Kisah Keberkahan Halimah setelah Menyusui Muhammad SAW
Jum'at, 30 September 2022 - 15:08 WIB
loading...
Banyak keberkahan yang didapat Halimah begitu ia memutuskan menyusui bayi Muhammad. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Saat masih bayi Nabi Muhammad SAW disusui Halimah as-Sadiyah . Pada mulanya, Halimah tidak tertarik untuk menyusui bayi yang yatim itu. Namun karena tidak mendapatkan bayi lain, Halimah pun akhirnya menerima. Keputusan Halimah ini membawa berkah yang berlimpah.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menyebutkan bahwa pada waktu itu bangsawan Arab selalu menyerahkan bayi-bayi mereka kepada perempuan dari pedalaman untuk disusui. Tujuannya agar bayi-bayi itu terhindar dari penyakit yang biasa menyebar di perkotaan dan agar fisiknya bisa tumbuh sehat di tengah-tengah hawa pedalaman yang segar.
"Juga agar bayi-bayi mereka terlatih berbahasa Arab yang fasih sejak kecil. Abdul Muththalib pun mencari perempuan pedalaman yang mau menyusui cucunya," tulisnya.
Baca juga: 11 Keutamaan Memperingati Maulid Nabi Muhammad
Martin Lings menyebutkan keistimewaan hidup di pedesaan di antaranya: memiliki udara segar untuk pernafasan, bahasa Arab yang fasih untuk lidah, dan kebebasan bagi jiwa.
Haekal menulis pada hari kedelapan sesudah dilahirkan bayi anak bangsawan Mekkah biasanya dikirim ke pedalaman dan baru kembali pulang ke kota sesudah ia berumur delapan atau sepuluh tahun. Di kalangan kabilah-kabilah pedalaman yang terkenal dalam menyusukan ini di antaranya ialah kabilah Banu Sa'ad.
Fuad Abdurahman dalam bukunya berjudul "Jalan Damai Rasulullah: Risalah Rahmat bagi Semua" menceritakan sebelum diserahkan kepada tukang susu itu secara bergantian Aminah dan Tsuwaibah menyusui Muhammad. Thuwaiba adalah budak perempuan Abu Lahab.
Di sisi lain, perempuan yang biasa menyusui bayi masyarakat perkotaan mulai berdatangan mencari bayi-bayi yang akan disusui dengan sejumlah imbalan, dan mencari bayi yang ayahnya orang kaya.
Begitu datang rombongan para wanita yang biasa menyusui bayi dari Bani Sa'ad ke Mekkah maka Abdul Muthalib memberi tahu Halimah binti Abu Du’aib dari Bani Saad ibn Bakar atau Halimah Sa'diyah tentang cucunya yang baru beberapa hari lahir.
Pada mulanya, Halimah enggan menerima bayi Muhammad karena yatim. Perempuan-perempuan dari pedalaman itu tentu mengharapkan upah yang memadai untuk jasa menyusui selama dua tahun. Oleh sebab itu biasanya mereka menghindari bayi dengan status yatim seperti Muhammad.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" menyebutkan bahwa pada waktu itu bangsawan Arab selalu menyerahkan bayi-bayi mereka kepada perempuan dari pedalaman untuk disusui. Tujuannya agar bayi-bayi itu terhindar dari penyakit yang biasa menyebar di perkotaan dan agar fisiknya bisa tumbuh sehat di tengah-tengah hawa pedalaman yang segar.
"Juga agar bayi-bayi mereka terlatih berbahasa Arab yang fasih sejak kecil. Abdul Muththalib pun mencari perempuan pedalaman yang mau menyusui cucunya," tulisnya.
Baca juga: 11 Keutamaan Memperingati Maulid Nabi Muhammad
Martin Lings menyebutkan keistimewaan hidup di pedesaan di antaranya: memiliki udara segar untuk pernafasan, bahasa Arab yang fasih untuk lidah, dan kebebasan bagi jiwa.
Haekal menulis pada hari kedelapan sesudah dilahirkan bayi anak bangsawan Mekkah biasanya dikirim ke pedalaman dan baru kembali pulang ke kota sesudah ia berumur delapan atau sepuluh tahun. Di kalangan kabilah-kabilah pedalaman yang terkenal dalam menyusukan ini di antaranya ialah kabilah Banu Sa'ad.
Fuad Abdurahman dalam bukunya berjudul "Jalan Damai Rasulullah: Risalah Rahmat bagi Semua" menceritakan sebelum diserahkan kepada tukang susu itu secara bergantian Aminah dan Tsuwaibah menyusui Muhammad. Thuwaiba adalah budak perempuan Abu Lahab.
Di sisi lain, perempuan yang biasa menyusui bayi masyarakat perkotaan mulai berdatangan mencari bayi-bayi yang akan disusui dengan sejumlah imbalan, dan mencari bayi yang ayahnya orang kaya.
Begitu datang rombongan para wanita yang biasa menyusui bayi dari Bani Sa'ad ke Mekkah maka Abdul Muthalib memberi tahu Halimah binti Abu Du’aib dari Bani Saad ibn Bakar atau Halimah Sa'diyah tentang cucunya yang baru beberapa hari lahir.
Pada mulanya, Halimah enggan menerima bayi Muhammad karena yatim. Perempuan-perempuan dari pedalaman itu tentu mengharapkan upah yang memadai untuk jasa menyusui selama dua tahun. Oleh sebab itu biasanya mereka menghindari bayi dengan status yatim seperti Muhammad.
Lihat Juga :