Surat Al-Kahfi Ayat 16: Kisah Uzlah Para Pemuda
Kamis, 02 Juni 2022 - 19:48 WIB
loading...
A
A
A
Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali dia seorang pemuda, dan tiada diberikan ilmu kepada seorang alim, kecuali dia pemuda. Kemudian beliau membaca potongan ayat-ayat tersebut sebagai berikut:
قَالُوْا سَمِعْنَا فَتًى يَّذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهٗٓ اِبْرٰهِيْمُ
Mereka (yang lain) berkata, ”Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.” ( al-Anbiya’/21 : 60)
Dan firman Allah swt:
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِفَتٰىهُ
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya. (al-Kahf/18: 60); Dan firman Allah WT:
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ
Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. ( al-Kahf /18: 13)
Baca juga: Surah Al-Kahfi Ayat 10-12 dan Wujud Maha Agung Allah Ta'ala
Ayat ini menunjukkan ketabahan hidup para pemuda Ashhabul Kahfi ketika menyepi di dalam gua karena menyembunyikan agamanya. Imam al-Gazali, dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin, menolak menggunakan ayat ini untuk dijadikan dalil bagi keutamaan hidup uzlah.
Beliau berkata, “Ashhabul Kahfi tidak mengasingkan diri mereka sendiri antara satu dengan yang lain. Mereka seluruhnya adalah orang-orang yang beriman. Mereka mengasingkan diri dari orang-orang kafir.” Jadi wajarlah kalau mereka beruzlah agar terpelihara dari penyiksaan orang-orang kafir dan raja yang hendak membunuh mereka.
Hidup Uzlah
Hidup menyepi dalam arti mengasingkan diri dari kejahatan dan kebatilan yang tidak dapat diperbaiki atau mereka tidak sanggup memperbaikinya, maka uzlah semacam ini dibenarkan.
As-Suyuti dalam kitabnya Al-Iklil berpendapat bahwa dari ayat ini dapat dipahami bahwa uzlah, mengasingkan diri, lari dari kezaliman, dan tinggal dalam gua disyariatkan ketika situasi beragama tidak kondusif atau rusak.
قَالُوْا سَمِعْنَا فَتًى يَّذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهٗٓ اِبْرٰهِيْمُ
Mereka (yang lain) berkata, ”Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.” ( al-Anbiya’/21 : 60)
Dan firman Allah swt:
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِفَتٰىهُ
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya. (al-Kahf/18: 60); Dan firman Allah WT:
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ
Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka. ( al-Kahf /18: 13)
Baca juga: Surah Al-Kahfi Ayat 10-12 dan Wujud Maha Agung Allah Ta'ala
Ayat ini menunjukkan ketabahan hidup para pemuda Ashhabul Kahfi ketika menyepi di dalam gua karena menyembunyikan agamanya. Imam al-Gazali, dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin, menolak menggunakan ayat ini untuk dijadikan dalil bagi keutamaan hidup uzlah.
Beliau berkata, “Ashhabul Kahfi tidak mengasingkan diri mereka sendiri antara satu dengan yang lain. Mereka seluruhnya adalah orang-orang yang beriman. Mereka mengasingkan diri dari orang-orang kafir.” Jadi wajarlah kalau mereka beruzlah agar terpelihara dari penyiksaan orang-orang kafir dan raja yang hendak membunuh mereka.
Hidup Uzlah
Hidup menyepi dalam arti mengasingkan diri dari kejahatan dan kebatilan yang tidak dapat diperbaiki atau mereka tidak sanggup memperbaikinya, maka uzlah semacam ini dibenarkan.
As-Suyuti dalam kitabnya Al-Iklil berpendapat bahwa dari ayat ini dapat dipahami bahwa uzlah, mengasingkan diri, lari dari kezaliman, dan tinggal dalam gua disyariatkan ketika situasi beragama tidak kondusif atau rusak.
Lihat Juga :