Kisah Raja Tubba' Batalkan Serang Madinah dan Robohkan Kakbah karena Nasihat Rabi Yahudi

loading...
Kisah Raja Tubba Batalkan Serang Madinah dan Robohkan Kakbah karena Nasihat Rabi Yahudi
Raja Tubba membatalkan niatnya merobohkan kakbah karena nasihat 2 orang rabi Yahudi. Raja ini kemudian memeluk agama Yahudi dan berdakwah kepada kaumnya. Foto/Ilustrasi: Ist
Raja Tubba, raja kaum Saba, membatalkan menyerang Madinah dan Kakbah setelah mendengar saran 2 orang pendeta atau rabi Yahudi. Madinah, kata rabi Yahudi itu, akan menjadi tempat hijrah seorang nabi akhir zaman. Sedangkan Kakbah adalah tempat suci yang dibangun Ibrahim as kekasih Allah.

Peristiwa ini terjadi 700 tahun sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW . Ibnu Katsir saat menafsirkan surat Ad-Dukhan ayat 36 mengangkat kisah Raja Tubba tersebut.

Baca juga: Kisah Negeri Saba yang Subur dan Makmur, Diazab Allah Taala karena Dihuni Penyembah Matahari

Menurut Ibnu Katsir , dahulu orang-orang Himyar (yakni kaum Saba') mengangkat seorang raja. Mereka menjuluki raja tersebut dengan gelar Tubba'. Hal ini seperti Kisra bagi Raja Persia, Kaisar bagi Raja Romawi, Fir’aun bagi Raja Mesir, Negus bagi Raja Habsyah, dan julukan-julukan lainnya yang berlaku di kalangan tiap bangsa.

Sebagian dari para Tubba' ini ada yang keluar dari negeri Yaman dan menjelajahi berbagai negeri hingga sampai di Samarkand.

Di tanah pengembaraan para Tubba' mendirikan kerajaan. Mereka memiliki balatentara yang kuat. Kerajaannya luas, dan rakyatnya banyak. Pendiri dan yang membangun kota Hirah adalah Tubba'.

Diriwayatkan, Raja Tubba pada saat melalui kota Madinah bermaksud memerangi penduduknya. Hanya saja, penduduk Madinah mempertahankan diri dan memerangi mereka di siang hari, sedangkan di malam harinya penduduk Madinah menjamu mereka. Akhirnya raja itu malu terhadap penduduk Madinah dan akhirnya dia tidak lagi memerangi mereka.

Raja itu membawa serta dua orang pendeta Yahudi yang pernah menasihatinya. Keduanya menceritakan kepada rajanya bahwa tiada cara baginya untuk menaklukkan kota Madinah ini, karena sesungguhnya kota ini kelak akan dijadikan tempat hijrah nabi akhir zaman.

Selanjutnya si raja meneruskan perjalanannya, dan membawa serta kedua pendeta Yahudi itu ke negeri Yaman.

Ketika raja itu melewati Mekkah, ia berkehendak akan merobohkan Kakbah, tetapi kedua pendeta Yahudi itu melarangnya. Keduanya menceritakan kepadanya kebesaran dari Kakbah itu, bahwa Kakbah tersebut dibangun oleh Ibrahim kekasih Allah, dan kelak di masa mendatang Kakbah akan mempunyai kedudukan yang besar di masa nabi yang akan diutus di akhir zaman nanti.

Baca juga: Orang Pertama yang Menutup Ka'bah dengan Kain Kiswah

Akhirnya si Raja itu menghormati Baitullah. Ia melakukan tawaf di sekelilingnya dan memberinya kain kelambu dari sutera, hadiah-hadiah, dan berbagai macam pakaian, serta menyembelih kurban di dekat kakbah sebanyak 6000 ekor unta. Peristiwa ini terjadi di masa orang-orang Jurhum.

Kemudian ia kembali meneruskan perjalanannya menuju negeri Yaman. Dia sana ia menyeru penduduk Yaman untuk beragama Yahudi sama dengan dirinya. Di masa itu agama yang tersebar adalah agama Nabi Musa as. Di negeri Yaman terdapat sebagian orang yang mendapat hidayah sebelum Al-Masih diutus. Akhirnya sebagian penduduk Yaman masuk agama Yahudi mengikuti jejak rajanya.

Raja Dimasyq
Kisah ini secara panjang lebar diceritakan oleh Imam Muhammad Ibnu Ishaq di dalam Kitabus Sirah-nya. Al-Hafiz Ibnu Asakir juga telah mengetengahkan biografi raja ini di dalam kitab tarikhnya.

Ibnu Asakir mengatakan bahwa raja tersebut adalah Raja Dimasyq. Disebutkan bahwa apabila memeriksa kudanya, maka dibariskan untuknya kuda-kuda dari kota Dimasyq sampai ke Yaman.

Kemudian Al-Hafiz ibnu Asakir mengetengahkan melalui jalur Abdur Razzaq dari Ma'mar dari Ibnu Abu Zi-b dari Al-Maqbari, dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW yang telah bersabda:

"مَا أَدْرِي الْحُدُودُ طَهَّارَةٌ لِأَهْلِهَا أَمْ لَا؟ وَلَا أَدْرِي تُبَّعٌ لَعِينًا كَانَ أَمْ لَا؟ وَلَا أَدْرِي ذُو الْقَرْنَيْنِ نَبِيًّا كَانَ أَمْ مَلِكًا؟ " وَقَالَ غَيْرُهُ: "أَعُزَيْرًا كَانَ نَبِيًّا أَمْ لَا؟ ".

Aku tidak mengetahui apakah hukuman had itu dapat membersihkan pelakunya (dari dosa yang dilakukannya) ataukah tidak? Dan aku tidak mengetahui apakah Tubba' itu dikutuk ataukah tidak; dan aku tidak mengetahui apakah Dzulqarnain itu seorang nabi ataukah seorang raja? Dan di dalam riwayat lain disebutkan: (Aku tidak mengetahui) apakah Uzair itu seorang nabi ataukah bukan?

Baca juga: Kesaksian Shafiyah: Ini Mengapa sang Ayah yang Tokoh Yahudi Madinah Menolak Masuk Islam

Kemudian Ibnu Asakir mengetengahkan riwayat yang melarang mencaci dan melaknat Tubba'. Seakan-akan pada awalnya Tubba' kafir, lalu masuk Islam dan mengikuti agama Musa as di tangan pendeta-pendeta Yahudi di masa itu yang berada pada jalan kebenaran sebelum Al-Masih diutus.
halaman ke-1
preload video