Misteri Raja Pemilik 2 Tanduk Bernama Dzulqarnain
Selasa, 12 Juli 2022 - 19:52 WIB
loading...
A
A
A
Sementara menurut Atsar dari Ali yang dicantumkan oleh Ath-Thabari dalam Jami’ Al-Bayan dan An-Nuhas dalam Ma’ani Al-Qur’an menyatakan bahwa Ibnu Al-Kawa’ pernah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib ra tentang Dzulqarnain, apakah ia seorang nabi ataukah malaikat?
Ali menjawab “Bukan ini (nabi) dan bukan itu (malaikat), ia adalah seorang hamba yang saleh, yang menyeru kaumnya kepada Allah ta’ala, lalu mereka melukai kepalanya (sebelah), kemudian ia menyeru mereka lagi, namun mereka malah melukai lagi kepalanya (sebelahnya lagi). Karena itu dia dijuluki Dzulqarnain.
Menurut Quraish Shihab , kata مكنا (makkanna) (dalam QS. 18: 84) terambil dari kata تمكين (tamkin), yakni memungkinkan dan menjadikan bisa dan mampu. Kemampuan dimaksud adalah kemantapan dalam hal kekuasaan dan pengaruh. Allah memantapkan bagi Dzulqarnain kekuasaan dengan menganugerahkan kepadanya pengetahuan tentang tata cara mengendalikan wilayah, serta mempermudah baginya perolehan saranan dan prasarana guna mencapai maksudnya.
Sementara kata سببا (sababan) pada mulanya berarti tali, kemudian makna ini berkembang sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat mengantar guna meraih apa yang dikehendaki. Dengan menggunakan tali, timba dapat diturunkan ke sumur untuk memperoleh air. Dengan tali juga seseorang dapat memanjat ke atas.
Terkait dengan firman Allah SWT: "Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu”
Baca juga: Kisah Ya'juj Ma'juj di Surat Al-Kahfi dan Penjara Dzulqarnain Raja yang Saleh
Ibnu Abbas mengatakan, “Ilmu tentang segala sesuatu untuk mencapai apa yang dikehendaki”. Al-Hasan mengatakan, “Untuk mencapai apa yang dikehendakinya”. Ada juga yang mengatakan, “Segala sesuatu yang dibutuhkan segala makhluk”. Ada juga yang mengatakan, “Segala sesuatu yang diperlukan oleh para raja untuk menaklukkan kota-kota dan menundukkan para musuh.
Terkait dengan ayat tersebut (QS 18: 85), menurut Ibnu Hatim dalam tafsirnya dan Al-Mawardi dalam An-Nukat wa Al-Uyun menyatakan bahwa Bisyr menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id menceritakan kepada kami dari Qatadah, mengenai firman Allah swt, سببا فأتبع” Maka dia menempuh suatu jalan”, ia berkata, maksudnya adalah mengikuti tempat-tempat persinggahan dan tanda-tanda di muka bumi.
Jika ditilik secara gramatikal, susunan kata-kata dari ayat di atas tidak menyebutkan kata (siapa), dan di dalam hadis Rasulullah SAW ataupun atsar sahabat tidak didapatkan siapakah sebenarnya nama dari sosok Dzulqarnain tersebut.
Ali menjawab “Bukan ini (nabi) dan bukan itu (malaikat), ia adalah seorang hamba yang saleh, yang menyeru kaumnya kepada Allah ta’ala, lalu mereka melukai kepalanya (sebelah), kemudian ia menyeru mereka lagi, namun mereka malah melukai lagi kepalanya (sebelahnya lagi). Karena itu dia dijuluki Dzulqarnain.
Menurut Quraish Shihab , kata مكنا (makkanna) (dalam QS. 18: 84) terambil dari kata تمكين (tamkin), yakni memungkinkan dan menjadikan bisa dan mampu. Kemampuan dimaksud adalah kemantapan dalam hal kekuasaan dan pengaruh. Allah memantapkan bagi Dzulqarnain kekuasaan dengan menganugerahkan kepadanya pengetahuan tentang tata cara mengendalikan wilayah, serta mempermudah baginya perolehan saranan dan prasarana guna mencapai maksudnya.
Sementara kata سببا (sababan) pada mulanya berarti tali, kemudian makna ini berkembang sehingga mencakup segala sesuatu yang dapat mengantar guna meraih apa yang dikehendaki. Dengan menggunakan tali, timba dapat diturunkan ke sumur untuk memperoleh air. Dengan tali juga seseorang dapat memanjat ke atas.
Terkait dengan firman Allah SWT: "Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu”
Baca juga: Kisah Ya'juj Ma'juj di Surat Al-Kahfi dan Penjara Dzulqarnain Raja yang Saleh
Ibnu Abbas mengatakan, “Ilmu tentang segala sesuatu untuk mencapai apa yang dikehendaki”. Al-Hasan mengatakan, “Untuk mencapai apa yang dikehendakinya”. Ada juga yang mengatakan, “Segala sesuatu yang dibutuhkan segala makhluk”. Ada juga yang mengatakan, “Segala sesuatu yang diperlukan oleh para raja untuk menaklukkan kota-kota dan menundukkan para musuh.
Terkait dengan ayat tersebut (QS 18: 85), menurut Ibnu Hatim dalam tafsirnya dan Al-Mawardi dalam An-Nukat wa Al-Uyun menyatakan bahwa Bisyr menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id menceritakan kepada kami dari Qatadah, mengenai firman Allah swt, سببا فأتبع” Maka dia menempuh suatu jalan”, ia berkata, maksudnya adalah mengikuti tempat-tempat persinggahan dan tanda-tanda di muka bumi.
Jika ditilik secara gramatikal, susunan kata-kata dari ayat di atas tidak menyebutkan kata (siapa), dan di dalam hadis Rasulullah SAW ataupun atsar sahabat tidak didapatkan siapakah sebenarnya nama dari sosok Dzulqarnain tersebut.
(mhy)
Lihat Juga :