Peristiwa Muharram: Allah SWT Sembuhkan Nabi Ayyub setelah 18 Tahun Sakit Parah
Minggu, 31 Juli 2022 - 16:08 WIB
loading...
Pada 10 Muharram Allah menyembuhkan Nabi Ayyub setelah selama 18 tahun menderita sakit parah. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Pada 10 Muharram , Allah SWT memberi kesembuhan kepada Nabi Ayyub setelah selama 18 sakit parah. Ini adalah buah sikap Nabi Ayyub yang sabar dan tawakkal. Beliau menganggap sakitnya adalah ujian bagi dirinya. Beliau pun senantiasa berdoa agar disembuhkan dari sakitnya itu.
Syaikh Umar Sulaiman al-Asyqor dalam bukunya berjudul "Kisah-Kisah Shahih Dalam Al-Qur’an dan Sunnah" menyebutkan dari seluruh keterangan dalam Al-Qur'an dan hadis dapat diambil kesimpulan bahwa sebelum menderita sakit, hidup Ayyub penuh dengan kenikmatan, kehidupannya makmur.
Allah SWT menganugerahkan harta, keluarga dan anak kepadanya, kemudian Allah berkehendak untuk mengujinya. Maka Dia mengambil harta dan anaknya, badannya pun berpenyakit.
Orang-orang yang dikumpulkan oleh nikmat di sekelilingnya mulai menjauhinya. Orang dekat dan orang jauh menghindarinya. Yang masih baik kepadanya hanyalah istrinya dan dua orang dari sahabatnya yang mulia.
Baca juga: Doa Nabi Ayyub yang Membuat Iblis Jengkel dan Marah
Kedua orang ini sering mengunjunginya dan Ayyub terhibur karenanya. Salah seorang dari keduanya memikirkan keadaan Ayub yang telah diuji sekian lama. Ayyub menanggung itu selama delapan belas tahun dan Allah belum mengangkat apa yang menimpanya.
Terbersit di pikiran orang ini bahwa cobaan Ayyub itu mungkin dikarenakan dosa besar yang pernah diperbuat oleh Ayyub. Orang ini mengatakan apa yang ada di pikirannya kepada temannya, dan temannya ini pun tidak kuasa menyimpan apa yang dikatakan oleh rekannya.
Dia mengatakan hal itu kepada Ayyub. Hal ini membuat Ayyub sangat bersedih, maka dia menceritakan keadaannya secara terbuka dan menepis anggapan tersebut.
Pada waktu Ayyub sehat dan bugar, dia melihat dua orang saling bertikai dan keduanya menyebut nama Allah. Ayub pulang ke rumahnya dan bersedekah atas nama keduanya, karena dia khawatir nama Allah disebut kecuali dalam kebenaran.
Di sanalah Ayub menghadap kepada Tuhannya dengan doa memohon dari-Nya agar ujiannya diangkat, "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." ( QS. Al-Anbiya : 83). "Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan." ( QS Shad : 41)
Syaikh Umar Sulaiman al-Asyqor dalam bukunya berjudul "Kisah-Kisah Shahih Dalam Al-Qur’an dan Sunnah" menyebutkan dari seluruh keterangan dalam Al-Qur'an dan hadis dapat diambil kesimpulan bahwa sebelum menderita sakit, hidup Ayyub penuh dengan kenikmatan, kehidupannya makmur.
Allah SWT menganugerahkan harta, keluarga dan anak kepadanya, kemudian Allah berkehendak untuk mengujinya. Maka Dia mengambil harta dan anaknya, badannya pun berpenyakit.
Orang-orang yang dikumpulkan oleh nikmat di sekelilingnya mulai menjauhinya. Orang dekat dan orang jauh menghindarinya. Yang masih baik kepadanya hanyalah istrinya dan dua orang dari sahabatnya yang mulia.
Baca juga: Doa Nabi Ayyub yang Membuat Iblis Jengkel dan Marah
Kedua orang ini sering mengunjunginya dan Ayyub terhibur karenanya. Salah seorang dari keduanya memikirkan keadaan Ayub yang telah diuji sekian lama. Ayyub menanggung itu selama delapan belas tahun dan Allah belum mengangkat apa yang menimpanya.
Terbersit di pikiran orang ini bahwa cobaan Ayyub itu mungkin dikarenakan dosa besar yang pernah diperbuat oleh Ayyub. Orang ini mengatakan apa yang ada di pikirannya kepada temannya, dan temannya ini pun tidak kuasa menyimpan apa yang dikatakan oleh rekannya.
Dia mengatakan hal itu kepada Ayyub. Hal ini membuat Ayyub sangat bersedih, maka dia menceritakan keadaannya secara terbuka dan menepis anggapan tersebut.
Pada waktu Ayyub sehat dan bugar, dia melihat dua orang saling bertikai dan keduanya menyebut nama Allah. Ayub pulang ke rumahnya dan bersedekah atas nama keduanya, karena dia khawatir nama Allah disebut kecuali dalam kebenaran.
Di sanalah Ayub menghadap kepada Tuhannya dengan doa memohon dari-Nya agar ujiannya diangkat, "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." ( QS. Al-Anbiya : 83). "Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan." ( QS Shad : 41)
Lihat Juga :