Siapa yang Dimaksud Orang yang Tersesat di Surat Al-Fatihah?
Selasa, 27 September 2022 - 13:00 WIB
loading...
Tafsir Muyassar menjelaskan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang tidak diberi petunjuk dari kejahilan mereka hingga akibatnya mereka sesat jalan. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Siapa yang dimaksud orang yang tersesat di Surat Al-Fatihah ayat ke 7. Mengapa Al-Qur'an menggunakan terminologi ad-Dhoolliin (sesat) dalam ayat terakhir surat Al Fatihah tersebut)?
Meski terjadi silang pendapat para mufasir tentang perkiraan maksud dari ayat tersebut dan terkait makna dari lafadz tersebut, namun yang pasti, kataad-dhoolliin,secara bahasa dapat diartikan sebagai sesat, dan menyimpang dari kebenaran. Hal ini disebutkan dalam kamus Munawwir.
Baca juga: Tafsir Al-Fatihah Ayat 7: Golongan Orang yang Diberi Nikmat dan Dimurkai
Allah Ta'ala berfirman :
"(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau Beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al-Fatihah : 7).
Kitab 'Tafsir Muyassar' edisi juz 1 - 8 karya Syaikh 'Aidh Al Qarni menjelaskan bahwa dalam kehidupan ini ada jalan yang jelas dan terang. Dan jalan itu adalah jalan yang ditempuh para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan jalan orang-orang saleh.
Artinya, jalan tersebut bukan jalan orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mengamalkannya. Dan bukan pula jalan orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan. Sesat juga diartikan menjauh dari jalan kebenaran dan menyimpang dari jalan yang lurus.
Dalam 'Tafsir Muyassar' orang yang sesat tersebut adalah seperti halnya orang-orang nasrani. Tafsir Jalalain juga menjelaskan definisiad-Dhoolliinsebagai orang-orang nasrani sebab mereka bukanlah orang yang diberikan petunjuk oleh Allah Ta'ala. Ibn Kastir juga memaknai kata sesat dalam ayat di atas merujuk kepada orang nasrani yang mana mereka telah melakukan kesasatan.
Tafsir Muyassar juga menjelaskan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang tidak diberi petunjuk dari kejahilan mereka hingga akibatnya mereka sesat jalan. Mereka adalah orang-orang seperti nasrani dan orang-orang yang mengikuti jalan hidup mereka.
Meski terjadi silang pendapat para mufasir tentang perkiraan maksud dari ayat tersebut dan terkait makna dari lafadz tersebut, namun yang pasti, kataad-dhoolliin,secara bahasa dapat diartikan sebagai sesat, dan menyimpang dari kebenaran. Hal ini disebutkan dalam kamus Munawwir.
Baca juga: Tafsir Al-Fatihah Ayat 7: Golongan Orang yang Diberi Nikmat dan Dimurkai
Allah Ta'ala berfirman :
صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ
"(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau Beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (QS. Al-Fatihah : 7).
Kitab 'Tafsir Muyassar' edisi juz 1 - 8 karya Syaikh 'Aidh Al Qarni menjelaskan bahwa dalam kehidupan ini ada jalan yang jelas dan terang. Dan jalan itu adalah jalan yang ditempuh para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan jalan orang-orang saleh.
Artinya, jalan tersebut bukan jalan orang yang mengetahui kebenaran tapi tidak mengamalkannya. Dan bukan pula jalan orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan. Sesat juga diartikan menjauh dari jalan kebenaran dan menyimpang dari jalan yang lurus.
Dalam 'Tafsir Muyassar' orang yang sesat tersebut adalah seperti halnya orang-orang nasrani. Tafsir Jalalain juga menjelaskan definisiad-Dhoolliinsebagai orang-orang nasrani sebab mereka bukanlah orang yang diberikan petunjuk oleh Allah Ta'ala. Ibn Kastir juga memaknai kata sesat dalam ayat di atas merujuk kepada orang nasrani yang mana mereka telah melakukan kesasatan.
Tafsir Muyassar juga menjelaskan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang tidak diberi petunjuk dari kejahilan mereka hingga akibatnya mereka sesat jalan. Mereka adalah orang-orang seperti nasrani dan orang-orang yang mengikuti jalan hidup mereka.
Lihat Juga :