Meneladani Rasulullah dalam Praktik Bernegara dan Berbangsa

Jum'at, 07 Oktober 2022 - 15:15 WIB
loading...
Meneladani Rasulullah dalam Praktik Bernegara dan Berbangsa
Ketua Program Studi Magister Ilmu Al-Quran dan Tafsir Institut PTIQ, Abdul Muid Nawawi mengatakan, Rasulullah memberikan banyak keteladan berbangsa dan bernegara. Foto/Ist
A A A
JAKARTA - Memasuki bulan Maulid, Nabi Muhammad, SAW. tentunya, memeriahkan suasana Maulid tidak hanya dalam konteks keagamaan. Namun juga dengan menghidupkan keteladanan bernegara yang diperjuangkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah memberikan banyak keteladan dalam aspek cara hidup berbangsa dan bernegara.

Baca juga: Keutamaan Maulid Nabi Muhammad yang Jarang Diketahui Orang

Ketua Program Studi Magister Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta, Abdul Muid Nawawi mengatakan, dalam hal berbangsa dan bernegara, hal utama yang bisa diteladani dari Rasulullah adalah akhlaknya.

Sebagaimana salah satu akhlak terpujinya adalah Al-Amin (dapat dipercaya), yang dibuktikan dengan bagaimana Rasulullah menjaga kesepakatan dan janji bersama.

“Kemuliaan akhlaknya. Dan yang dimaksud dengan kemuliaan akhlak disini secara spesifik adalah bahwa Rasulullah ini adalah orang yang memegang amanah, bergelar Al-Amin itu tadi yakni yang dapat dipercaya,” ujarAbdul Muid di Jakarta, Jumat (7/10/2022).

Dia menjelaskan, dalam konteksbernegara, Nabi Muhammad SAW menerapkan apa yang disebut Piagam Madinah, sebuah pakta atau perjanjian yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Madinah dengan segala perbedaan yang ada. Di antaranya perbedaan agama, suku, tradisi, atau perbedaan lainnya yang kemudian itu dirangkul dalam suatu tempat namanya Madinah.

Baca juga: Maulid Nabi: Kisah Alam Menyambut Lahirnya Rasulullah SAW

“Misalnya kita telah sepakat dengan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), maka menepati janji itu atau menepati kesepakatan itu adalah bagian dari kemuliaan akhlak yang bisa kita teladani, tidak kemudian memaksakan kehendak suatu kelompok baik mayoritas ataupun minoritas untuk dipaksakan. Kalaupun ada perubahan, maka perubahannya tentu lewat kesepakatan juga, bukan lewat pemaksaan,” urainya

Abdul Muid juga mengatakan, Pancasila sebagai dasar negara memiliki kemiripan dengan Piagam Madinah yang memiliki fungsi guna mempererat persatuan diatas perbedaan dan melindungi masyarakat Indonesia dari segala ancaman.

“Pancasila itu merangkul seluruh perbedaan yang ada. Perbedaan agama, perbedaan suku, perbedaan ras, perbedaan budaya, semua itu dirangkul oleh Pancasila. Bahkan termasuk juga perbedaan kepentingan politik juga dirangkul dengan Pancasila oleh Persatuan Indonesia,” ungkap anggota Gugus Tugas Pemuka Agama BNPT dari Pengurus Besar Darud Da’wah Wal Irsyad (PB DDI) ini.



Oleh karena itu, masyarakat bisa meneladani dan mengaktualisasikan semangat dalam membangun dan menjaga NKRI sebagaimana teladan Rasulullah dalam menjaga Madinah, dengan mensyukuri sepenuh hati nikmat besar yang diberikan Allah SWT kepada bangsa ini.

“Kita harus mensyukuri bahwa para pendiri bangsa kita ini adalah orang-orang yang sangat cerdas, terpetunjuk, dan jenius. Menurut saya di mana mereka telah mewariskan kepada kita bangsa ini dengan sangat baik. Tentunya ini adalah warisan yang patut kita syukuri. Dengan merawatnya, dan bagi yang menghianati itu berarti tidak mensyukuri,” ujarnya.

Abdul Muid juga menyinggung terkait asumsi yang beranggapan, bahwa konsep bernegara yang ada di negeri ini dianggap tidak sesuai dengan apa yang dibangun/digagas oleh Nabi Muhammad SAW, dan mempertentangkan Pancasila. Narasi yang demikian menurutnya bisa dilawan dengan dua cara.

“Pertama, kontra narasi.menarasikan hal-hal yang berbeda dengan mereka, menarasikan persatuan, menarasikan kebersamaan, menarasikan apapun yang penting bagi negara kita,” ucap pria yang pernah tegabung dalamIkatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini.

Kedua, dengan membuktikan dan mengaktualisasikan rasa persatuan, bahwa semua umat dan suku yang ada adalah saudara sebangsa setanah air, dengan begitu, rasa aman dan nyaman akan tumbuh ditengah masyarakat, sehingga meminimalisir ancaman-ancaman yang hendak merusak persatuan dan persaudaraan bangsa.

“Itulah yang dihadirkan oleh Rasulullah SAW, di mana tidak pernah ada non-muslim atau beda apapun yang terancam oleh kehadiran Rasulullah,” ujarda’i yang sering memberikan pencerahan kepada para napi terorisme dalam menjalankan program deradikalisasi

Terakhir, tidak hanya masyarakat namun dirinya juga berharap pemerintah mampu meneladani akhlak Rasulullah untuk senentiasa menjaga dan memberi contoh baik bagi rakyat agar terbangun negara yang aman, maju dan sejahtera.

“Harus punya satu hal, mereka harus terpuji, mereka tidak membuat buat katerpujian itu, mereka benar-benar melakukan hal-hal yang diinginkan oleh rakyat. sehingga rakyat benar-benar merasa kehadirannya benar-benar bermanfaat bagi seluruh rakyat,” pungkasnya.
(shf)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1900 seconds (11.97#12.26)