Mewujudkan Khaer Ummah: Pentingnya Wawasan Iqra dan Revolusi Akhlak

Jum'at, 16 September 2022 - 23:18 WIB
loading...
Mewujudkan Khaer Ummah:...
Presiden Nusantara Foundation Imam Shamsi Ali (kanan) menyampaikan poin-poin penting dalam mewujudkan umat terbaik. Foto/Ist
A A A
Imam Shamsi Ali
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation

Pada bagian pertama dari tulisan ini disebutkan bahwa membangun mindset atau wawasan yang benar tentang kehidupan dunia dan agama sekaligus, menjadi bagian dari pilar terpenting untuk terwujudnya Khaer Ummah (umat terbaik).

Poin ketiga ini yang saya simpulkan dalam kata-kata "wawasan Iqra". Bahwa umat ini harus kembali menyadari urgensi iqra tidak saja dalam agama. Tapi juga tidak kalah pentingnya pentingnya memiliki iqra' dalam memahami kehidupan dunia kita. Tentu lebih khusus lagi ketika kita sadar bahwa dunia kita saat ini mengalami perubahan yang tidak disangka-sangka (unexpected change).

Keempat, urgensi melakukan transformasi karakter. Tentu karakter yang dimaksud mencakup Karakter individual maupun karakter sosial. Karakter ini yang disebut dalam agama dengan akhlak yang menjadi esensi religiositas seseorang.

Karakter (behavior) atau akhlak menjadi sangat esensi dalam ajaran agama. Bahkan menjadi penentu religiositas seseorang. Artinya untuk seseorang dianggap beragama secara baik banyak ditentukan oleh bagaimana seseorang itu mampu membuktikan ajaran ini dalam prilakunya, baik pada tataran individu maupun tataran sosialnya.

Dan karenanya semua aspek ajaran ini menjadi jembatan bagi terbentuknya akhlak itu. Ibadah-ibadah bahkan aspek imaniyah (keimanan) agama ini harus terbuktikan oleh karakter. Yakin dengan Allah yang Maha melihat harusnya membangun karakter kejujuran. Sholat itu menjaga dari kekejian dan kemungkaran.

Realita itulah yang seolah disimpulkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak". Rasulullah SAW sendiri dalam Al-Qur'an secara khusus dipuji karena ketinggian akhlaknya: "Sesungguhnya engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang tinggi".

Disadari atau tidak, saat ini memang salah satu krisis terutama umat Islam adalah krisis Akhlak. Tidak berlebihan jika saya katakan bahwa umat tidak saja gagal membuktikan keindahan Islam. Tapi seperti yang disebutkan oleh seorang ulama: hampir saja Islam ini tertutupi oleh perilaku umat (yang buruk).

Pada tataran individu umat cenderung membatasi Islam sebagai acuan ritual sempit yang seringkali bersifat sememonial dan simbolik. Tapi tidak memiliki makna-makna (realita) sosial yang nyata dalam kehidupan. Akibatnya ritual-ritual itu pada akhirnya mengantar kepada kebangkrutan seperti pada hadits Rasulullah (lihat hadits al-muflis).

Beragama yang demikian mengantar kepada apa yang saya sebut dengan "split personality" atau kepribadian yang terpecah. Kepribadian seperti ini lebih dikenal dengan double standard personality (kepribadian ganda). Di masjid-masjid atau di Mekkah mereka adalah orang-orang yang religious. Ketika di pasar atau parlemen/kantor mereka kerap lebih buas dari hewan dalam perilaku/karakter.

Krisis karakter umat ini tentunya tidak saja pada tataran individu. Tapi juga pada tataran kolektif kebangsaan bahkan pada tataran global. Krisis karakter/akhlak menjadikan justeru negara-negara yang non mayoritas Muslim, Selandia Baru misalnya, lebih Islami ketimbang banyak negara yang berpenduduk mayoritas Muslim.

Oleh karenanya karakter kolektif bangsa negara-negara mayoritas Muslim perlu direformasi. Saya tidak tahu apakah ini yang disebut revolusi akhlak. Tapi terlepas dari pemahaman politis, umat ini perlu melakukan revolusi akhlak itu.

Jika tidak, keindahan Islam yang menjadi atraksi dan faktor terutama ketertarikan orang kepada agama ini menjadi terhalangi. Dilema terbesar tentunya adalah pertanyaan sebagian mereka yang tertarik kepada agama ini: "Jika saya masuk Islam, kira-kira Saya akan seperti siapa?".

Pertanyaan ini harusnya direspons oleh umat ini dengan: "lihat ke kami". Karena kami adalah representasi (Syuhada) ajaran Islam yang indah. Islam yang damai, ramah, bersahabat. Tapi juga Islam yang tidak mudah luntur dan hanyut kepada hawa nafsu orang lain.

Karakter seperti itulah yang dikenal dengan karakter "wasathiyah" yang menjadi karakter dasar umat. Bukankah umat ini memang ummatan wasathon?

(Bersambung)!

NYC Subway, 16 September 2022

Baca Juga: Pentingnya Mewujudkan Khaer Ummah
(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Khotbah Iduladha di...
Khotbah Iduladha di Lapangan Masjid Agung Al Azhar, Din Syamsuddin Tekankan Pentingnya Persatuan Umat Islam
Cara Orang Bisu Masuk...
Cara Orang Bisu Masuk Islam, Bagaimana Syahadatnya?
Promosi Islam ala Muslim...
Promosi Islam ala Muslim Asia Tenggara
Peran Strategis, Menag...
Peran Strategis, Menag Apresiasi Program Wanita Islam
Perbedaan Islam, Muslim,...
Perbedaan Islam, Muslim, dan Mukmin, Simak agar Tidak Keliru!
Apakah Yesus dan Nabi...
Apakah Yesus dan Nabi Isa Itu Sama? Simak Penjelasan Ustaz Felix Siauw dan Dondy Tan
Rekomendasi
Arkeolog Temukan Wajah...
Arkeolog Temukan Wajah Asli Pribumi Eropa di dalam Gua
Jejak Kaki Dinosaurus...
Jejak Kaki Dinosaurus Berukuran Sangat Besar Ditemukan di Inggris
Pria Ini Pencipta Bom...
Pria Ini Pencipta Bom Hidrogen Pertama di Dunia, tapi Dirahasiakan Hampir 50 Tahun
Artikel Terkini
Ayat-ayat Al Quran Tentang...
Ayat-ayat Al Quran Tentang Waktu Salat Fardhu
Khasiat Surat Al Waqiah...
Khasiat Surat Al Waqiah yang Jarang Diketahui: Rezeki Lancar, Hidup Berkah hingga Wajah Bercahaya di Akhirat
Kaitan Hari Kiamat dan...
Kaitan Hari Kiamat dan Rezeki dalam Surat Al Waqiah, Ternyata Ini Rahasianya
Surat Al Waqiah, Amalan...
Surat Al Waqiah, Amalan Istimewa bagi Muslimah untuk Memohon Rezeki dan Keberkahan Hidup
Urutan Mandi Wajib Setelah...
Urutan Mandi Wajib Setelah Haid yang Benar agar Sah Melaksanakan Ibadah Fardhu Lagi
Amalan Jumat: Raih Cahaya...
Amalan Jumat: Raih Cahaya dengan Membaca Surat Al-Kahfi
Infografis
Perbandingan Jumlah...
Perbandingan Jumlah Muslim antara India, Pakistan, dan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved