Kisah Kedermawanan Khalifah Harun Al-Rasyid, Membagi-bagi Uang di Mekkah dan Madinah
Senin, 30 Mei 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Agaknya keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan hubungan emosional ini juga. Bersama Yahya, Harun akan berada di bawah pengawasan yang terpercaya. Karena dia tidak hanya menjadi wazir, tapi juga sahabat dan juga ayah bagi Harun.
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Hadi: Menjabat karena Dukungan Harun Al-Rasyid
Cincin Khalifah
Latar belakang kedekatan ini pula yang akhirnya menjelaskan kedudukan Yahya di awal masa kekhalifahan Harun Al-Rasyid. Sesaat setelah dilantik sebagai khalifah kelima Dinasti Abbasiyah, Harun langsung mengangkat Yahya sebagai wazir.
Tidak main-main, Yahya langsung diberikan kepercayaan penuh untuk mengawal jalannya transisi. Harun bahkan menyerahkan cincin khalifah kepada Yahya. Cincin ini sekaligus berfungsi sebagai segel resmi istana. Dengan cincin ini, Yahya bisa berbuat sekehendak hati layaknya khalifah itu sendiri.
Yahya pun tidak menyia-nyiakan kepercayaan ini. Dengan sigap dia langsung mencari cara paling efektif untuk memantapkan legitimasi Harun Al-Rasyid. Dia segera menulis surat ke berbagai provinsi yang isinya berita tentang kematian Al-Hadi dan pengumuman tentang pengangkatan Harun Al-Rasyid.
Yahya lalu memerintahkan orang kepercayaannya bernama Yusuf bin Al-Qasim bin Subayh Al-Katib agar mengumpulkan para jenderal dan komadan pasukan Abbasiyah. Keesokan paginya, para komandan pasukan sudah berkumpul di Istana Baghdad. Di hadapan mereka sudah berdiri Yusuf bin Al-Qasim.
Yusuf kemudian berpidato di hadapan para komandan militer Abbasiyah, yang intinya mengabarkan bahwa Musa Al-Hadi sudah meninggal semalam. Tapi sebelum kematiannya, dia sudah berwasiat, sebagaimana juga wasiat ayahnya, bahwa Harun Al-Rasyid yang berhak menggantikannya. Dengan demikian, Harun sudah dilantik, dan sudah resmi menjadi khalifah yang baru hari ini.
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Mahdi Menumpas Kaum Zindiq, Hakim Al-Muqanna Mengaku Tuhan
Berdasarkan perintah khalifah Harun Al-Rasyid, pada pagi ini juga perbendaharaan negara dibuka lebar. Semua gaji prajurit yang sudah beberapa bulan belum dibayar Musa Al-Hadi, akan langsung dibayar kontan. Plus, gaji tambahan juga diberikan secara cuma-cuma kepada prajurit dalam jumlah cukup besar, sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan sanak keluarga mereka semua selama sebulan.
Di akhir pidatonya, Yusuf bin Al-Qasim meminta agar semua prajurit menetapkan kesetiaannya pada khalifah yang baru. Karena Harun sudah berjanji, jika imperium Abbasiyah menguat dan harta kekayaan negara meningkat di bahwa pemerintahannya, maka kesejahteraan prajurit akan diprioritaskan.
Mendengar pengumuman ini, tak ayal arus dukungan pun langsung menguat ke Harun Al-Rasyid. Para prajurit seperti lupa bahwa pada malam yang sama Al-Hadi baru saja meninggal dunia. Tapi mereka tersengat oleh pidato Yusuf bin Al-Qasim, dan larut dalam euforia kegembiraan menyambut datangnya khalifah baru.
Para aktor politik yang dulunya berposisi dipihak Al-Hadi langsung diam seribu bahasa. Dalam waktu yang demikian singkat, Harun Al-Rasyid langsung meraup simpati dan legitimasi untuk menjabat sebagai khalifah kelima Dinasti Abbasiyah.
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Mahdi Taklukkan Konstantinopel, Harun Al-Rasyid Jadi Bintang Abbasiyah
Pesaing Politik
Setelah memastikan legitmasinya sebagai khalifah kelima Dinasti Abbasiyah, Harun Al-Rasyid segera menundukkan semua pesaing politiknya. Seperti Ja’far bin Al-Hadi yang sebelumnya ingin dinobatkan sebagai putra mahkota menggantikan Harun.
