Kisah Bijak Para Sufi: Nelayan dan Jin
Rabu, 24 Juni 2020 - 06:39 WIB
loading...
A
A
A
Bunyi nasihat itu: 'Manusia hanya bisa mempergunakan sesuatu yang ia ketahui penggunaannya.'
(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu )
Dan tepat pada saat itu, karena guncangan pada penjara logam itu, si jin terbangun dari tidurnya, dan berseru, "Hai putra Adam, siapa pun kau, buka sumbat botol ini dan bebaskan aku! Sebab Akulah Pemimpin Bangsa Jin yang mengetahui rahasia peristiwa gaib." Karena mengingat pesan leluhurnya, nelayan muda itu pun meletakkan botol itu dengan hati-hati di dalam sebuah gua. Lalu, ia mendaki bukit karang yang terjal di dekat situ, mencari pondok seorang bijaksana.
Ia pun menceritakan semuanya kepada orang bijaksana itu, yang berkata, "Pesan leluhurmu itu benar adanya kau harus melakukannya sendiri, tetapi terlebih dahulu kau harus memahami cara mempergunakannya."
"Tetapi, apa yang harus kulakukan?" tanya pemuda itu. "
Pasti ada sesuatu yang kau rasa ingin kau lakukan?' kata orang bijaksana itu. "Aku ingin membebaskan jin itu agar ia bisa memberiku pengetahuan ajaib atau mungkin gunungan emas, dan lautan jamrud, dan semua pemberian lain yang biasa diberikan oleh para jin."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Emas Keberuntungan )
"Harapanmu itu tidak akan terjadi," kata sang guru, "sebab ketika jin itu dibebaskan, ia mungkin tidak akan mengabulkan keinginanmu itu atau mungkin ia akan memberikannya tetapi mengambilnya kembali karena kau tak punya cara untuk melindungi para jin, belum lagi petaka yang bisa saja menimpamu ketika kau melakukan sesuatu serupa itu, sebab 'Manusia hanya bisa mempergunakan sesuatu yang ia ketahui penggunaannya."
"Kalau begitu, apa yang seharusnya kulakukan?'
"Mintalah jin itu sebuah contoh pemberian yang bisa ia berikan. Mintalah cara menjaga pemberian itu dan ujilah caranya. Mintalah pengetahuan, jangan barang milik, sebab milik tanpa pengetahuan adalah sia-sia, dan itulah penyebab semua kekhawatitan kita."
Sekarang, karena telah tepekur dan waspada, pemuda itu bisa menyusun rencananya ketika ia kembali ke gua tempat botol jin itu diletakkan. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kandil Besi)
Ia pun mengetuk botol itu, dan terdengar suara jin itu berkata, redam tetapi mengerikan, "Dalam nama Sulaiman yang Perkasa, damai baginya, bebaskan aku, wahai putra Adam!"
"Aku tak percaya bahwa kau seperti yang kau akui, dan bahwa kau memiliki kuasa seperti yang kau katakan," jawab pemuda itu.
"Kau tak percaya? Tak tahukah kau bahwa aku tak bisa berbohong?" sahut jin itu.
"Tidak, aku tak percaya," kata nelayan itu.
(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu )
Dan tepat pada saat itu, karena guncangan pada penjara logam itu, si jin terbangun dari tidurnya, dan berseru, "Hai putra Adam, siapa pun kau, buka sumbat botol ini dan bebaskan aku! Sebab Akulah Pemimpin Bangsa Jin yang mengetahui rahasia peristiwa gaib." Karena mengingat pesan leluhurnya, nelayan muda itu pun meletakkan botol itu dengan hati-hati di dalam sebuah gua. Lalu, ia mendaki bukit karang yang terjal di dekat situ, mencari pondok seorang bijaksana.
Ia pun menceritakan semuanya kepada orang bijaksana itu, yang berkata, "Pesan leluhurmu itu benar adanya kau harus melakukannya sendiri, tetapi terlebih dahulu kau harus memahami cara mempergunakannya."
"Tetapi, apa yang harus kulakukan?" tanya pemuda itu. "
Pasti ada sesuatu yang kau rasa ingin kau lakukan?' kata orang bijaksana itu. "Aku ingin membebaskan jin itu agar ia bisa memberiku pengetahuan ajaib atau mungkin gunungan emas, dan lautan jamrud, dan semua pemberian lain yang biasa diberikan oleh para jin."(Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Emas Keberuntungan )
"Harapanmu itu tidak akan terjadi," kata sang guru, "sebab ketika jin itu dibebaskan, ia mungkin tidak akan mengabulkan keinginanmu itu atau mungkin ia akan memberikannya tetapi mengambilnya kembali karena kau tak punya cara untuk melindungi para jin, belum lagi petaka yang bisa saja menimpamu ketika kau melakukan sesuatu serupa itu, sebab 'Manusia hanya bisa mempergunakan sesuatu yang ia ketahui penggunaannya."
"Kalau begitu, apa yang seharusnya kulakukan?'
"Mintalah jin itu sebuah contoh pemberian yang bisa ia berikan. Mintalah cara menjaga pemberian itu dan ujilah caranya. Mintalah pengetahuan, jangan barang milik, sebab milik tanpa pengetahuan adalah sia-sia, dan itulah penyebab semua kekhawatitan kita."
Sekarang, karena telah tepekur dan waspada, pemuda itu bisa menyusun rencananya ketika ia kembali ke gua tempat botol jin itu diletakkan. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kandil Besi)
Ia pun mengetuk botol itu, dan terdengar suara jin itu berkata, redam tetapi mengerikan, "Dalam nama Sulaiman yang Perkasa, damai baginya, bebaskan aku, wahai putra Adam!"
"Aku tak percaya bahwa kau seperti yang kau akui, dan bahwa kau memiliki kuasa seperti yang kau katakan," jawab pemuda itu.
"Kau tak percaya? Tak tahukah kau bahwa aku tak bisa berbohong?" sahut jin itu.
"Tidak, aku tak percaya," kata nelayan itu.
Lihat Juga :