Kisah Kedermawanan Khalifah Harun Al-Rasyid, Membagi-bagi Uang di Mekkah dan Madinah
Senin, 30 Mei 2022 - 05:15 WIB
loading...
Khalifah Harun Al-Rasyid dikenal amat dermawan. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Harun Al-Rasyid adalah khalifah Dinasi Abbasiyah yang dikenal amat dermawan. Sungguh tak pernah ada seorang khalifah yang setara dengannya dalam hal kedermawanan. Di samping itu dia juga suka dipuji. Kalau ada yang memujinya, dia akan mengeluarkan uang dalam jumlah besar.
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Hadi, Ketika Madinah Dikuasai Pemberontak
Harun Al-Rasyid adalah khalifah kelima Dinasti Abbasiyah menggantikan Khalifah Musa Al-Hadi. Ia memerintah antara tahun 786 hingga 803. Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Harun bin Al-Mahdi bin Al-Manshur bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas.
Dia mendapat gelar Al-Rasyid dari ayahnya (Al-Mahdi) ketika dia sukses dalam ekspedisi militer menaklukkan Romawi. Bersamaan dengan pemberian gelar tersebut, dia pun dilantik sebagai putra mahkota setelah Musa Al-Hadi.
Buku The History of al-Tabari menyebutkan bahwa Harun Al-Rasyid naik takhta pada malam Jum’at, 16 Rabiul Awal 170 H/ September 786 M. Ketika itu usianya masih sekitar 21 tahun.
"Dia lahir di Rayy (Iran sekarang) pada 1 Muharram 149 H/16 Februari 766 M. Ibunya bernama Khaizuran, seorang budak Al-Mahdi, yang juga ibu dari Musa Al-Hadi," tutur al-Thabari.
Sebagaimana dikisahkan oleh Thabari, pada malam pelantikan Harun Al-Rasyid, terjadi intrik politik yang luar biasa di dalam istana Baghdad. Ketika itu, ibu suri Dinasti Abbasiyah yang bernama Khaizuran memerintahkan kepada budak-budak perempuannya untuk mendekati dan membunuh Khalifah Al-Hadi yang sedang sakit tak berdaya.
Baca juga: Kisah Kegagalan Khalifah Al-Hadi Menyingkirkan Harun Al-Rasyid
Di sisi lain, Khalifah Al-Hadi memerintahkan orang-orang kepercayaannya agar memburu Harun Al-Rasyid beserta orang-orang dekatnya. Dengan kata lain, pada malam ini terjadi pertarungan penghabisan antara dua kekuatan politik dalam tubuh istana. Dan apa pun hasilnya, kedua pihak sudah memiliki rancangan skenario selanjutnya.
Sejarah pun membuktikan, bahwa skenario yang dibuat Khaizuranlah yang berhasil memenangkan persaingan. Al-Hadi berhasil dibunuh, dan Harun selamat. Maka di malam yang sama itu, Harun Al-Rasyid langsung dilantik sebagai khalifah.
Pelantikan ini tidak dilakukan secara terbuka di hadapan publik. Hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat istana. Setelah mendapat baiat dari sejumlah tokoh terkemuka, Harun segera melantik Yahya bin Khalid al Barmaki sebagai wazirnya.
Harun dan Yahya memang sangat dekat. Akbar Shah Najeebabadi dalam bukunya berjudul "The History Of Islam" menyebutkan bahwa hubungan kedua orang ini sudah terjadi sejak dini, yaitu ketika Harun Al-Rasyid lahir.
Sepekan sebelumnya, istri Yahya bin Khalid yang bernama Zainab binti Munir baru saja melahirkan seorang putra bernama Fadl bin Yahya bin Khalid. Mungkin karena baru melahirkan, air susu Khaizuran belum mengalir sempurna. Sehingga Zainab ditunjuk untuk menyusui Harun Al-Rasyid. Dan ketika air susu Kaizuran sudah mengalir sempurna, Fadl bin Yahya juga disusui oleh Khaizuran.
