Hikmah Al-Kahfi dan Fitnah Kehidupan
Kamis, 02 Juni 2022 - 15:04 WIB
loading...
Imam Shamsi Ali, Direktur/Imam Jamaica Muslim Center. Foto/Ist
A
A
A
Imam Shamsi Ali
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Fitnah atau ujian pertama dari kehidupan adalah ujian dalam beragama. Fitnah atau ujian dalam beragama tidak saja sebagai ujian pertama. Sesungguhnya sekaligus merupakan dasar dari berbagai ujian kehidupan lainnya.
Ketika kehidupan beragama tergoyahkan maka goyahlah segala fondasi kehidupan manusia. Hal ini dapat kita lihat pada bagian kedua dari fitnah atau ujian yang disebutkan dalam Al-Kahfi. Yaitu kisah dua laki-laki yang memiliki kebun (jannah). Laki-laki pertama memiliki kebun yang lebih luas, lebih subur, dan menghasilkan lebih banyak. Laki-laki kedua memiliki kebun kecil, kurang subur dan menghasilkan seadanya.
Masalahnya kemudian bukan pada besar kecil, subur gersang, atau banyak dan sedikitnya hasilnya. Karena hal yang seperti ini sudah lazim terjadi dalam setiap usaha bahkan kehidupan secara umum.
Masalahnya ada pada bagaimana masing-masing pemilik kebun itu merespons qadar (pembagian) yang Allah tetapkan baginya. Yang kaya ternyata merespon dengan kekufuran. Tidak saja bahwa dia menjadi angkuh dan merasa lebih (aktsaru). Bahkan merasa mampu mengontrol keadaan sehingga tanamannya tidak akan rusak atau berkurang. Lebih jauh lagi bahkan dunianya menjadikannya ingkar akhirat (maa azhunus sa'ata qaaimah).
Sementara laki-laki kedua merespons nikmat Allah (kebun) dengan kesyukuran. Bahkan mengingatkan pria yang kufur tadi untuk sadar. Tapi realitanya laki-laki kaya itu menolak bahkan menyombongkan diri karena kelebihan harta yang dimilikinya.
Kisah pemilik kebun di Surat Al-Kahfi ini mengingatkan kita tentang dahsyatnya fitnah atau ujian dunia. Bahwa seringkali dunia yang seharusnya menjadi jalan ibadah (mengabdi) kepada Allah justru menggelincirkan. Dunia galibnya menjadikan manusia lupa atau lalai akan realita kehidupan yang sesungguhnya.
Itulah sebabnya dalam Al-Qur'an salah satu kata yang identik dengan dunia adalah "lahwun". Dari kata "lahaa-yalhu-lahwun-wa laahiyah" yang berarti menjadikan lupa. Dunia dengan tabiatnya menjadikan mereka yang memburunya menjadi lupa tentang banyak hal yang mendasar dari kehidupan.
Manusia lupa akan kefitrahannya dan karenanya lupa kepada Allah. Dan ketika Allah telah terlupakan maka manusia akan lupa tentang dirinya sendiri. "Nasullaha fa ansahum anfusahum (mereka lupa Allah maka Allah jadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri)."
Di saat manusia lupa tentang dirinya maka manusia akan berbuat dalam kehidupan seringkali tidak lagi sejalan dengan tabiatnya (his nature). Bahkan akan melakukan hal-hal yang selain bertentangan dengan tabiatnya sebagai manusia juga medatangkan mudhorat bagi dirinya sendiri.
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Fitnah atau ujian pertama dari kehidupan adalah ujian dalam beragama. Fitnah atau ujian dalam beragama tidak saja sebagai ujian pertama. Sesungguhnya sekaligus merupakan dasar dari berbagai ujian kehidupan lainnya.
Ketika kehidupan beragama tergoyahkan maka goyahlah segala fondasi kehidupan manusia. Hal ini dapat kita lihat pada bagian kedua dari fitnah atau ujian yang disebutkan dalam Al-Kahfi. Yaitu kisah dua laki-laki yang memiliki kebun (jannah). Laki-laki pertama memiliki kebun yang lebih luas, lebih subur, dan menghasilkan lebih banyak. Laki-laki kedua memiliki kebun kecil, kurang subur dan menghasilkan seadanya.
Masalahnya kemudian bukan pada besar kecil, subur gersang, atau banyak dan sedikitnya hasilnya. Karena hal yang seperti ini sudah lazim terjadi dalam setiap usaha bahkan kehidupan secara umum.
Masalahnya ada pada bagaimana masing-masing pemilik kebun itu merespons qadar (pembagian) yang Allah tetapkan baginya. Yang kaya ternyata merespon dengan kekufuran. Tidak saja bahwa dia menjadi angkuh dan merasa lebih (aktsaru). Bahkan merasa mampu mengontrol keadaan sehingga tanamannya tidak akan rusak atau berkurang. Lebih jauh lagi bahkan dunianya menjadikannya ingkar akhirat (maa azhunus sa'ata qaaimah).
Sementara laki-laki kedua merespons nikmat Allah (kebun) dengan kesyukuran. Bahkan mengingatkan pria yang kufur tadi untuk sadar. Tapi realitanya laki-laki kaya itu menolak bahkan menyombongkan diri karena kelebihan harta yang dimilikinya.
Kisah pemilik kebun di Surat Al-Kahfi ini mengingatkan kita tentang dahsyatnya fitnah atau ujian dunia. Bahwa seringkali dunia yang seharusnya menjadi jalan ibadah (mengabdi) kepada Allah justru menggelincirkan. Dunia galibnya menjadikan manusia lupa atau lalai akan realita kehidupan yang sesungguhnya.
Itulah sebabnya dalam Al-Qur'an salah satu kata yang identik dengan dunia adalah "lahwun". Dari kata "lahaa-yalhu-lahwun-wa laahiyah" yang berarti menjadikan lupa. Dunia dengan tabiatnya menjadikan mereka yang memburunya menjadi lupa tentang banyak hal yang mendasar dari kehidupan.
Manusia lupa akan kefitrahannya dan karenanya lupa kepada Allah. Dan ketika Allah telah terlupakan maka manusia akan lupa tentang dirinya sendiri. "Nasullaha fa ansahum anfusahum (mereka lupa Allah maka Allah jadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri)."
Di saat manusia lupa tentang dirinya maka manusia akan berbuat dalam kehidupan seringkali tidak lagi sejalan dengan tabiatnya (his nature). Bahkan akan melakukan hal-hal yang selain bertentangan dengan tabiatnya sebagai manusia juga medatangkan mudhorat bagi dirinya sendiri.
Lihat Juga :