Azyumardi Azra: Islam Pemersatu Berbagai Suku di Nusantara
Minggu, 21 Agustus 2022 - 15:31 WIB
loading...
A
A
A
Ketiga, sejak masa ini pula berlangsung perdebatan-perdebatan intelektual di kalangan para ulama Nusantara mengenai subjek-subjek keagamaan tertentu. Di antara subjek yang paling banyak diperbincangkan adalah doktrin dan penafsiran konsep Wahdah al-wujud yang dirumuskan sufi besar, Ibnu Arabi.
Perdebatan dan perbincangan tentang subjek ini, mencerminkan dinamika intelektualitas Islam di Nusantara.
Baca juga: Kisah Laksamana Cheng Ho Menyebarkan Islam di Nusantara
Tradisi keilmuan di Nusantara menurut Ahmad Baso, sebagaimana dikutip Azyumardi Azra, mempunyai sanad dan bersambung langsung hingga ke Nabi Muhammad SAW. Untuk itu Islam di Nusantara menjadi bagian Islam Aswaja dan berkarakter bermazhab. Karena lewat jalur mazhab inilah sebuah sanad keilmuan dan keagamaan bisa terjamin keaslian dan kemurniannya hingga ke Rasulullah SAW.
"Jadi Islam di Nusantara memiliki mata rantai warisan para ulama, nenek moyang yang telah menyatukan cara beragama di Nusantara dengan Rasulullah SAW," ujar Ahmad Baso, sebagaimana dikutip Azyumardi Azra dalam bukunya berjudul "Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal".
Syaikh Jumadil Kubro
Di sisi lain, Ahmad Baso mengaakan faktor pendorong Islam masuk ke Nusantara ialah karena ulama-ulama yang mengembara dari Timur Tengah melihat Nusantara sebagai masa depan Islam.
Salah satu ulama tersebut ialah Syaikh Jumadil Kubro, ketika Syaikh Jumadil Kubro datang ke Jawa, ia kagum akan kebesaran Majapahit. Terutama setelah mendengar cerita-cerita heroik yang beredar di masa itu, bahwa orang-orang Jawa berani mengalahkan dan mengusir bangsa Mongol dari Nusantara. Ini berbeda dengan nasib negeri asalnya di Arab yang mudah ditaklukan oleh bangsa Mongol.
Sementara di Tanah Jawa, bangsa Mongol yang ditakuti itu kalah dan terusir di tahun 1293 di tangan Raden Wijaya, Raja pertama Majapahit. Karena itulah, Syaikh Jumadil Kubro yakin bahwa Nusantara adalah masa depan Islam, bahwa di Nusantara juga Islam akan berkembang lebih
Baca juga: Perjalanan Syekh Jumadil Kubro Menyebarkan Islam di Majapahit
Kesultanan
Menurut Azyumardi, Islam Nusantara atau Islam Asia Tenggara merupakan bagian integral Islam global. Hal ini bisa dilihat dari kegigihan penguasa Nusantara yang ingin mendapatkan gelar dari penguasa Timur Tengah.
Dalam buku "Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan", Azyumardi menjelaskan, bahwa, ketika Islamisasi kepulauan Nusantara berlangsung dalam gelombang besar pada paruh kedua abad ke-13, pada saat itu juga adanya konversi penguasa ke Islam, etnisitas politik yang selama ini dikenal sebagai “kerajaan”, kini resmi disebut “kesultanan”.
Perdebatan dan perbincangan tentang subjek ini, mencerminkan dinamika intelektualitas Islam di Nusantara.
Baca juga: Kisah Laksamana Cheng Ho Menyebarkan Islam di Nusantara
Tradisi keilmuan di Nusantara menurut Ahmad Baso, sebagaimana dikutip Azyumardi Azra, mempunyai sanad dan bersambung langsung hingga ke Nabi Muhammad SAW. Untuk itu Islam di Nusantara menjadi bagian Islam Aswaja dan berkarakter bermazhab. Karena lewat jalur mazhab inilah sebuah sanad keilmuan dan keagamaan bisa terjamin keaslian dan kemurniannya hingga ke Rasulullah SAW.
"Jadi Islam di Nusantara memiliki mata rantai warisan para ulama, nenek moyang yang telah menyatukan cara beragama di Nusantara dengan Rasulullah SAW," ujar Ahmad Baso, sebagaimana dikutip Azyumardi Azra dalam bukunya berjudul "Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal".
Syaikh Jumadil Kubro
Di sisi lain, Ahmad Baso mengaakan faktor pendorong Islam masuk ke Nusantara ialah karena ulama-ulama yang mengembara dari Timur Tengah melihat Nusantara sebagai masa depan Islam.
Salah satu ulama tersebut ialah Syaikh Jumadil Kubro, ketika Syaikh Jumadil Kubro datang ke Jawa, ia kagum akan kebesaran Majapahit. Terutama setelah mendengar cerita-cerita heroik yang beredar di masa itu, bahwa orang-orang Jawa berani mengalahkan dan mengusir bangsa Mongol dari Nusantara. Ini berbeda dengan nasib negeri asalnya di Arab yang mudah ditaklukan oleh bangsa Mongol.
Sementara di Tanah Jawa, bangsa Mongol yang ditakuti itu kalah dan terusir di tahun 1293 di tangan Raden Wijaya, Raja pertama Majapahit. Karena itulah, Syaikh Jumadil Kubro yakin bahwa Nusantara adalah masa depan Islam, bahwa di Nusantara juga Islam akan berkembang lebih
Baca juga: Perjalanan Syekh Jumadil Kubro Menyebarkan Islam di Majapahit
Kesultanan
Menurut Azyumardi, Islam Nusantara atau Islam Asia Tenggara merupakan bagian integral Islam global. Hal ini bisa dilihat dari kegigihan penguasa Nusantara yang ingin mendapatkan gelar dari penguasa Timur Tengah.
Dalam buku "Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan", Azyumardi menjelaskan, bahwa, ketika Islamisasi kepulauan Nusantara berlangsung dalam gelombang besar pada paruh kedua abad ke-13, pada saat itu juga adanya konversi penguasa ke Islam, etnisitas politik yang selama ini dikenal sebagai “kerajaan”, kini resmi disebut “kesultanan”.
Lihat Juga :