Kisah Abdul Muthalib Kaya Mendadak karena Menggali Sumur Zamzam
Kamis, 23 Juni 2022 - 08:45 WIB
loading...
A
A
A
Dia keluar dari kemah, lalu melihat keheningan yang luar biasa menyelimuti gurun pasir yang membentang.
Lalu dia kembali ke tempat tidurnya dan bermimpi, ada suatu yang memerintahkannya melakukan hal yang sangat penting, “Galilah Zamzam!”, kata suara tersebut. Namun dia bingung memahami apakah itu Zamzam?
Abdul Muthalib lalu bangun untuk kedua kalinya. Dia tidak bisa tidur lagi. Hanya berusaha memahami maksud dari mimpinya. Di tengah keheningan malam itu, dia keluar dari kemahnya, sambil mengingat-ingat tentang satu kisah kuno soal sebuah sumur pertama di kota itu.
Abdul Muthalib mencoba menerka, lalu apa nilai sumur itu sekarang? Bukankah sudah cukup banyak sumur di kota ini? Bahkan air di Mekkah, sejauh ini bisa mencukupi untuk melayani para peziarah yang datang ke kota itu.
Namun perintah dalam mimpinya begitu nyata, dan dia tidak mungkin mengabaikannya. Persoalannya, letak sumur kuno yang dimaksud itu kala itu posisinya tepat berada di antara dua berhala dari berhala-berhala yang biasa disembah oleh masyarakat setempat, yaitu di antara berhala yang bernama Ashaf dan Nallah.
Berhala ini tidak hanya disembah oleh masyarakat Mekkah, bahkan peziarah yang datang pun ikut mengagungkannya. Akan terjadi resistensi yang luar biasa bila dia memaksakan diri membongkarnya demi untuk menggali sumur tua, yang dia dapat melaluinya mimpi.
Baca juga: Ilmuwan Ini Ungkap Rahasia Sumur Zamzam Tak Pernah Kering
Akbar Shah Najeebabadi dalam bukunya "The History Of Islam" menceritakan dorongan dari perintah itu demikian kuat. Hingga mau tak mau Abdul Muthalib pun melaksanakannya.
Dan benar saja, ketika dia memaksakan diri menggali sumur tua tersebut, para pemimpinan kabilah berikut keluarganya menentang usaha Abdul Muthalib. Ketika itu dia hanya berdua dengan putra tertuanya Harits, dan harus berhadapan dengan semua kabilah.
Harta Karun
Abdul Muthalib terus mengadakan penggalian, dibantu oleh anaknya, Harith. Waktu itu tiba-tiba air membersit dan dua pangkal pelana emas dan pedang Mudzadz mulai tampak.
Lalu dia kembali ke tempat tidurnya dan bermimpi, ada suatu yang memerintahkannya melakukan hal yang sangat penting, “Galilah Zamzam!”, kata suara tersebut. Namun dia bingung memahami apakah itu Zamzam?
Abdul Muthalib lalu bangun untuk kedua kalinya. Dia tidak bisa tidur lagi. Hanya berusaha memahami maksud dari mimpinya. Di tengah keheningan malam itu, dia keluar dari kemahnya, sambil mengingat-ingat tentang satu kisah kuno soal sebuah sumur pertama di kota itu.
Abdul Muthalib mencoba menerka, lalu apa nilai sumur itu sekarang? Bukankah sudah cukup banyak sumur di kota ini? Bahkan air di Mekkah, sejauh ini bisa mencukupi untuk melayani para peziarah yang datang ke kota itu.
Namun perintah dalam mimpinya begitu nyata, dan dia tidak mungkin mengabaikannya. Persoalannya, letak sumur kuno yang dimaksud itu kala itu posisinya tepat berada di antara dua berhala dari berhala-berhala yang biasa disembah oleh masyarakat setempat, yaitu di antara berhala yang bernama Ashaf dan Nallah.
Berhala ini tidak hanya disembah oleh masyarakat Mekkah, bahkan peziarah yang datang pun ikut mengagungkannya. Akan terjadi resistensi yang luar biasa bila dia memaksakan diri membongkarnya demi untuk menggali sumur tua, yang dia dapat melaluinya mimpi.
Baca juga: Ilmuwan Ini Ungkap Rahasia Sumur Zamzam Tak Pernah Kering
Akbar Shah Najeebabadi dalam bukunya "The History Of Islam" menceritakan dorongan dari perintah itu demikian kuat. Hingga mau tak mau Abdul Muthalib pun melaksanakannya.
Dan benar saja, ketika dia memaksakan diri menggali sumur tua tersebut, para pemimpinan kabilah berikut keluarganya menentang usaha Abdul Muthalib. Ketika itu dia hanya berdua dengan putra tertuanya Harits, dan harus berhadapan dengan semua kabilah.
Harta Karun
Abdul Muthalib terus mengadakan penggalian, dibantu oleh anaknya, Harith. Waktu itu tiba-tiba air membersit dan dua pangkal pelana emas dan pedang Mudzadz mulai tampak.
Lihat Juga :