Sejarah Paham Al-Mahdi: Mulanya Bersifat Politis Bukan Agama
Selasa, 18 Oktober 2022 - 17:05 WIB
loading...
A
A
A
Tokoh itulah yang diisukan sebagai orang yang akan membebaskan mereka dari tindakan kezaliman dan penindasan dari lawan-lawan politiknya.
Syi’ah Kaisaniyyah
Istilah al-Mahdi bermula dari sekte Syi’ah Kaisaniyyah yang banyak terpengaruh dan menyerap pikiran Ibn Saba’. Kata al-Mahdi bisa berarti, Allah telah memberitahukan, menunjukkan atau menjelaskan jalan kepadanya.
Dengan demikian, orang yang telah mendapat petunjuk itu disebut al-Mahdi. Dalam hubungan ini ada pula yang berpendapat bahwa sighat kata al-Mahdi itu adalah maf’ul (dalam bentuk mabni lil-majhul) maka kata al-Mahdi berarti orang yang diberi petunjuk Allah.
Hanya saja kata tersebut, dalam bentuknya seperti itu, bermakna fa’il, yakni orang yang terpilih untuk memberi petunjuk kepada manusia. Memang sighat tersebut tidak terdapat dalam Alquran, yang ada adalah sigat al-fa’il, sebagaimana dalam firman Allah: “Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang beriman ke jalan yang lurus. (QS Al-Hajj, 22: 54)
Juga dalam firman-Nya: "Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong". (QS. AlFurqan, 25: 31).
Baca juga: 3 Fakta Imam Mahdi yang Patut Diketahui
Ayat-ayat tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah al-Mahdi al-Muntazar. Akan tetapi, sementara ummat Islam, ayat-ayat di atas dijadikan sebagai dasar tema pembahasan tentang al-Mahdi yang mereka tunggu-tunggu serta menghubungkan
Kemudian pengertian bahasa agama ini berubah menjadi pengertian baru yaitu akan munculnya seorang imam yang ditunggu-tunggu, yang akan memenuhi bumi ini penuh dengan keadilan sebagaimana bumi telah dipenuhi oleh kecurangan.
Sedangkan kata al-Mahdi secara harfiah berarti orang yang telah diberi petunjuk atau the guided one. Karena semua petunjuk itu berasal dari Tuhan, maka arti kata tersebut menjadi "seorang yang telah diberi petunjuk Tuhan" atau the divinely-guided one, dengan cara yang menakjubkan dan sangat pribadi.
Dengan demikian, orang yang disebut Mahdi atau al-Mahdi, benar-benar telah mendapat bimbingan Allah. Di masa lalu, nama ini pun dipakai oleh pribadi-pribadi tertentu, dan di masa-masa selanjutnya nama Mahdi dipakai orang secara eskatologis.
Menurut Istilah
Adapun menurut istilah, al-Mahdi adalah tokoh laki-laki dari keturunan Ahlul-Bait yang akan muncul di akhir zaman. Dia akan menegakkan agama dan keadilan dan diikuti oleh ummat Muslim, akan membantu 'Isa al-Masih yang turun ke dunia untuk membunuh dajjal, dan akan menjadi imam sewaktu salat bersama-sama Nabi Isa a.s.
Demikianlah pengertian al-Mahdi yang dikenal secara umum di kalangan umat Islam. Akan tetapi pengertian al-Mahdi menurut paham Syi’ah ialah seorang imam (Syi'ah) yang ditunggu-tunggu. Ia akan datang memenuhi bumi dengan keadilan karena bumi ini telah dipenuhi oleh kecurangan.
H.M. Rasyidi dalam buku berjudul "Imam Mahdi dan Harapan Akan Keadilan" mengatakan kemunculan paham ini didorong oleh timbulnya keresahan dan kerawanan dalam berbagai bidang kemasyarakatan yang mengakibatkan terjadinya protes-protes sosial yang sulit dihindarkan.
Baca juga: Apakah Imam Mahdi Sudah Lahir? Begini Penjelasannya
Dalam situasi yang demikian itulah timbul keinginan masyarakat luas yang mendambakan sosok pimpinan yang dapat mengayomi kepentingan dan ketenteraman mereka, dari berbagai tindakan kesewenang-wenangan oleh para penguasa yang sedang memerintah.
