa berton-ton harta kekayaan, termasuk juga hewan buas terlatih, kuda-kuda yang jumlahnya mencapai 20.000 ekor, ribuan sapi dan kambing, tekstil, hingga segala jenis persenjataan.

Keberhasilan dalam ekspedisi ini membuat Harun menjadi bintang baru dalam peta politik Abbasiyah. Namanya mulai dikenal luas dan sangat populer baik di kalangan rakyat dan juga elit Abbasiyah.

Al-Mahdi sangat gembira dan bangga pada putra keduanya ini. Pada tahun 166 H, atau segera setelah Harun kembali dari ekspedisi tersebut, dia segara dinobatkan sebagai putra mahkota yang kelak akan mengantikan kakaknya Musa bin Al-Mahdi.

Al-Mahdi meminta semua kalangan – khususnya para komandan militer – agar mematuhi wasiatnya ini, dan mulai sekarang sudah bersumpah setia pada putranya. Ketika itu pula, Harun mendapat julukan baru dari ayahnya, yaitu “Al-Rasyid”.

Pada tahun 167 H, dua penguasa wilayah Tabaristan bernama Wandahurmuz dan Sharvin, melakukan pemberontakan pada Dinasti Abbasiyah. Kali ini, Al-Mahdi mengirim putra mahkota Abbasiyah, Musa bin Al-Mahdi untuk memadamkannya.

Menurut Tabari, selama pemerintahan Al-Mahdi, belum ada ekspedisi militer yang demikian diatur secara langsung oleh khalifah sebagaimana pasukan ini. Pasukan yang dibawa Musa bin Al-Mahdi dilengkapi dengan senjata lengkap, dan berjumlah sangat besar.
halaman ke-1
preload video