Terjadinya Musibah dan Malapetaka, Berawal karena Seringnya Meremehkan Dosa

loading...
Terjadinya Musibah dan Malapetaka, Berawal karena Seringnya Meremehkan Dosa
Penyebab datangnya bencana dan musibah ternyata karena akibat ulah kita sendiri, misalnya karena sering meremehkan dosa. Foto ilustrasi/inews
Terjadinya musibah, bencana dan malapetaka yang terjadi pada diri seseorang, keluarga, hingga masyarakat, bisa jadi karena adanya dosa-dosa yang diremehkan oleh manusia. Mereka lalai untuk senantiasa beristighfar atau bertaubat kepada Allah Ta'ala.

Karena itu, hendaknya setiap muslim jangan sekali-kali meremehkan sebuah dosa , meskipun dosa kecil. Sebab dosa kecil ditambah dosa kecil ditambah dosa kecil lainnya dan seterusnya akan menjadi segunung dosa, bahkan bisa menjadi dosa besar.

Imam Ath Tahbarani rahimahullah berkata:

"Sesungguhnya selalu melakukan dosa-dosa kecil maka hukumnya adalah hukum pelaku sebuah dosa besar, menurut pendapat yang terkenal (diantara para ulama)". (Lihat Kitab Al Mu'jam Al Awsath, karya Ath Thabrani).

Baca juga: 5 Penyebab Bencana dan Musibah Menurut Al-Qur'an

Bilal bin Sa'ad seorang tabi'in rahimahullah berkata:

"Janganlah kamu lihat kepada kecilnya sebuah maksiat akan tetapi lihatlah agungnya yang kamu maksiati".

Tentang meremehkan dosa ini, Ustadz Dr Syafik Riza Basalamah dalam salah satu kajian ceramahnya menjelskan, sebuah bala itu tidak turun melainkan disebabkan dosa. Dan tidak diangkat kecuali dengan bertaubat.” Bala itu turun karena dosa dan diangkat karena taubat. "Kita memohon ampun atas semua dosa. Yang mungkin seluruh penduduk bumi ini tidak tahu dengan dosa kita. Maka kita minta ampun. Dan bisa jadi kita pernah berburuk sangka kepada Allah yang kita sendiri tidak tahu bahwa engkau telah berbuat dosa,"jelasnya.

Sebagi muslim, kita harus meniru teladan kita Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Beliau selalu memohon ampun dan bertubat kepada Allah SWT. “Dan aku minta ampun dari segala dosa yang Engkau lebih tahu daripada aku.” Itulah doa yang selalu dipanjatkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Ini termasuk doa yang pendek tapi mengandung permohonan ampunan kepada Allah yang sangat luas sekali.

Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengajarkan kepada kita untuk membaca istighfar, beliau juga mengajarkan untuk membaca rabbigh firli, tapi beliau juga mengajarkan kepada kita doa-doa yang begitu indahnya. Begitulah, sebagian kita saat ini mengerjakan dosa tapi beranggapan bahwa itu bukan perbuatan dosa. Ini parah sekali. Apa penyebabnya? Tidak punya ilmu, tidak mau belajar. Dia berfikir yang dia kerjakan itu tidak mengapa. Standarnya mengatakan boleh dan tidak boleh itu apa? Apakah perasaan kita? Akal kita? Atau logika kita? Atau tradisi dan budaya yang ada lalu firman Allah dikesampingkan dan sabda Nabi ”Alaihish Shalatu was Salam dicampakkan?

Maka tidak sedikit manusia-manusia yang menganggap orang lain berlebih-lebihan dalam beragama, padahal dia yang menyepelekan agama. Mereka menganggap orang lain fanatik, sedangkan dia sudah mulai meninggalkan agamanya.

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّـهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ


“Apa saja yang kalian kehendaki, tidak bakal terjadi kecuali Allah menghendakinya. Allah pemilik alam semesta ini.” (QS. At-Takwir: 29)

Jika Allah mau menutup bumi ini? Bisa Allah Tutup! Jika Allah mau tenggelamkan bumi ini? Allah bisa tenggelamkan, Allah mau hapus sebuah negara dari peta dunia? Allah bisa hapus. Hal itu karena Dia adalah pemilik. Kita tahu bahwa kepemilikian manusia hanya sementara. Manusia hanya dititipkan, sedangkan yang berhak berbuat semaunya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ


“Allah berbuat apa yang Allah kehendaki.” (QS. Al-Buruj: 16)

Firman-Nya lagi :

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ


“Allah tidak ditanya kenapa Allah melakukan ini. tapi kalian yang ditanya tentang apa yang kalian kerjakan selama ini.” (QS. Al-Anbiya: 23)
halaman ke-1
preload video