Benarkah Perselisihan Umat Islam sebagai Rahmat?
Senin, 15 Agustus 2022 - 10:45 WIB
loading...
Perselisihan seringkali memicu perang. Apakah hal semacam itu sebagai rahmat? Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Benarkah perselisihan umat Islam sebagai rahmat ? Pertanyaan ini patut disampaikan karena seringnya para dai mengutip yang mereka klaim sebagai hadis yang berbunyi: "Perselisihan di antara umatku adalah rahmat."
Syaikh Muhammad Nashruddin al-Albani dalam kitabnya berjudul "Silsilatul-Ahaadiits adh-Dhaifah wal Maudhu'ah wa Atsaruhas-Sayyi' fil-Ummah" yang telah diterjemahkan A.M. Basamalah dengan judul "Silsilah Hadits Dha'if dan Maudhu'" menyebut bahwa hadis tersebut tidak ada sumbernya.
Baca juga: 4 Hadis Palsu tentang Dunia Menurut Syaikh Al-Albani
Para pakar hadis telah berusaha mendapatkan sumbernya dengan meneliti dan menelusuri sanadnya, namun tidak menemukannya. As-Subuki mengatakan, "Hadis tersebut tidak dikenal di kalangan para pakar hadis dan saya pun tidak menjumpai sanadnya yang sahih, dha'if ataupun maudhu'."
Pernyataan itu ditegaskan dan disepakati Syaikh Zakaria al-Anshari dalam mengomentari tafsir al-Baidhawi II/92. Di situ ia mengatakan, "Dari segi maknanya terasa sangat aneh dan menyalahi apa yang diketahui para ulama peneliti."
Ibnu Hazem dalam al-Ahkam fi Ushulil-Ahkam, V/64 menyatakan, "Ini bukan hadis."
Barangkali ini termasuk sederetan ucapan yang paling merusak dan membawa bencana. Bila perselisihan dan pertentangan merupakan rahmat, pastilah kesepakatan dan kerukunan itu merupakan kutukan.
Ini tidak mungkin diucapkan apalagi diyakini oleh kaum muslimin yang berpikir tenang dan teliti. Masalahnya, hanya dua alternatif yakni bersepakat atau berselisih,yang berarti pula rahmat atau kutukan (kemurkaan).
Baca juga: Berikut Ini Hadis Dha'if Mengenai Kiamat dan Hadis Palsu tentang Al-Mahdi
Menurut al-Albani, kata-kata ini akan berdampak negatif bagi umat Islam dari masa ke masa. Perselisihan yang disebabkan perbedaan antar mazhab benar-benar telah mencapai klimaksnya, bahkan para pengikut mazhab yang fanatik tidak segan-segannya mengkafirkan pengikut mazhab lain.
Syaikh Muhammad Nashruddin al-Albani dalam kitabnya berjudul "Silsilatul-Ahaadiits adh-Dhaifah wal Maudhu'ah wa Atsaruhas-Sayyi' fil-Ummah" yang telah diterjemahkan A.M. Basamalah dengan judul "Silsilah Hadits Dha'if dan Maudhu'" menyebut bahwa hadis tersebut tidak ada sumbernya.
Baca juga: 4 Hadis Palsu tentang Dunia Menurut Syaikh Al-Albani
Para pakar hadis telah berusaha mendapatkan sumbernya dengan meneliti dan menelusuri sanadnya, namun tidak menemukannya. As-Subuki mengatakan, "Hadis tersebut tidak dikenal di kalangan para pakar hadis dan saya pun tidak menjumpai sanadnya yang sahih, dha'if ataupun maudhu'."
Pernyataan itu ditegaskan dan disepakati Syaikh Zakaria al-Anshari dalam mengomentari tafsir al-Baidhawi II/92. Di situ ia mengatakan, "Dari segi maknanya terasa sangat aneh dan menyalahi apa yang diketahui para ulama peneliti."
Ibnu Hazem dalam al-Ahkam fi Ushulil-Ahkam, V/64 menyatakan, "Ini bukan hadis."
Barangkali ini termasuk sederetan ucapan yang paling merusak dan membawa bencana. Bila perselisihan dan pertentangan merupakan rahmat, pastilah kesepakatan dan kerukunan itu merupakan kutukan.
Ini tidak mungkin diucapkan apalagi diyakini oleh kaum muslimin yang berpikir tenang dan teliti. Masalahnya, hanya dua alternatif yakni bersepakat atau berselisih,yang berarti pula rahmat atau kutukan (kemurkaan).
Baca juga: Berikut Ini Hadis Dha'if Mengenai Kiamat dan Hadis Palsu tentang Al-Mahdi
Menurut al-Albani, kata-kata ini akan berdampak negatif bagi umat Islam dari masa ke masa. Perselisihan yang disebabkan perbedaan antar mazhab benar-benar telah mencapai klimaksnya, bahkan para pengikut mazhab yang fanatik tidak segan-segannya mengkafirkan pengikut mazhab lain.
Lihat Juga :