Kisah Raja Sriwijaya Kirim Surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz
Minggu, 07 Agustus 2022 - 19:37 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Islam Masuk ke Jawa: Kisah Sultan Al-Ghabbah Sampai Ruqyah Syaikh Subakir
Interaksi kerajaan-kerajaan besar itu menyisakan banyak peninggalan arkeologis dan bukti-bukti sejarah. Pada abad ke-7-8 (ke-1-2 H), Muslim Persia dan Arab turut serta dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan hingga ke negeri China.
Pada masa pemerintahan Tai Tsung (627-650), kaisar ke-2 Dinasti Tang, diberitakan datang empat orang Muslim dari Jazirah Arabia. Mereka menetap di Canton (Guangzhou), di Kota Chow, dan bermukim di Coang Chow.
Sejarah Islam di China juga mencatat nama Sa'ad bin Abi Waqqas , seorang mubalig dan sahabat Nabi Muhammad SAW mendirikan masjid di Canton atau Masjid Wa-Zhin-Zi (masjid kenangan atas nabi).
Tak heran bila sampai sekarang kaum Muslim China membanggakan sejarah Islam di negeri mereka karena dibawa langsung oleh sahabat dekat Nabi Muhammad SAW sendiri. Sejak abad ke-7/8, semakin banyak Muslim berdatangan ke negeri China baik sebagai pedagang maupun mubalig yang melakukan penyebaran Islam.
Raja Sriwijaya
Sumber-sumber China pun memberitakan informasi tentang adanya pemukiman Muslim Arab di pesisir pantai Sumatra abad ke-7. Pada tahun 718 M/100 H, Srindravarman, seorang Raja Sriwijaya, mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Bani Umayyah yang saat itu sedang maju pesat.
Raja meminta agar khalifah mengirimkan utusan yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Surat itu berbunyi:
“Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang istrinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah.
Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.”
Setelah sekitar dua tahun terjadi interaksi, Raja Srindravarman pun masuk Islam. “Sribuza Islam" kemudian menjadi nama yang dikenal untuk Sriwijaya Jambi.
Baca juga: Hagia Sophia Pintu Masuk Dakwah Islam ke Daratan Eropa
Interaksi kerajaan-kerajaan besar itu menyisakan banyak peninggalan arkeologis dan bukti-bukti sejarah. Pada abad ke-7-8 (ke-1-2 H), Muslim Persia dan Arab turut serta dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan hingga ke negeri China.
Pada masa pemerintahan Tai Tsung (627-650), kaisar ke-2 Dinasti Tang, diberitakan datang empat orang Muslim dari Jazirah Arabia. Mereka menetap di Canton (Guangzhou), di Kota Chow, dan bermukim di Coang Chow.
Sejarah Islam di China juga mencatat nama Sa'ad bin Abi Waqqas , seorang mubalig dan sahabat Nabi Muhammad SAW mendirikan masjid di Canton atau Masjid Wa-Zhin-Zi (masjid kenangan atas nabi).
Tak heran bila sampai sekarang kaum Muslim China membanggakan sejarah Islam di negeri mereka karena dibawa langsung oleh sahabat dekat Nabi Muhammad SAW sendiri. Sejak abad ke-7/8, semakin banyak Muslim berdatangan ke negeri China baik sebagai pedagang maupun mubalig yang melakukan penyebaran Islam.
Raja Sriwijaya
Sumber-sumber China pun memberitakan informasi tentang adanya pemukiman Muslim Arab di pesisir pantai Sumatra abad ke-7. Pada tahun 718 M/100 H, Srindravarman, seorang Raja Sriwijaya, mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Bani Umayyah yang saat itu sedang maju pesat.
Raja meminta agar khalifah mengirimkan utusan yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Surat itu berbunyi:
“Dari Raja di Raja yang adalah keturunan seribu raja, yang istrinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Allah.
Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.”
Setelah sekitar dua tahun terjadi interaksi, Raja Srindravarman pun masuk Islam. “Sribuza Islam" kemudian menjadi nama yang dikenal untuk Sriwijaya Jambi.
Baca juga: Hagia Sophia Pintu Masuk Dakwah Islam ke Daratan Eropa
Lihat Juga :