Kisah Raja Sriwijaya Kirim Surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz
Minggu, 07 Agustus 2022 - 19:37 WIB
loading...
Pada tahun 718 M/100 H, Srindravarman, seorang Raja Sriwijaya, mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Kekhalifahan Bani Umayyah. Foto/Ilusrasi: Ist
A
A
A
Kisah Raja Sriwijaya mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjadi bagian penting teori Arab tentang masuknya Islam ke Nusantara atau Indonesia.
Berdasarkan tempat, kalangan sejarawan membagi masuknya Agama Tauhid ini ke Indonesia dalam lima teori yakni teori Arab, China, Persia, India, dan Turki. Pada artikel ini kali kita ulas teori Arab yang antara lain terdapat kisah Raja Sriwijaya berkirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Teori ini menyatakan bahwa Islam dibawa dan disebarkan ke Nusantara langsung dari Arab pada abad ke-7/8 saat Kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya.
Dalam buku berjudul "Islam dan Transformasi Masyarakat Nusantara" karya Moeflich Hasbullah disebutkan tokoh-tokoh teori Arab ini adalah Crawfurd, Keijzer, Niemann, de Hollander, Hasymi, Hamka, al-Attas, Djajadiningrat dan Mukti Ali, J.C. van Leur, T.W. Arnold.
Baca juga: Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia Menurut 4 Teori
Argumen dan bukti-bukti sejarah teori ini sangat kuat. Selat Malaka pada abad ke-7/8 sudah ramai dilintasi para pedagang Muslim dalam pelayaran dagang mereka ke negeri-negeri Asia Tenggara dan Asia Timur.
Berdasarkan berita China zaman T'ang pada abad tersebut, masyarakat Muslim sudah ada di Kanfu (Kanton) dan Sumatra.
Para pedagang itu kemungkinan besar adalah utusan-utusan Bani Umayah . Kedatangan mereka dalam rangka penjajakan perdagangan sebelum datang dalam jumlah massal pada abad-abad berikutnya.
Demikian juga Buya Hamka . Menurutnya, Islam masuk ke Indonesia tahun 674 M berdasarkan catatan Tiongkok bahwa saat itu datang seorang utusan raja Arab bernama Ta Cheh atau Ta Shi (kemungkinan Muawiyah bin Abu Sufyan ) ke Kerajaan Ho Ling (Kaling atau Kalingga) di Jawa yang diperintah oleh Ratu Shima.
Ta-Shih juga ditemukan dari berita Jepang yang ditulis tahun 748 M. Diceritakan pada masa itu terdapat kapal-kapal Posse dan Ta-shih K-uo. Menurut Rose Di Meglio, istilah “Po-sse” menunjukkan jenis bahasa Melayu, tapi “Ta-shih” hanya untuk menunjukkan orang-orang Arab dan Persia, bukan Muslim India.
Di Barus, Tapanuli, huruf “Ha-Mim” ditemukan dalam sebuah makam tahun 670. Mengingat pada abad ke-7, kawasan Asia Tenggara merupakan lalu lintas perdagangan dan interaksi politik antara tiga kekuasaan besar yang sedang kuat. Yaitu China di bawah Dinasti Tang (618-907), Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7-14), dan Dinasti Umayyah (660-749), maka semua fakta tersebut tidaklah mengherankan.
Berdasarkan tempat, kalangan sejarawan membagi masuknya Agama Tauhid ini ke Indonesia dalam lima teori yakni teori Arab, China, Persia, India, dan Turki. Pada artikel ini kali kita ulas teori Arab yang antara lain terdapat kisah Raja Sriwijaya berkirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Teori ini menyatakan bahwa Islam dibawa dan disebarkan ke Nusantara langsung dari Arab pada abad ke-7/8 saat Kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya.
Dalam buku berjudul "Islam dan Transformasi Masyarakat Nusantara" karya Moeflich Hasbullah disebutkan tokoh-tokoh teori Arab ini adalah Crawfurd, Keijzer, Niemann, de Hollander, Hasymi, Hamka, al-Attas, Djajadiningrat dan Mukti Ali, J.C. van Leur, T.W. Arnold.
Baca juga: Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia Menurut 4 Teori
Argumen dan bukti-bukti sejarah teori ini sangat kuat. Selat Malaka pada abad ke-7/8 sudah ramai dilintasi para pedagang Muslim dalam pelayaran dagang mereka ke negeri-negeri Asia Tenggara dan Asia Timur.
Berdasarkan berita China zaman T'ang pada abad tersebut, masyarakat Muslim sudah ada di Kanfu (Kanton) dan Sumatra.
Para pedagang itu kemungkinan besar adalah utusan-utusan Bani Umayah . Kedatangan mereka dalam rangka penjajakan perdagangan sebelum datang dalam jumlah massal pada abad-abad berikutnya.
Demikian juga Buya Hamka . Menurutnya, Islam masuk ke Indonesia tahun 674 M berdasarkan catatan Tiongkok bahwa saat itu datang seorang utusan raja Arab bernama Ta Cheh atau Ta Shi (kemungkinan Muawiyah bin Abu Sufyan ) ke Kerajaan Ho Ling (Kaling atau Kalingga) di Jawa yang diperintah oleh Ratu Shima.
Ta-Shih juga ditemukan dari berita Jepang yang ditulis tahun 748 M. Diceritakan pada masa itu terdapat kapal-kapal Posse dan Ta-shih K-uo. Menurut Rose Di Meglio, istilah “Po-sse” menunjukkan jenis bahasa Melayu, tapi “Ta-shih” hanya untuk menunjukkan orang-orang Arab dan Persia, bukan Muslim India.
Di Barus, Tapanuli, huruf “Ha-Mim” ditemukan dalam sebuah makam tahun 670. Mengingat pada abad ke-7, kawasan Asia Tenggara merupakan lalu lintas perdagangan dan interaksi politik antara tiga kekuasaan besar yang sedang kuat. Yaitu China di bawah Dinasti Tang (618-907), Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7-14), dan Dinasti Umayyah (660-749), maka semua fakta tersebut tidaklah mengherankan.
Lihat Juga :