Agar Hakikat Taubat Dapat Dipenuhi, Begini Penjelasan Syaikh Yusuf Al-Qardhawi
Minggu, 12 Juni 2022 - 19:47 WIB
loading...
A
A
A
Seluruh orang yang bertaubat amat membutuhkan untuk beristighfar, seperti diperintahkan oleh Al-Qur'an dan sunnah serta dijelaskan oleh kaum salaf saleh.
Mengingat pentingnya istighfar, dan diulangnya perintah untuk istighfar itu, serta dorongan untuk melakukannya dalam Al-Qur'an dan hadis, maka kami akan khususkan suatu pasal tesendiri tentang hal itu.
Baca juga: Taubat Nasuha: Setiap Dosa Memiliki Cara Taubat Tersendiri
Mengubah Lingkungan
Selanjutnya, cabang kedua adalah mengubah lingkungan masyarakat yang penuh dengan kotoran, yang ia tempati saat ia melakukan kemaksiatan dan penyelewengan. Kemudian mencari lingkungan yang bersih dan suci yang bebas dari penyakit yang berbahaya.
"Yang kami maksud dengan penyakit-penyakit itu adalah: penyakit kesalahan, dosa dan penyelewengan. Dan ini lebih berbahaya dari penyakit badan, dan lebih cepat pengaruhnya," ujar Al-Qardhawi.
Jika pengaruh penyakit anggota badan berbahaya bagi seorang individu, maka bahaya penyelewengan dan kemaksiatan mengancam individu dan masyarakat secara bersamaan.
Ia tidak hanya bahaya bagi materi yang tangible (terindera) saja, namun juga terhadap sisi maknawi dan etika (yang intangible). "Ia tidak hanya berbahaya bagi dunia saja, namun juga terhadap dunia dan akhirat secara bersamaan," ujar Al-Qardhawi.
Ini artinya, katanya lagi, orang yang bertaubat hendaknya meninggalkan teman-temannya yang jahat yang mengajaknya untuk melakukan kemaksiatan dan menarik kakinya ke arah itu.
Baca juga: Taubat Nasuha: Unsur Hati dan Keinginan, Penyesalan adalah Taubat
Mengingat pentingnya istighfar, dan diulangnya perintah untuk istighfar itu, serta dorongan untuk melakukannya dalam Al-Qur'an dan hadis, maka kami akan khususkan suatu pasal tesendiri tentang hal itu.
Baca juga: Taubat Nasuha: Setiap Dosa Memiliki Cara Taubat Tersendiri
Mengubah Lingkungan
Selanjutnya, cabang kedua adalah mengubah lingkungan masyarakat yang penuh dengan kotoran, yang ia tempati saat ia melakukan kemaksiatan dan penyelewengan. Kemudian mencari lingkungan yang bersih dan suci yang bebas dari penyakit yang berbahaya.
"Yang kami maksud dengan penyakit-penyakit itu adalah: penyakit kesalahan, dosa dan penyelewengan. Dan ini lebih berbahaya dari penyakit badan, dan lebih cepat pengaruhnya," ujar Al-Qardhawi.
Jika pengaruh penyakit anggota badan berbahaya bagi seorang individu, maka bahaya penyelewengan dan kemaksiatan mengancam individu dan masyarakat secara bersamaan.
Ia tidak hanya bahaya bagi materi yang tangible (terindera) saja, namun juga terhadap sisi maknawi dan etika (yang intangible). "Ia tidak hanya berbahaya bagi dunia saja, namun juga terhadap dunia dan akhirat secara bersamaan," ujar Al-Qardhawi.
Ini artinya, katanya lagi, orang yang bertaubat hendaknya meninggalkan teman-temannya yang jahat yang mengajaknya untuk melakukan kemaksiatan dan menarik kakinya ke arah itu.
Baca juga: Taubat Nasuha: Unsur Hati dan Keinginan, Penyesalan adalah Taubat
(mhy)
Lihat Juga :