Karomah Kiai As'ad, Mendatangkan Hujan Lokal saat Kemarau
Rabu, 07 September 2022 - 14:57 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, para petugas penyiram lapangan pun berlarian menuju rumah penduduk untuk berteduh. Ternyata hujan hanya turun di sekitar lapangan Sodung saja. Di luar lapangan itu, di perkampungan penduduk, sama sekali tak terjadi hujan.
“Di luar lapangan tidak terjadi hujan. Hujan hanya terjadi di lapangan sini saja,” ucap para petugas yang menyaksikan kejadian tersebut.
Dan juga, ternyata Presiden Suharto tidak jadi mendarat di lapangan Sodung. Helikopter Presiden justru mendarat di Lapangan Karang Telok yang tidak dipersiapkan untuk mendarat sebelumnya. Persis sebagaimana yang diucapkan Kiai As'ad bahwa Pak Harto tidak akan mendarat di lapangan Sodung.
Dalam buku Karomah Para Kiai karya Samsul Munir Amin dijelaskan bahwa kejadian bisa mendatangkan hujan dan juga bisa menghentikan hujan, bukanlah hanya pekerjaan pawang hujan.
Para kiai yang telah memiliki karomah bisa melakukan itu, sekalipun tidak ditunjukkan secara obral. Jika kita pernah mendengar bahwa Kiai Mahrus Ali Lirboyo bisa menghentikan hujan, Kiai As'ad malah sebaliknya, bisa mendatangkan hujan.
"Tentu saja, kejadian ganjil tersebut bukan semata-mata dilakukan oleh yang bersangkutan, akan tetapi atas kehendak dan izin Allah karena doa sang kiai yang maqbul," tulis Samsul Munir Amin.
Baca juga: Ibu Adalah Karomah bagi Anak-anaknya
Darah Bangsawan
Kiai As'ad lahir di perkampungan Syi'ib Ali, dekat Masjidil Haram, Mekkah, ketika kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji dan bermukim di sana untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman.
Kiai As'ad masih memiliki darah bangsawan dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Raden Ibrahim (yang kemudian lebih dikenal dengan nama KH Syamsul Arifin) adalah keturunan Sunan Kudus dari jalur sang ayah. Sedangkan dari pihak ibu masih memiliki garis keturunan dari Sunan Ampel.
Pada usia enam tahun, Kiai As'ad dibawa orang tuanya pulang ke Pamekasan dan tinggal di Pondok Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan, Madura. Setelah lima tahun tinggal di Pamekasan, Kiai As'ad diajak ayahnya untuk pindah ke Asembagus, Situbondo yang sekarang daerah tersebut masuk ke dalam kecamatan Banyuputih, Situbondo, daerah tersebut dulunya masih berupa hutan belantara yang terkenal angker dan dihuni oleh banyak binatang buas dan makhluk halus.
Kiai As'ad diajak ayahnya pindah ke pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam di sana.
Baca juga: Istiqamah Lebih Baik Daripada Seribu Karomah
Sebuah Tongkat
Pada tahun 1924, Syaikhona Kholil mengutus Kiai As'ad yang saat itu berumur 27 tahun untuk mengantarkan sebuah tongkat ke Kiai Hasyim Asy'ari, Tebuireng, Jombang dan menghafalkan Surat Thaha ayat 17-23 untuk dibacakan di hadapan Kiai Hasyim.
“Di luar lapangan tidak terjadi hujan. Hujan hanya terjadi di lapangan sini saja,” ucap para petugas yang menyaksikan kejadian tersebut.
Dan juga, ternyata Presiden Suharto tidak jadi mendarat di lapangan Sodung. Helikopter Presiden justru mendarat di Lapangan Karang Telok yang tidak dipersiapkan untuk mendarat sebelumnya. Persis sebagaimana yang diucapkan Kiai As'ad bahwa Pak Harto tidak akan mendarat di lapangan Sodung.
Dalam buku Karomah Para Kiai karya Samsul Munir Amin dijelaskan bahwa kejadian bisa mendatangkan hujan dan juga bisa menghentikan hujan, bukanlah hanya pekerjaan pawang hujan.
Para kiai yang telah memiliki karomah bisa melakukan itu, sekalipun tidak ditunjukkan secara obral. Jika kita pernah mendengar bahwa Kiai Mahrus Ali Lirboyo bisa menghentikan hujan, Kiai As'ad malah sebaliknya, bisa mendatangkan hujan.
"Tentu saja, kejadian ganjil tersebut bukan semata-mata dilakukan oleh yang bersangkutan, akan tetapi atas kehendak dan izin Allah karena doa sang kiai yang maqbul," tulis Samsul Munir Amin.
Baca juga: Ibu Adalah Karomah bagi Anak-anaknya
Darah Bangsawan
Kiai As'ad lahir di perkampungan Syi'ib Ali, dekat Masjidil Haram, Mekkah, ketika kedua orang tuanya menunaikan ibadah haji dan bermukim di sana untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman.
Kiai As'ad masih memiliki darah bangsawan dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Raden Ibrahim (yang kemudian lebih dikenal dengan nama KH Syamsul Arifin) adalah keturunan Sunan Kudus dari jalur sang ayah. Sedangkan dari pihak ibu masih memiliki garis keturunan dari Sunan Ampel.
Pada usia enam tahun, Kiai As'ad dibawa orang tuanya pulang ke Pamekasan dan tinggal di Pondok Pesantren Kembang Kuning, Pamekasan, Madura. Setelah lima tahun tinggal di Pamekasan, Kiai As'ad diajak ayahnya untuk pindah ke Asembagus, Situbondo yang sekarang daerah tersebut masuk ke dalam kecamatan Banyuputih, Situbondo, daerah tersebut dulunya masih berupa hutan belantara yang terkenal angker dan dihuni oleh banyak binatang buas dan makhluk halus.
Kiai As'ad diajak ayahnya pindah ke pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam di sana.
Baca juga: Istiqamah Lebih Baik Daripada Seribu Karomah
Sebuah Tongkat
Pada tahun 1924, Syaikhona Kholil mengutus Kiai As'ad yang saat itu berumur 27 tahun untuk mengantarkan sebuah tongkat ke Kiai Hasyim Asy'ari, Tebuireng, Jombang dan menghafalkan Surat Thaha ayat 17-23 untuk dibacakan di hadapan Kiai Hasyim.
Lihat Juga :