Kisah Abdul Muthalib Kaya Mendadak karena Menggali Sumur Zamzam
Kamis, 23 Juni 2022 - 08:45 WIB
loading...
Sesudah sumur Zamzam memproduksi air kembali, Abdul Muthalib meneruskan tugasnya mengurus air untuk keperluan tamu. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Sumur Zamzam mengering pada era Mekkah dikelola Jurhum, yakni masa Mudzadz bin 'Amr ibn Harith. Selama dalam masa generasi ini perdagangan Makkah sedang berkembang sehingga membuat mereka hidup mewah. Mereka lupa bahwa mereka berada di tanah tandus dan bahwa mereka perlu selalu berusaha dan selalu waspada.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menuturkan demikian lalainya mereka itu sehingga Zamzam menjadi kering dan pihak kabilah Khuza'a merasa perlu memikirkan akan turut terjun memegang pimpinan di Tanah Suci itu.
Baca juga: Selain Abrahah, Berikut Upaya Penaklukan Mekkah dan Pemindahan Kakbah
Peringatan Mudzadz kepada masyarakatnya agar menghentikan hidup berfoya-foya, tidak berhasil. Ia yakin sekali bahwa hal ini akan menghanyutkan mereka semua.
Kemudian ia berusaha menggali Zamzam lebih dalam lagi. Diambilnya dua buah pangkal pelana emas dari dalam Kakbah beserta harta yang dibawa orang sebagai sesajen ke dalam Rumah Suci itu.
Dimasukkannya semua itu ke dalam dasar sumur, sedang pasir yang masih ada di dalamnya dikeluarkan, dengan harapan pada suatu waktu ia akan menemukannya kembali.
Upaya ini gagal. Terjadilah kudeta oleh Khuza'a. Mudzadz pun keluar dari Mekkah bersama anak-anak Nabi Ismail. Kekuasaan sesudah itu dipegang oleh Khuza'a. Demikian seterusnya turun-temurun sampai kepada Qushay bin Kilab, nenek (kakek) Nabl Muhammad yang kelima.
Baca juga: Jelang Kiamat: Ibadah Haji Ditiadakan, Kakbah akan Jadi Sasaran Perusakan
Mimpi
Haekal menuturkan pada masa Abdul Muthalib , keinginan untuk menggali kembali sumur Zamzam semakin kuat. Demikian kerasnya keinginan itu hingga terbawa dalam tidur Abdul Muthalib seolah ada suara gaib menyuruhnya menggali kembali sumur yang pernah menyembur di kaki Ismail neneknya dulu itu.
Di suatu malam, Abdul Muthalib tiba-tiba membayangkan matahari sudah terbit. Sontak dia lalu beranjak dari tempat tidurnya. Tapi alangkah terkejutnya dia, ketika menyadari ternyata waktu itu masih malam.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menuturkan demikian lalainya mereka itu sehingga Zamzam menjadi kering dan pihak kabilah Khuza'a merasa perlu memikirkan akan turut terjun memegang pimpinan di Tanah Suci itu.
Baca juga: Selain Abrahah, Berikut Upaya Penaklukan Mekkah dan Pemindahan Kakbah
Peringatan Mudzadz kepada masyarakatnya agar menghentikan hidup berfoya-foya, tidak berhasil. Ia yakin sekali bahwa hal ini akan menghanyutkan mereka semua.
Kemudian ia berusaha menggali Zamzam lebih dalam lagi. Diambilnya dua buah pangkal pelana emas dari dalam Kakbah beserta harta yang dibawa orang sebagai sesajen ke dalam Rumah Suci itu.
Dimasukkannya semua itu ke dalam dasar sumur, sedang pasir yang masih ada di dalamnya dikeluarkan, dengan harapan pada suatu waktu ia akan menemukannya kembali.
Upaya ini gagal. Terjadilah kudeta oleh Khuza'a. Mudzadz pun keluar dari Mekkah bersama anak-anak Nabi Ismail. Kekuasaan sesudah itu dipegang oleh Khuza'a. Demikian seterusnya turun-temurun sampai kepada Qushay bin Kilab, nenek (kakek) Nabl Muhammad yang kelima.
Baca juga: Jelang Kiamat: Ibadah Haji Ditiadakan, Kakbah akan Jadi Sasaran Perusakan
Mimpi
Haekal menuturkan pada masa Abdul Muthalib , keinginan untuk menggali kembali sumur Zamzam semakin kuat. Demikian kerasnya keinginan itu hingga terbawa dalam tidur Abdul Muthalib seolah ada suara gaib menyuruhnya menggali kembali sumur yang pernah menyembur di kaki Ismail neneknya dulu itu.
Di suatu malam, Abdul Muthalib tiba-tiba membayangkan matahari sudah terbit. Sontak dia lalu beranjak dari tempat tidurnya. Tapi alangkah terkejutnya dia, ketika menyadari ternyata waktu itu masih malam.
Lihat Juga :