Hari Kiamat, Sangkakala Ditiup Saat Manusia Sibuk dengan Dunianya
Senin, 23 Mei 2022 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A
Allah memperingatkan bahwa mereka tidak akan menunggu terlalu lama datangnya hari kebangkitan itu. Cukup dengan suatu teriakan aba-aba saja, yaitu suara tiupan pertama dari Sangkakala yang membawa kehancuran alam ini. Kemudian semua manusia dibangkitkan kembali dan dikumpulkan ke hadapan Allah untuk diperhitungkan segala perbuatannya.
Dalam Tafsir Kemenag dijelaskan bahwa manusia tidak akan menyadari kedatangan hari Kiamat. Mereka dimatikan secara tiba-tiba dalam keadaan saling berselisih dan berbantah-bantahan dalam urusan dunia. Peristiwa Kiamat atau kematian terjadi secara tiba-tiba karena keduanya terjadi bukan hasil kompromi antara Allah dengan manusia, tetapi karena kehendak dan kekuasaan Allah semata.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-thabari dari Ibnu 'Umar bahwa ia berkata: "Sangkakala benar-benar akan ditiup di saat keadaan manusia dalam kesibukan urusan mereka masing-masing di jalan, pasar, dan tempat mereka, hingga keadaan dua orang yang sedang tawar-menawar pakaian, misalnya, ketika pakaian belum sampai ke tangan salah seorang di antara mereka, maka tiba-tiba ditiupkan sangkakala, hingga mereka mati bergelimpangan semuanya. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah dalam ayat di atas.
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Hari Kiamat itu benar-benar akan terjadi pada saat dua orang sedang menggelar pakaian mereka (sambil tawar-menawar), dan keduanya tidak sempat berjual-beli dan melipat kembali. Hari Kiamat itu benar-benar akan terjadi pada saat seseorang membuat kolam dan ia belum sempat memberikan minuman dari kolam itu. Hari Kiamat benar-benar akan terjadi pada saat seseorang memeras susu kambingnya dan ia belum sempat meminumnya, dan hari kiamat itu benar-benar akan terjadi pada saat seseorang mengangkat makanan yang akan dimasukkannya ke mulutnya, dan ia belum sempat memakannya." (HR Al-Bukhari, Muslim)
Jarak Antara Dua Tiupan Sangkakala
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
«مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ» قَالُوا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَرْبَعُونَ يَوْمًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوا: أَرْبَعُونَ شَهْرًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوا: أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَبَيْتُ
Artinya: "(Jarak) antara dua tiupan adalah empat puluh." Para sahabat bertanya, "Wahai Abu Hurairah, apakah empat puluh hari?" Abu Hurairah menjawab: "Aku enggan." Mereka bertanya lagi: "Empat buluh bulan?" Abu Hurairah menjawab: "Aku enggan." Mereka bertanya lagi: "Empat puluh tahun?" Abu Hurairah menjawab: "Aku enggan." (HR. Al-Bukhari 4935)
Maksudnya, Abu Hurairah enggan menegaskan atau memastikan apakah empat puluh hari, empat puluh bulan, atau empat puluh tahun. Akan tetapi yang pasti adalah jaraknya empat puluh. Dikatakan juga bahwa jarak dua tiupan ini hanya Allah Ta'ala saja yang mengetahuinya.
Baca Juga: Proses Tiupan Sangkakala dan Ketika Manusia Digiring ke Mahsyar
Dalam Tafsir Kemenag dijelaskan bahwa manusia tidak akan menyadari kedatangan hari Kiamat. Mereka dimatikan secara tiba-tiba dalam keadaan saling berselisih dan berbantah-bantahan dalam urusan dunia. Peristiwa Kiamat atau kematian terjadi secara tiba-tiba karena keduanya terjadi bukan hasil kompromi antara Allah dengan manusia, tetapi karena kehendak dan kekuasaan Allah semata.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-thabari dari Ibnu 'Umar bahwa ia berkata: "Sangkakala benar-benar akan ditiup di saat keadaan manusia dalam kesibukan urusan mereka masing-masing di jalan, pasar, dan tempat mereka, hingga keadaan dua orang yang sedang tawar-menawar pakaian, misalnya, ketika pakaian belum sampai ke tangan salah seorang di antara mereka, maka tiba-tiba ditiupkan sangkakala, hingga mereka mati bergelimpangan semuanya. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah dalam ayat di atas.
Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Hari Kiamat itu benar-benar akan terjadi pada saat dua orang sedang menggelar pakaian mereka (sambil tawar-menawar), dan keduanya tidak sempat berjual-beli dan melipat kembali. Hari Kiamat itu benar-benar akan terjadi pada saat seseorang membuat kolam dan ia belum sempat memberikan minuman dari kolam itu. Hari Kiamat benar-benar akan terjadi pada saat seseorang memeras susu kambingnya dan ia belum sempat meminumnya, dan hari kiamat itu benar-benar akan terjadi pada saat seseorang mengangkat makanan yang akan dimasukkannya ke mulutnya, dan ia belum sempat memakannya." (HR Al-Bukhari, Muslim)
Jarak Antara Dua Tiupan Sangkakala
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
«مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ» قَالُوا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَرْبَعُونَ يَوْمًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوا: أَرْبَعُونَ شَهْرًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوا: أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَبَيْتُ
Artinya: "(Jarak) antara dua tiupan adalah empat puluh." Para sahabat bertanya, "Wahai Abu Hurairah, apakah empat puluh hari?" Abu Hurairah menjawab: "Aku enggan." Mereka bertanya lagi: "Empat buluh bulan?" Abu Hurairah menjawab: "Aku enggan." Mereka bertanya lagi: "Empat puluh tahun?" Abu Hurairah menjawab: "Aku enggan." (HR. Al-Bukhari 4935)
Maksudnya, Abu Hurairah enggan menegaskan atau memastikan apakah empat puluh hari, empat puluh bulan, atau empat puluh tahun. Akan tetapi yang pasti adalah jaraknya empat puluh. Dikatakan juga bahwa jarak dua tiupan ini hanya Allah Ta'ala saja yang mengetahuinya.
Baca Juga: Proses Tiupan Sangkakala dan Ketika Manusia Digiring ke Mahsyar
(rhs)
Lihat Juga :