Kisah Akhir Kekuasaan Yahudi di Jazirah Arab, setelah Kalah Perang dengan Muslim
Rabu, 27 Juli 2022 - 05:15 WIB
loading...
Perang Khaibar akhrinya mengakhiri kekuasaan Yahudi di Jazirah Arab. Foto/Ilustrasi: Is
A
A
A
Pada perang Khaibar adalah pertempura antara kaum Muslim dan Yahudi di 150 kilometer dari Kota Madinah. Perang ini berlangsung sangat sengit, walau pada akhirnya dimenangkan pasukan muslim yang dipimpin langsung Rasulullah SAW .
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" memaparkan pasukan muslim mesti menguasai benteng-benteng kaum Yahudi yang sangat kokoh. Pengepungan benteng Zubair, misalnya, terjadi cukup lama disertai dengan pertempuran yang sengit pula. Sungguh pun begitu mereka tidak juga berhasil menaklukkannya.
Baca juga: Kisah Rasulullah SAW Pimpin 1.600 Orang Pasukan Serang Yahudi Khaibar
Baru setelah akhirnya saluran air ke benteng itu diputuskan, pihak Yahudi terpaksa keluar dan dengan mati-matian mereka memerangi kaum Muslimin sekalipun mereka itu akhirnya lari juga.
Dengan demikian benteng-benteng itu satu demi satu jatuh ke tangan Muslimin yang berakhir pada benteng Watih dan Sulalim dalam kelompok perbentengan Katiba, dua buah benteng terakhir yang kukuh dan kuat.
Sejak itulah perasaan putus-asa mulai merayap ke dalam hati kaum Yahudi. Mereka pun akhirnya minta damai. Semua harta-benda mereka di dalam benteng-benteng asy-Syiqq, Natat dan Katiba diserahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disita, asal nyawa mereka diselamatkan.
Permohonan ini oleh Nabi diterima. Dibiarkannya mereka itu tinggal di kampung halaman mereka, yang menurut hukum penaklukan sudah berada di bawah kekuasaannya. Mereka akan mendapat separoh hasil buah-buahan daerah itu sebagai imbalan atas tenaga kerja mereka.
Nabi Muhammad memperlakukan Yahudi Khaibar tidak sama seperti terhadap Yahudi Banu Qainuqa dan Banu Nadzir tatkala mereka dikosongkan dari kampung halaman itu; sebab dengan jatuhnya Khaibar ini beliau sudah merasa terjamin dari adanya bahaya Yahudi dan yakin pula bahwa mereka sama sekali tidak akan bisa lagi mengadakan perlawanan.
Di samping itu, di Khaibar terdapat pula beberapa perkebunan, ladang dan kebun-kebun kurma. Semua ini masih memerlukan tenaga-tenaga ahli yang cukup banyak untuk mengolahnya dan yang akan dapat pula mengurus pengolahan itu dengan cara yang sebaik-baiknya.
Baca juga: Kisah Dzil Bijadain: Pengantin Baru yang Syahid dalam Perang Khaibar
Kendatipun kaum muslim asal Madinah terdiri dari penduduk yang bercocok tanam, tanah mereka pun sangat pula memerlukan tenaga mereka. Mengingat, bahwa Nabi juga sangat memerlukan tentara untuk angkatan perangnya, maka beliau tidak suka membiarkan mereka semua itu bercocok tanam.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" memaparkan pasukan muslim mesti menguasai benteng-benteng kaum Yahudi yang sangat kokoh. Pengepungan benteng Zubair, misalnya, terjadi cukup lama disertai dengan pertempuran yang sengit pula. Sungguh pun begitu mereka tidak juga berhasil menaklukkannya.
Baca juga: Kisah Rasulullah SAW Pimpin 1.600 Orang Pasukan Serang Yahudi Khaibar
Baru setelah akhirnya saluran air ke benteng itu diputuskan, pihak Yahudi terpaksa keluar dan dengan mati-matian mereka memerangi kaum Muslimin sekalipun mereka itu akhirnya lari juga.
Dengan demikian benteng-benteng itu satu demi satu jatuh ke tangan Muslimin yang berakhir pada benteng Watih dan Sulalim dalam kelompok perbentengan Katiba, dua buah benteng terakhir yang kukuh dan kuat.
Sejak itulah perasaan putus-asa mulai merayap ke dalam hati kaum Yahudi. Mereka pun akhirnya minta damai. Semua harta-benda mereka di dalam benteng-benteng asy-Syiqq, Natat dan Katiba diserahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disita, asal nyawa mereka diselamatkan.
Permohonan ini oleh Nabi diterima. Dibiarkannya mereka itu tinggal di kampung halaman mereka, yang menurut hukum penaklukan sudah berada di bawah kekuasaannya. Mereka akan mendapat separoh hasil buah-buahan daerah itu sebagai imbalan atas tenaga kerja mereka.
Nabi Muhammad memperlakukan Yahudi Khaibar tidak sama seperti terhadap Yahudi Banu Qainuqa dan Banu Nadzir tatkala mereka dikosongkan dari kampung halaman itu; sebab dengan jatuhnya Khaibar ini beliau sudah merasa terjamin dari adanya bahaya Yahudi dan yakin pula bahwa mereka sama sekali tidak akan bisa lagi mengadakan perlawanan.
Di samping itu, di Khaibar terdapat pula beberapa perkebunan, ladang dan kebun-kebun kurma. Semua ini masih memerlukan tenaga-tenaga ahli yang cukup banyak untuk mengolahnya dan yang akan dapat pula mengurus pengolahan itu dengan cara yang sebaik-baiknya.
Baca juga: Kisah Dzil Bijadain: Pengantin Baru yang Syahid dalam Perang Khaibar
Kendatipun kaum muslim asal Madinah terdiri dari penduduk yang bercocok tanam, tanah mereka pun sangat pula memerlukan tenaga mereka. Mengingat, bahwa Nabi juga sangat memerlukan tentara untuk angkatan perangnya, maka beliau tidak suka membiarkan mereka semua itu bercocok tanam.
Lihat Juga :