Syi’ah Kaisaniyyah
Istilah al-Mahdi bermula dari sekte Syi’ah Kaisaniyyah yang banyak terpengaruh dan menyerap pikiran Ibn Saba’. Kata al-Mahdi bisa berarti, Allah telah memberitahukan, menunjukkan atau menjelaskan jalan kepadanya.
Dengan demikian, orang yang telah mendapat petunjuk itu disebut al-Mahdi. Dalam hubungan ini ada pula yang berpendapat bahwa sighat kata al-Mahdi itu adalah maf’ul (dalam bentuk mabni lil-majhul) maka kata al-Mahdi berarti orang yang diberi petunjuk Allah.
Hanya saja kata tersebut, dalam bentuknya seperti itu, bermakna fa’il, yakni orang yang terpilih untuk memberi petunjuk kepada manusia. Memang sighat tersebut tidak terdapat dalam Alquran, yang ada adalah sigat al-fa’il, sebagaimana dalam firman Allah: “Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang beriman ke jalan yang lurus. (QS Al-Hajj, 22: 54)
Juga dalam firman-Nya: "Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong". (QS. AlFurqan, 25: 31).
Baca juga: 3 Fakta Imam Mahdi yang Patut Diketahui
Ayat-ayat tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan masalah al-Mahdi al-Muntazar. Akan tetapi, sementara ummat Islam, ayat-ayat di atas dijadikan sebagai dasar tema pembahasan tentang al-Mahdi yang mereka tunggu-tunggu serta menghubungkan
Kemudian pengertian bahasa agama ini berubah menjadi pengertian baru yaitu akan munculnya seorang imam yang ditunggu-tunggu, yang akan memenuhi bumi ini penuh dengan keadilan sebagaimana bumi telah dipenuhi oleh kecurangan.
Sedangkan kata al-Mahdi secara harfiah berarti orang yang telah diberi petunjuk atau the guided one. Karena semua petunjuk itu berasal dari Tuhan, maka arti kata tersebut menjadi "seorang yang telah diberi petunjuk Tuhan" atau the divinely-guided one, dengan cara yang menakjubkan dan sangat pribadi.
Dengan demikian, orang yang disebut Mahdi atau al-Mahdi, benar-benar telah mendapat bimbingan Allah. Di masa lalu, nama ini pun dipakai oleh pribadi-pribadi tertentu, dan di masa-masa selanjutnya nama Mahdi dipakai orang secara eskatologis.
Menurut Istilah
Adapun menurut istilah, al-Mahdi adalah tokoh laki-laki dari keturunan Ahlul-Bait yang akan muncul di akhir zaman. Dia akan menegakkan agama dan keadilan dan diikuti oleh ummat Muslim, akan membantu 'Isa al-Masih yang turun ke dunia untuk membunuh dajjal, dan akan menjadi imam sewaktu salat bersama-sama Nabi Isa a.s.
Demikianlah pengertian al-Mahdi yang dikenal secara umum di kalangan umat Islam. Akan tetapi pengertian al-Mahdi menurut paham Syi’ah ialah seorang imam (Syi'ah) yang ditunggu-tunggu. Ia akan datang memenuhi bumi dengan keadilan karena bumi ini telah dipenuhi oleh kecurangan.
H.M. Rasyidi dalam buku berjudul "Imam Mahdi dan Harapan Akan Keadilan" mengatakan kemunculan paham ini didorong oleh timbulnya keresahan dan kerawanan dalam berbagai bidang kemasyarakatan yang mengakibatkan terjadinya protes-protes sosial yang sulit dihindarkan.
Baca juga: Apakah Imam Mahdi Sudah Lahir? Begini Penjelasannya
Dalam situasi yang demikian itulah timbul keinginan masyarakat luas yang mendambakan sosok pimpinan yang dapat mengayomi kepentingan dan ketenteraman mereka, dari berbagai tindakan kesewenang-wenangan oleh para penguasa yang sedang memerintah.
Lihat Juga :