Mengapa Rasulullah SAW Tidak Memakai Mukjizat Suprarasional untuk Buktikan Kebenaran Ajarannya?
Rabu, 20 Juli 2022 - 16:19 WIB
loading...
Nabi Muhammad tidak menggunakan hal-hal yang bersifat suprarasional sebagai bukti kebenaran ajarannya. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
M Quraish Shihab mengatakan bahwa kenabian Muhammad SAW bukan merupakan hal yang baru bagi umat manusia. Nabi Muhammad secara tegas diperintahkan untuk menyatakan hal itu. Allah SWT berfirman:
"Katakanlah, 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul. Aku tidak mengetahui yang diperbuat terhadapku, tidak juga terhadapmu. Aku tidak lain hanya mengikuti yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.'" ( QS Al-Ahqaf [46] : 9)
Namun demikian, kata Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan Al-Quran ", kenabian Muhammad SAW berbeda dengan kenabian utusan Tuhan yang lain.
Sebelum beliau, para Nabi dan Rasul diutus untuk masyarakat dan waktu tertentu, tetapi Nabi Muhammad SAW diutus untuk seluruh manusia di setiap waktu dan tempat, "Katakanlah (hai Muhammad), 'Wahai seluruh manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu semua'" ( QS Al-A'raf [7] : 158)
Baca juga: Kisah Nabi Muhammad SAW Gelisah Menanti Wahyu yang Sempat Terhenti
Quraish Shihab mengatakan ada sementara orientalis yang menduga bahwa pada mulanya Nabi Muhammad SAW hanya bermaksud mengajarkan agamanya kepada orang-orang Arab, tetapi setelah beliau berhasil di Madinah, beliau memperluas dakwahnya untuk seluruh manusia.
"Pendapat ini sungguh keliru, karena sejak di Mekkah beliau telah menegaskan bahwa beliau diutus untuk seluruh manusia," ujar Quraish Shihab.
Surat Al-Araf ayat 158, turun ketika Nabi SAW sedang berada di Mekkah, bahkan menurut sementara ulama, semua ayat Al-Qur'an yang dimulai dengan panggilan "Wahai seluruh manusia," semuanya turun di Mekkah kecuali beberapa ayat.
Baca juga: Kisah Nabi Muhammad Mendamaikan Suku yang Bertikai
Beda dengan Nabi Lain
Perbedaan yang lain adalah para nabi sebelum beliau selalu mengaitkan kenabian dengan hal-hal yang bersifat suprarasional, baik berbentuk sihir, pengetahuan gaib, mimpi-mimpi, dan lain-lain.
"Katakanlah, 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul. Aku tidak mengetahui yang diperbuat terhadapku, tidak juga terhadapmu. Aku tidak lain hanya mengikuti yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.'" ( QS Al-Ahqaf [46] : 9)
Namun demikian, kata Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan Al-Quran ", kenabian Muhammad SAW berbeda dengan kenabian utusan Tuhan yang lain.
Sebelum beliau, para Nabi dan Rasul diutus untuk masyarakat dan waktu tertentu, tetapi Nabi Muhammad SAW diutus untuk seluruh manusia di setiap waktu dan tempat, "Katakanlah (hai Muhammad), 'Wahai seluruh manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu semua'" ( QS Al-A'raf [7] : 158)
Baca juga: Kisah Nabi Muhammad SAW Gelisah Menanti Wahyu yang Sempat Terhenti
Quraish Shihab mengatakan ada sementara orientalis yang menduga bahwa pada mulanya Nabi Muhammad SAW hanya bermaksud mengajarkan agamanya kepada orang-orang Arab, tetapi setelah beliau berhasil di Madinah, beliau memperluas dakwahnya untuk seluruh manusia.
"Pendapat ini sungguh keliru, karena sejak di Mekkah beliau telah menegaskan bahwa beliau diutus untuk seluruh manusia," ujar Quraish Shihab.
Surat Al-Araf ayat 158, turun ketika Nabi SAW sedang berada di Mekkah, bahkan menurut sementara ulama, semua ayat Al-Qur'an yang dimulai dengan panggilan "Wahai seluruh manusia," semuanya turun di Mekkah kecuali beberapa ayat.
Baca juga: Kisah Nabi Muhammad Mendamaikan Suku yang Bertikai
Beda dengan Nabi Lain
Perbedaan yang lain adalah para nabi sebelum beliau selalu mengaitkan kenabian dengan hal-hal yang bersifat suprarasional, baik berbentuk sihir, pengetahuan gaib, mimpi-mimpi, dan lain-lain.
Lihat Juga :