Berkurban Sikap Kerelaan Menekan Ego Pribadi dan Kelompok
Selasa, 19 Juli 2022 - 08:11 WIB
loading...
Kurban merupakan ibadah untuk kepentingan spiritual, sosial serta kerelaan menekan ego pribadi dan kelompok. Foto ribuat umat Islam sholat Idul Adha di Masjid Istiqlal Jakarta, Minggu (10/7/2022). Foto/Dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Kurban merupakan ibadah yang merepresentasikan keikhalasan, ketaatan dan pengorbanan untuk kepentingan spiritual dan sosial. Selain aspek keagamaan, dalam kehidupan berbangsa makna kurban merupakan implementasi sikap kerelaan untuk menekan ego pribadi dan kelompok untuk kepentingan mashlahah yang lebih besar.
Hal itu disampaikan Dosen Pasca Sarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ), Suaib Tahir. Menurutnya, Idul Adha beberapa hari lalu memiliki makna yang sangat dalam bagi umat Islam.
Baca juga: Makna Kurban Sejatinya Pangkas Sikap Intoleran dan Eksklusif
Ia menilai berkurban adalah bentuk pencegahan terhadap sikap egois, dengan melatih diri untuk menekan hawa nafsu dan kerelaan untuk berbuat sesuatu yang mendatangkan maslahah bagi orang banyak.
“Jika manusia mampu menekan hawa nafsu dan menyadari bahwa berkurban bukan saja dapat pahala tetapi juga bisa memberi makan bagi orang lain. Mereka yang memiliki kepedulian tinggi terhadap orang lain pasti mampu menekan egoisme dan kepentingan kelompoknya,” ujarnya, dikutip Selasa (19/7/2022).
Dia melanjutkan, makna kurban dalam Islam sendiri memiliki arti yang dalam dan menjadi panutan bagi umat. Selain karena ini merupakan tuntunan dalam agama juga sebagai panutan bagi Sayyidul Anbiya Nabi Ibrahim AS, yang telah rela dan bersedia mengorbankan apa yang dia cintai dalam hidupnya yaitu anaknya Nabi Ismail yang merupakan putra Siti Hajar.
“Karena apa yang dilakukan Nabi Ibrahim merupakan bentuk totalitas dari kepatuhan dan kecintaan terhadap Tuhannya sehingga ia rela mengorbankan apa yang dia cintai dalam hidupnya,” jelas Direktur Damar Institute ini.
Baca juga: Khutbah Idul Adha: Kurban sebagai Perwujudan Takwa
Sejatinya sikap saling membantu dan tolong menolong dalam segala hal merupakan output yang diharapkan oleh Allah SWT kepada umatnya dalam memperingati Idul Kurban.
“Salah satu output yg diharapkan Allah dari umatnya adalah bagaimsna seseorang bisa totalitas dalam beragama artinya semua aspek kehidupan seseorang harus selalu erat kaitannya dengan kebersamaan solidaritss saling mrmbantu dan tolong menolong dalam segala hal,” ujar anggota Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI)ini.
Hal itu disampaikan Dosen Pasca Sarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ), Suaib Tahir. Menurutnya, Idul Adha beberapa hari lalu memiliki makna yang sangat dalam bagi umat Islam.
Baca juga: Makna Kurban Sejatinya Pangkas Sikap Intoleran dan Eksklusif
Ia menilai berkurban adalah bentuk pencegahan terhadap sikap egois, dengan melatih diri untuk menekan hawa nafsu dan kerelaan untuk berbuat sesuatu yang mendatangkan maslahah bagi orang banyak.
“Jika manusia mampu menekan hawa nafsu dan menyadari bahwa berkurban bukan saja dapat pahala tetapi juga bisa memberi makan bagi orang lain. Mereka yang memiliki kepedulian tinggi terhadap orang lain pasti mampu menekan egoisme dan kepentingan kelompoknya,” ujarnya, dikutip Selasa (19/7/2022).
Dia melanjutkan, makna kurban dalam Islam sendiri memiliki arti yang dalam dan menjadi panutan bagi umat. Selain karena ini merupakan tuntunan dalam agama juga sebagai panutan bagi Sayyidul Anbiya Nabi Ibrahim AS, yang telah rela dan bersedia mengorbankan apa yang dia cintai dalam hidupnya yaitu anaknya Nabi Ismail yang merupakan putra Siti Hajar.
“Karena apa yang dilakukan Nabi Ibrahim merupakan bentuk totalitas dari kepatuhan dan kecintaan terhadap Tuhannya sehingga ia rela mengorbankan apa yang dia cintai dalam hidupnya,” jelas Direktur Damar Institute ini.
Baca juga: Khutbah Idul Adha: Kurban sebagai Perwujudan Takwa
Sejatinya sikap saling membantu dan tolong menolong dalam segala hal merupakan output yang diharapkan oleh Allah SWT kepada umatnya dalam memperingati Idul Kurban.
“Salah satu output yg diharapkan Allah dari umatnya adalah bagaimsna seseorang bisa totalitas dalam beragama artinya semua aspek kehidupan seseorang harus selalu erat kaitannya dengan kebersamaan solidaritss saling mrmbantu dan tolong menolong dalam segala hal,” ujar anggota Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia (MUI)ini.
Lihat Juga :