Peristiwa Muharram: Nabi Ibrahim Dibakar setelah Merusak 73 Tuhan Namrudz
Sabtu, 30 Juli 2022 - 14:49 WIB
loading...
A
A
A
Allah mewahyukan kepada mereka, “Wahai para malaikat-Ku, apabila dia (Ibrahim) meminta pertolongan dari kalian, maka tolonglah dia!” Maka Malaikat Mikail AS datang kepada Ibrahim AS. dan berkata, “Hai Ibrahim, apabila engkau menginginkan agar aku menurunkan hujan kepadamu dan memadamkan api ini tentu pada saat ini juga aku melakukannya.” Ibrahim AS menjawab, “Aku tidak membutuhkanmu.”
Kemudian Malaikat Jibril datang dan berkata, “Wahai Ibrahim, apakah engkau perlu bantuan?” Ibrahim menjawab, “Adapun kepadamu, maka aku tidak membutuhkannya. Cukuplah bagiku Dia mengetahui keadaanku.”
Tiba-tiba sebuah panggilan dari atas menyeru, “Wahai Jibril, kepakkanlah sayapmu kepada api!” Atas seruan itu, Jibril mengepakkan sayapnya sehingga api itu padam dan api itu telah dijadikan dingin dan tidak mencelakakan. Dalilnya adalah firman Allah: Kami berfirman, “Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” ( QS 21 : 69).
Dari sisi Nabi Ibrahim, Allah mengalirkan air yang dingin, dari sisi api ada pohon delima, dan Nabi Ibrahim diberi ranjang (tempat tidur) dari surga yang di atasnya ada hamparan dari sutra, mahkota dan perhiasan, yang keduanya dipakai oleh Nabi Ibrahim. Dia duduk di atas ranjang dalam keadaan yang paling nyaman semenjak dia dilemparkan ke dalam api.
Pada saat itu, Namrudz yang dijauhkan dari rahmat Allah pergi ke suatu tempat yang tinggi. Dia ingin melihat bagaimana jadinya Ibrahim. Tiba-tiba ada percikan api mengenai baju Namrudz dan membakar ke semua bajunya kecuali badannya. Dia tidak terbakar oleh api agar tahu bahwa api tidak akan membahayakan siapapun kecuali dengan seizin Allah, tetapi semua itu tidak dijadikan bahan pelajaran oleh Namrudz.
Baca juga: Nabi Ibrahim Menyuruh Nabi Isma'il Ceraikan Istrinya, Ini Sebabnya
73 Berhala
Menurut Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas, pembakaran terhadap Nabi Ibrahim tersebut terjadi ketika beliau baru berusia 17 tahun. Kala itu, Nabi Ibrahim telah banyak bergaul dengan banyak orang. Satu ketika ia diajak ke perayaan yang disebut sebagai perayaan tuhan-tuhan mereka. “Mari berangkat bersama kami ke perayaan tuhan-tuhan kami.”
Berhala-berhala tersebut ditempatkan dalam satu bangunan yang terbuat dari batu pualam putih dan hijau. Di sana terdapat 73 berhala yang diletakkan di atas kursi terbuat dari emas.
Berhala yang terbesar di kepalanya ada mahkota bertakhtakan mutiara yang indah, memiliki dua mata yang terbuat dari yakut merah, dan di kanan dan kirinya berjejer berhala-berhala yang lain.
Pada waktu hari raya, kaum itu suka membuat makanan dan meletakkannya di antara berhala-berhala dan setan-setan mengambilnya sehingga mereka menyangka bahwa berhala-berhala telah memakannya. Hal itu membuat mereka bahagia dan berkata, “Tuhan kami telah meridhai kami. Sebab itu, dia telah memakan makanan itu.”
Pada saat itu, kaum tersebut membuat makanan lalu meletakkannya di hadapan berhala di atas sebuah hidangan. Kemudian kaum itu pergi ke lapangan untuk merayakan hari raya. Hanya Ibrahim yang tidak pergi dan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku sakit” ( QS 37 : 89). Maka, mereka berkata, “Tinggalkan saja dia. Mungkin saja wabah kolera telah menimpanya.”
Kemudian Malaikat Jibril datang dan berkata, “Wahai Ibrahim, apakah engkau perlu bantuan?” Ibrahim menjawab, “Adapun kepadamu, maka aku tidak membutuhkannya. Cukuplah bagiku Dia mengetahui keadaanku.”
Tiba-tiba sebuah panggilan dari atas menyeru, “Wahai Jibril, kepakkanlah sayapmu kepada api!” Atas seruan itu, Jibril mengepakkan sayapnya sehingga api itu padam dan api itu telah dijadikan dingin dan tidak mencelakakan. Dalilnya adalah firman Allah: Kami berfirman, “Hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim” ( QS 21 : 69).
Dari sisi Nabi Ibrahim, Allah mengalirkan air yang dingin, dari sisi api ada pohon delima, dan Nabi Ibrahim diberi ranjang (tempat tidur) dari surga yang di atasnya ada hamparan dari sutra, mahkota dan perhiasan, yang keduanya dipakai oleh Nabi Ibrahim. Dia duduk di atas ranjang dalam keadaan yang paling nyaman semenjak dia dilemparkan ke dalam api.
Pada saat itu, Namrudz yang dijauhkan dari rahmat Allah pergi ke suatu tempat yang tinggi. Dia ingin melihat bagaimana jadinya Ibrahim. Tiba-tiba ada percikan api mengenai baju Namrudz dan membakar ke semua bajunya kecuali badannya. Dia tidak terbakar oleh api agar tahu bahwa api tidak akan membahayakan siapapun kecuali dengan seizin Allah, tetapi semua itu tidak dijadikan bahan pelajaran oleh Namrudz.
Baca juga: Nabi Ibrahim Menyuruh Nabi Isma'il Ceraikan Istrinya, Ini Sebabnya
73 Berhala
Menurut Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas, pembakaran terhadap Nabi Ibrahim tersebut terjadi ketika beliau baru berusia 17 tahun. Kala itu, Nabi Ibrahim telah banyak bergaul dengan banyak orang. Satu ketika ia diajak ke perayaan yang disebut sebagai perayaan tuhan-tuhan mereka. “Mari berangkat bersama kami ke perayaan tuhan-tuhan kami.”
Berhala-berhala tersebut ditempatkan dalam satu bangunan yang terbuat dari batu pualam putih dan hijau. Di sana terdapat 73 berhala yang diletakkan di atas kursi terbuat dari emas.
Berhala yang terbesar di kepalanya ada mahkota bertakhtakan mutiara yang indah, memiliki dua mata yang terbuat dari yakut merah, dan di kanan dan kirinya berjejer berhala-berhala yang lain.
Pada waktu hari raya, kaum itu suka membuat makanan dan meletakkannya di antara berhala-berhala dan setan-setan mengambilnya sehingga mereka menyangka bahwa berhala-berhala telah memakannya. Hal itu membuat mereka bahagia dan berkata, “Tuhan kami telah meridhai kami. Sebab itu, dia telah memakan makanan itu.”
Pada saat itu, kaum tersebut membuat makanan lalu meletakkannya di hadapan berhala di atas sebuah hidangan. Kemudian kaum itu pergi ke lapangan untuk merayakan hari raya. Hanya Ibrahim yang tidak pergi dan berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku sakit” ( QS 37 : 89). Maka, mereka berkata, “Tinggalkan saja dia. Mungkin saja wabah kolera telah menimpanya.”
Lihat Juga :