Hikmah Al-Kahfi dan Fitnah Kehidupan
Kamis, 02 Juni 2022 - 15:04 WIB
loading...
A
A
A
Selain akan berperilaku yang tidak alami dan bahkan mengantar kepada sesuatu yang self destructive (merusak diri sendiri). Lebih jauh bahkan dunia ini akan menjadikannya lupa akan sebuah realita yang paling nyata. Yaitu berakhirnya kehidupan sementara ini yang ditandai dengan berpisahnya ruh dan jasad. Peristiwa ini disebut kematian. Sebuah kenyataan yang paling pasti. Tapi banyak manusia justeru lupa atau dijadikan lupa oleh dunia.
Merespons kepada realita ini Al-Qur'an menawarkan solusi. Salah satunya dengan konsep dzikir. Konsep yang juga sering disalah pahami atau dipahami secara terbatas oleh manusia. Seolah dzikir itu hanya amalan ritual untuk mengoleksi pahala semata. Padahal dzikir dimaksudkan untuk menghadirkan kesadaran penuh tentang realita kehidupan.
Dzikir menyadarkan tentang Allah, tentang diri sendiri, tentang hakikat kehidupan, dan tentunya tentang visi dan orientasi kehidupan itu. Orang yang punya dzikir itu memiliki kesadaran hidup. Sehingga hidupnya tidak menjadi sebuah perjalanan hampa seolah tidak punya makna dan tujuan.
Itulah yang dimaksud Rasulullah SAW ketika bersabda: "Perumpamaan orang-orang yang mengingat Tuhannya dan mereka yang tidak ingat Tuhannya bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati."
Dengan dzikir manusia hidup dengan kesadaran. Tapi dzikir manusia boleh jadi hidup tapi tidak dengan kesadaran. Hilangnya kesadaran dalam kehidupan itulah sesungguhnya kematian.
Karenanya carilah dunia ini, bangunlah dunia ini. Tapi semuanya harus dibarengi oleh dzikir (kesadaran). Sebagaimana di Surah Al-Jumu'ah Allah mengingatkan: "Dan jika sholat telah ditunaikan maka bertebaranlah kamu di atas bumi ini dan carilah keutamaan Allah. Dan berdzikirlah (sadarlah) kepada Allah dengan banyak. Mudah-mudahan kamu bisa menjadi sukses." (QS Al-Jumu'ah: 10)
Inilah fitnah kedua yang disampaikan oleh Surat Al-Kahfi. Yaitu fitnah atau ujian dunia yang dapat menggelicirkan dan menghancurkan kehidupan manusia. Semoga Allah menjaga kita. Aamin!
Manhattan, 1 Juni 2022
Baca Juga: Uniknya Islam: Mengajarkan Tauhid Namun Merangkul Keberagaman
Merespons kepada realita ini Al-Qur'an menawarkan solusi. Salah satunya dengan konsep dzikir. Konsep yang juga sering disalah pahami atau dipahami secara terbatas oleh manusia. Seolah dzikir itu hanya amalan ritual untuk mengoleksi pahala semata. Padahal dzikir dimaksudkan untuk menghadirkan kesadaran penuh tentang realita kehidupan.
Dzikir menyadarkan tentang Allah, tentang diri sendiri, tentang hakikat kehidupan, dan tentunya tentang visi dan orientasi kehidupan itu. Orang yang punya dzikir itu memiliki kesadaran hidup. Sehingga hidupnya tidak menjadi sebuah perjalanan hampa seolah tidak punya makna dan tujuan.
Itulah yang dimaksud Rasulullah SAW ketika bersabda: "Perumpamaan orang-orang yang mengingat Tuhannya dan mereka yang tidak ingat Tuhannya bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati."
Dengan dzikir manusia hidup dengan kesadaran. Tapi dzikir manusia boleh jadi hidup tapi tidak dengan kesadaran. Hilangnya kesadaran dalam kehidupan itulah sesungguhnya kematian.
Karenanya carilah dunia ini, bangunlah dunia ini. Tapi semuanya harus dibarengi oleh dzikir (kesadaran). Sebagaimana di Surah Al-Jumu'ah Allah mengingatkan: "Dan jika sholat telah ditunaikan maka bertebaranlah kamu di atas bumi ini dan carilah keutamaan Allah. Dan berdzikirlah (sadarlah) kepada Allah dengan banyak. Mudah-mudahan kamu bisa menjadi sukses." (QS Al-Jumu'ah: 10)
Inilah fitnah kedua yang disampaikan oleh Surat Al-Kahfi. Yaitu fitnah atau ujian dunia yang dapat menggelicirkan dan menghancurkan kehidupan manusia. Semoga Allah menjaga kita. Aamin!
Manhattan, 1 Juni 2022
Baca Juga: Uniknya Islam: Mengajarkan Tauhid Namun Merangkul Keberagaman
(rhs)
Lihat Juga :