Dari sinilah, hubungan antara Yahya dan Harun terjalin. Bagi Harun Al-Rasyid, Yahya dan istrinya sudah seperti ayah dan ibunya sendiri, demikian juga sebaliknya. Maka tidak mengherankan ketika Harun dipercaya oleh Al-Mahdi untuk mengelola seluruh wilayah barat Abbasiyah, Yahya bin Khalid yang dipercaya untuk mendampinginya sebagai wazir.
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Hadi, Ketika Madinah Dikuasai Pemberontak
Harun Al-Rasyid adalah khalifah kelima Dinasti Abbasiyah menggantikan Khalifah Musa Al-Hadi. Ia memerintah antara tahun 786 hingga 803. Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Harun bin Al-Mahdi bin Al-Manshur bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas.
Dia mendapat gelar Al-Rasyid dari ayahnya (Al-Mahdi) ketika dia sukses dalam ekspedisi militer menaklukkan Romawi. Bersamaan dengan pemberian gelar tersebut, dia pun dilantik sebagai putra mahkota setelah Musa Al-Hadi.
Buku The History of al-Tabari menyebutkan bahwa Harun Al-Rasyid naik takhta pada malam Jum’at, 16 Rabiul Awal 170 H/ September 786 M. Ketika itu usianya masih sekitar 21 tahun.
"Dia lahir di Rayy (Iran sekarang) pada 1 Muharram 149 H/16 Februari 766 M. Ibunya bernama Khaizuran, seorang budak Al-Mahdi, yang juga ibu dari Musa Al-Hadi," tutur al-Thabari.
Sebagaimana dikisahkan oleh Thabari, pada malam pelantikan Harun Al-Rasyid, terjadi intrik politik yang luar biasa di dalam istana Baghdad. Ketika itu, ibu suri Dinasti Abbasiyah yang bernama Khaizuran memerintahkan kepada budak-budak perempuannya untuk mendekati dan membunuh Khalifah Al-Hadi yang sedang sakit tak berdaya.
Baca juga: Kisah Kegagalan Khalifah Al-Hadi Menyingkirkan Harun Al-Rasyid
Di sisi lain, Khalifah Al-Hadi memerintahkan orang-orang kepercayaannya agar memburu Harun Al-Rasyid beserta orang-orang dekatnya. Dengan kata lain, pada malam ini terjadi pertarungan penghabisan antara dua kekuatan politik dalam tubuh istana. Dan apa pun hasilnya, kedua pihak sudah memiliki rancangan skenario selanjutnya.
Sejarah pun membuktikan, bahwa skenario yang dibuat Khaizuranlah yang berhasil memenangkan persaingan. Al-Hadi berhasil dibunuh, dan Harun selamat. Maka di malam yang sama itu, Harun Al-Rasyid langsung dilantik sebagai khalifah.
Pelantikan ini tidak dilakukan secara terbuka di hadapan publik. Hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat istana. Setelah mendapat baiat dari sejumlah tokoh terkemuka, Harun segera melantik Yahya bin Khalid al Barmaki sebagai wazirnya.
Harun dan Yahya memang sangat dekat. Akbar Shah Najeebabadi dalam bukunya berjudul "The History Of Islam" menyebutkan bahwa hubungan kedua orang ini sudah terjadi sejak dini, yaitu ketika Harun Al-Rasyid lahir.
Sepekan sebelumnya, istri Yahya bin Khalid yang bernama Zainab binti Munir baru saja melahirkan seorang putra bernama Fadl bin Yahya bin Khalid. Mungkin karena baru melahirkan, air susu Khaizuran belum mengalir sempurna. Sehingga Zainab ditunjuk untuk menyusui Harun Al-Rasyid. Dan ketika air susu Kaizuran sudah mengalir sempurna, Fadl bin Yahya juga disusui oleh Khaizuran.
Dari sinilah, hubungan antara Yahya dan Harun terjalin. Bagi Harun Al-Rasyid, Yahya dan istrinya sudah seperti ayah dan ibunya sendiri, demikian juga sebaliknya. Maka tidak mengherankan ketika Harun dipercaya oleh Al-Mahdi untuk mengelola seluruh wilayah barat Abbasiyah, Yahya bin Khalid yang dipercaya untuk mendampinginya sebagai wazir.
Lihat Juga :