3 Maqam Seorang Mukmin Meningkatkan Kualitas Jiwanya
Kamis, 13 Oktober 2022 - 14:21 WIB
loading...
Secara garis besar tahapan seorang mukmin untuk meningkatkan kualitas jiwanya terdiri dari 3 maqam. Maqam pertama adalah zikir. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Secara garis besar tahapan seorang mukmin untuk meningkatkan kualitas jiwanya terdiri dari 3 maqam. Prof Dr Komaruddin Hidayat dalam buku "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" menyebut maqam pertama adalah zikir atau ta'alluq pada Tuhan. Kedua, takhalluq dan ketiga adalah tahaqquq.
Menjelaskan tentang maqam pertama: zikir atau ta'alluq pada Tuhan, menurut Komaruddin Hidayat, adalah berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Allah. Di manapun seorang mukmin berada, dia tidak boleh lepas dari berpikir dan berzikir untuk Tuhannya ( QS 3 :191).
Baca juga: Syaikh Abdul Qadir AL-Jilani: Tiada Maqam Setelah Wali dan Badal Selain Maqam Nabi
Dari zikir ini meningkat sampai maqam kedua -takhalluq. "Yaitu, secara sadar meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya," ujarnya.
Proses ini bisa juga disebut sebagai proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Dalam konteks ini kalangan sufi biasanya menyandarkan Hadis Nabi yang berbunyi, "Takhallaqu bi akhlaq-i Allah."
Maqam ketiga tahaqquq. Yaitu, suatu kemampuan untuk mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas dirinya sebagai seorang mukmin yang dirinya sudah "didominasi" sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia.
Maqam tahaqquq ini, menurut Komaruddin Hidayat, sejalan dengan Hadits Qudsi yang digemari kalangan sufi yang menyatakan bahwa bagi seorang mukmin yang telah mencapai martabat yang sedemikian dekat dan intimnya dengan Tuhan maka Tuhan akan melihat kedekatan hamba-Nya.
Komaruddin Hidayat menjelaskan, dalam tradisi tasawuf yang menjadi fokus kajiannya ialah apa yang disebut gaib atau hati dalam pengertiannya yang metafisis.
Baca juga: Zunnun al-Misri Capai Maqam Makrifah karena Kemurahan Tuhan
Beberapa ayat al-Qur'an dan hadis menegaskan bahwa hati seseorang bagaikan raja, sementara badan dan anggotanya bagai istana dan para abdi dalem-nya. Kebaikan dan kejahatan kerajaan itu akan tergantung bagaimana perilaku sang raja.
Menjelaskan tentang maqam pertama: zikir atau ta'alluq pada Tuhan, menurut Komaruddin Hidayat, adalah berusaha mengingat dan mengikatkan kesadaran hati dan pikiran kita kepada Allah. Di manapun seorang mukmin berada, dia tidak boleh lepas dari berpikir dan berzikir untuk Tuhannya ( QS 3 :191).
Baca juga: Syaikh Abdul Qadir AL-Jilani: Tiada Maqam Setelah Wali dan Badal Selain Maqam Nabi
Dari zikir ini meningkat sampai maqam kedua -takhalluq. "Yaitu, secara sadar meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya," ujarnya.
Proses ini bisa juga disebut sebagai proses internalisasi sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Dalam konteks ini kalangan sufi biasanya menyandarkan Hadis Nabi yang berbunyi, "Takhallaqu bi akhlaq-i Allah."
Maqam ketiga tahaqquq. Yaitu, suatu kemampuan untuk mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas dirinya sebagai seorang mukmin yang dirinya sudah "didominasi" sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang serba suci dan mulia.
Maqam tahaqquq ini, menurut Komaruddin Hidayat, sejalan dengan Hadits Qudsi yang digemari kalangan sufi yang menyatakan bahwa bagi seorang mukmin yang telah mencapai martabat yang sedemikian dekat dan intimnya dengan Tuhan maka Tuhan akan melihat kedekatan hamba-Nya.
Komaruddin Hidayat menjelaskan, dalam tradisi tasawuf yang menjadi fokus kajiannya ialah apa yang disebut gaib atau hati dalam pengertiannya yang metafisis.
Baca juga: Zunnun al-Misri Capai Maqam Makrifah karena Kemurahan Tuhan
Beberapa ayat al-Qur'an dan hadis menegaskan bahwa hati seseorang bagaikan raja, sementara badan dan anggotanya bagai istana dan para abdi dalem-nya. Kebaikan dan kejahatan kerajaan itu akan tergantung bagaimana perilaku sang raja.
Lihat Juga :