Pidato Husein saat 77 Orang Pengikutnya Berhadapan dengan 30.000 Orang Pasukan Muawiyah
Kamis, 28 Juli 2022 - 15:56 WIB
loading...
A
A
A
“Siapa dia,” tanya Husein. “Aku rasa dia adalah Syimr bin Dzil Jausyan” lanjut beliau.
“Ya, dia adalah Syimr,” jawab para sahabat. “Hei Syimr, engkau lebih layak masuk ke neraka dari pada aku."
Baca juga: Kisah Karomah Cucu Nabi, Imam Husain bin Ali
Muslim bin Ausajah maju dan meminta izin dari Imam Husein untuk membidikkan anak panahnya ke arah Syimr. Imam melarang dan mengatakan, “Aku tidak ingin menjadi pihak yang memulai.”
Husein memandang ke arah pasukan Bani Umayyah, lalu mengangkat tangannya ke atas dan berdoa, “Ya Allah, Husein-Mu selalu bertawakkal dan menyerahkan diri kepada-Mu. Engkaulah harapanku saat menghadapi kesulitan. Aku menyerahkan segalanya kepada-Mu. Ya Allah betapa banyak masalah yang Engkau selesaikan setelah aku menyerahkannya kepada-Mu."
"Betapa banyak kesulitan yang meluluhkan orang perkasa sekalipun menjadi mudah bagiku saat aku mengajukannya kehadirat-Mu. Ya Allah, sekarang ini pun aku menyerahkan diriku dan segala urusanku kepada-Mu."
Setelah itu, Husein meminta kudanya yang bernama Dzul Janah dan melesat ke arah barisan pasukan Kufah. Persis di hadapan mereka beliau berhenti dan mengatakan:
“Wahai kalian semua! Jangan terburu-buru dan gegabah dalam mengambil tindakan. Pikirkan sejenak dan dengarkanlah kata-kata dan nasihatku. Sebab kalian berhak untuk mendengarnya dariku. Jika kalian mau mendengar dan memikirkannya, jalan kebahagiaan akan terbentang di hadapan kalian. Jika tidak lakukanlah apa yang kalian mau dan selesaikanlah urusan ini secepatnya. Ketahuilah bahwa Allah adalah Tuanku. Dialah yang menurunkan kitab suci dan melindungi hamba-
hambaNya.”
Suara tangis histeris mengiringi kata-kata Husein, sehingga beliau meminta adiknya, Abul Fadhl Abbas untuk mendiamkan mereka dan berkata: “Abbas, suruh mereka berhenti sebab masih banyak musibah yang akan mereka alami dan masih banyak kesempatan untuk menguras air mata.”
Baca juga: Muawiyah Masuk Islam pada Peristiwa Umrah Qadha'?
Setelah suara tangisan reda, beliau meneruskan: “Maha Suci Allah yang telah menjadikan dunia sebagai tempat kefanaan dan menjadikan umat manusia sebagai penonton perubahan yang terjadi di dalamnya."
"Karenanya, siapa saja yang melihat dunia bagai sesuatu yang agung berarti dia telah menipu dirinya sendiri. Barang siapa yang terjebak di dalam tipu daya dunia, hanya kesengsaraanlah yang diadapatkan."
"Karenanya, jangan biarkan dunia menipu kalian! Sebab dunia akan mengandaskan seluruh harapan dan angan-angan pecintanya. Mengapa kalian cenderung mengikuti orang-orang yang hanya akan menjerumuskan kalian ke dalam murka dan amarah Allah?"
"Betapa Allah maha baik dan bijaksana dan betapa buruknya kalian sebagai hamba-Nya."
“Ya, dia adalah Syimr,” jawab para sahabat. “Hei Syimr, engkau lebih layak masuk ke neraka dari pada aku."
Baca juga: Kisah Karomah Cucu Nabi, Imam Husain bin Ali
Muslim bin Ausajah maju dan meminta izin dari Imam Husein untuk membidikkan anak panahnya ke arah Syimr. Imam melarang dan mengatakan, “Aku tidak ingin menjadi pihak yang memulai.”
Husein memandang ke arah pasukan Bani Umayyah, lalu mengangkat tangannya ke atas dan berdoa, “Ya Allah, Husein-Mu selalu bertawakkal dan menyerahkan diri kepada-Mu. Engkaulah harapanku saat menghadapi kesulitan. Aku menyerahkan segalanya kepada-Mu. Ya Allah betapa banyak masalah yang Engkau selesaikan setelah aku menyerahkannya kepada-Mu."
"Betapa banyak kesulitan yang meluluhkan orang perkasa sekalipun menjadi mudah bagiku saat aku mengajukannya kehadirat-Mu. Ya Allah, sekarang ini pun aku menyerahkan diriku dan segala urusanku kepada-Mu."
Setelah itu, Husein meminta kudanya yang bernama Dzul Janah dan melesat ke arah barisan pasukan Kufah. Persis di hadapan mereka beliau berhenti dan mengatakan:
“Wahai kalian semua! Jangan terburu-buru dan gegabah dalam mengambil tindakan. Pikirkan sejenak dan dengarkanlah kata-kata dan nasihatku. Sebab kalian berhak untuk mendengarnya dariku. Jika kalian mau mendengar dan memikirkannya, jalan kebahagiaan akan terbentang di hadapan kalian. Jika tidak lakukanlah apa yang kalian mau dan selesaikanlah urusan ini secepatnya. Ketahuilah bahwa Allah adalah Tuanku. Dialah yang menurunkan kitab suci dan melindungi hamba-
hambaNya.”
Suara tangis histeris mengiringi kata-kata Husein, sehingga beliau meminta adiknya, Abul Fadhl Abbas untuk mendiamkan mereka dan berkata: “Abbas, suruh mereka berhenti sebab masih banyak musibah yang akan mereka alami dan masih banyak kesempatan untuk menguras air mata.”
Baca juga: Muawiyah Masuk Islam pada Peristiwa Umrah Qadha'?
Setelah suara tangisan reda, beliau meneruskan: “Maha Suci Allah yang telah menjadikan dunia sebagai tempat kefanaan dan menjadikan umat manusia sebagai penonton perubahan yang terjadi di dalamnya."
"Karenanya, siapa saja yang melihat dunia bagai sesuatu yang agung berarti dia telah menipu dirinya sendiri. Barang siapa yang terjebak di dalam tipu daya dunia, hanya kesengsaraanlah yang diadapatkan."
"Karenanya, jangan biarkan dunia menipu kalian! Sebab dunia akan mengandaskan seluruh harapan dan angan-angan pecintanya. Mengapa kalian cenderung mengikuti orang-orang yang hanya akan menjerumuskan kalian ke dalam murka dan amarah Allah?"
"Betapa Allah maha baik dan bijaksana dan betapa buruknya kalian sebagai hamba-Nya."
Lihat Juga :