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Hadi: Menjabat karena Dukungan Harun Al-Rasyid
Cincin Khalifah
Latar belakang kedekatan ini pula yang akhirnya menjelaskan kedudukan Yahya di awal masa kekhalifahan Harun Al-Rasyid. Sesaat setelah dilantik sebagai khalifah kelima Dinasti Abbasiyah, Harun langsung mengangkat Yahya sebagai wazir.
Tidak main-main, Yahya langsung diberikan kepercayaan penuh untuk mengawal jalannya transisi. Harun bahkan menyerahkan cincin khalifah kepada Yahya. Cincin ini sekaligus berfungsi sebagai segel resmi istana. Dengan cincin ini, Yahya bisa berbuat sekehendak hati layaknya khalifah itu sendiri.
Yahya pun tidak menyia-nyiakan kepercayaan ini. Dengan sigap dia langsung mencari cara paling efektif untuk memantapkan legitimasi Harun Al-Rasyid. Dia segera menulis surat ke berbagai provinsi yang isinya berita tentang kematian Al-Hadi dan pengumuman tentang pengangkatan Harun Al-Rasyid.
Yahya lalu memerintahkan orang kepercayaannya bernama Yusuf bin Al-Qasim bin Subayh Al-Katib agar mengumpulkan para jenderal dan komadan pasukan Abbasiyah. Keesokan paginya, para komandan pasukan sudah berkumpul di Istana Baghdad. Di hadapan mereka sudah berdiri Yusuf bin Al-Qasim.
Yusuf kemudian berpidato di hadapan para komandan militer Abbasiyah, yang intinya mengabarkan bahwa Musa Al-Hadi sudah meninggal semalam. Tapi sebelum kematiannya, dia sudah berwasiat, sebagaimana juga wasiat ayahnya, bahwa Harun Al-Rasyid yang berhak menggantikannya. Dengan demikian, Harun sudah dilantik, dan sudah resmi menjadi khalifah yang baru hari ini.
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Mahdi Menumpas Kaum Zindiq, Hakim Al-Muqanna Mengaku Tuhan
Berdasarkan perintah khalifah Harun Al-Rasyid, pada pagi ini juga perbendaharaan negara dibuka lebar. Semua gaji prajurit yang sudah beberapa bulan belum dibayar Musa Al-Hadi, akan langsung dibayar kontan. Plus, gaji tambahan juga diberikan secara cuma-cuma kepada prajurit dalam jumlah cukup besar, sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan sanak keluarga mereka semua selama sebulan.
Di akhir pidatonya, Yusuf bin Al-Qasim meminta agar semua prajurit menetapkan kesetiaannya pada khalifah yang baru. Karena Harun sudah berjanji, jika imperium Abbasiyah menguat dan harta kekayaan negara meningkat di bahwa pemerintahannya, maka kesejahteraan prajurit akan diprioritaskan.
Mendengar pengumuman ini, tak ayal arus dukungan pun langsung menguat ke Harun Al-Rasyid. Para prajurit seperti lupa bahwa pada malam yang sama Al-Hadi baru saja meninggal dunia. Tapi mereka tersengat oleh pidato Yusuf bin Al-Qasim, dan larut dalam euforia kegembiraan menyambut datangnya khalifah baru.
Para aktor politik yang dulunya berposisi dipihak Al-Hadi langsung diam seribu bahasa. Dalam waktu yang demikian singkat, Harun Al-Rasyid langsung meraup simpati dan legitimasi untuk menjabat sebagai khalifah kelima Dinasti Abbasiyah.
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Mahdi Taklukkan Konstantinopel, Harun Al-Rasyid Jadi Bintang Abbasiyah
Pesaing Politik
Setelah memastikan legitmasinya sebagai khalifah kelima Dinasti Abbasiyah, Harun Al-Rasyid segera menundukkan semua pesaing politiknya. Seperti Ja’far bin Al-Hadi yang sebelumnya ingin dinobatkan sebagai putra mahkota menggantikan Harun.
Lihat Juga :