Pesan Ustaz Budi Ashari: Pentingnya Belajar Iman Sebelum Al-Qur'an!
Kamis, 20 Oktober 2022 - 05:10 WIB
loading...
A
A
A
Artinya: "Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (pada hari Kiamat), sebagaimana kalian melihat bulan Purnama ini. Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihat-Nya." (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah SAW mengajarkan Akidah kepada sahabat dengan mengaitkan bulan purnama tersebut. Contoh lain pentingnya menanamkan keimanan adalah peristiwa saat pandemi.
Banyak orang meninggal bukan karena Covid, tetapi karena ketakutan. Banyak orang awalnya OTG (orang tanpa gejala), ketika dites positif Covid. Semalaman tak bisa tidur karena stres dan panik, besoknya dia sakit dan Qadarullah meninggal dunia.
Makanya para ahli sering bilang, virus itu cepat tumbuh karena orang-orang panik dan stres. Padahal orang beriman punya tawakkal kepada Allah. Islam sangat menghormati ilmu pengetahuan dan tidak mengabaikan protokol kesehatan.
Andaikan seseorang punya keimanan yang mantap tentu virus ini tidak bakal ditakuti. Artinya, orang beriman itu tidak memiliki perasaan takut, tidak ada sedih.
Seorang muslim harus menanamkan keimanan dengan cara memahami akidah sampai ke hati. Ada satu kisah orang Arab Badui ketika mendengar ayat Al-Qur'an Surat At-Takatsur.
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)
Terjemahannya: "Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur." (QS At-Takatsur Ayat 1-2)
Mendengar ayat ini, Si Arab Badui seketika mengatakan, "kita akan dibangkitkan kembali". Darimana Arab Badui yang tinggal di padang pasir dapat memahami makna sedalam itu. Kalau kita hanya memahami ayat itu lewat terjemahan "masuk ke dalam kubur saja".
Tapi Arab Badui itu memahami ayat di atas begitu dalam: "Kita akan dihidupkan kembali." Inilah pentingnya memahami Bahasa Arab. Darimana Arab Badui itu memahami makna ayat itu? Ternyata dia menyimpulkan kata ُرْتُمُ (zurtum) yang berasal dari kata Ziarah yang artinya berkunjung sesaat.
Rasulullah SAW mengajarkan Akidah kepada sahabat dengan mengaitkan bulan purnama tersebut. Contoh lain pentingnya menanamkan keimanan adalah peristiwa saat pandemi.
Banyak orang meninggal bukan karena Covid, tetapi karena ketakutan. Banyak orang awalnya OTG (orang tanpa gejala), ketika dites positif Covid. Semalaman tak bisa tidur karena stres dan panik, besoknya dia sakit dan Qadarullah meninggal dunia.
Makanya para ahli sering bilang, virus itu cepat tumbuh karena orang-orang panik dan stres. Padahal orang beriman punya tawakkal kepada Allah. Islam sangat menghormati ilmu pengetahuan dan tidak mengabaikan protokol kesehatan.
Andaikan seseorang punya keimanan yang mantap tentu virus ini tidak bakal ditakuti. Artinya, orang beriman itu tidak memiliki perasaan takut, tidak ada sedih.
Seorang muslim harus menanamkan keimanan dengan cara memahami akidah sampai ke hati. Ada satu kisah orang Arab Badui ketika mendengar ayat Al-Qur'an Surat At-Takatsur.
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2)
Terjemahannya: "Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur." (QS At-Takatsur Ayat 1-2)
Mendengar ayat ini, Si Arab Badui seketika mengatakan, "kita akan dibangkitkan kembali". Darimana Arab Badui yang tinggal di padang pasir dapat memahami makna sedalam itu. Kalau kita hanya memahami ayat itu lewat terjemahan "masuk ke dalam kubur saja".
Tapi Arab Badui itu memahami ayat di atas begitu dalam: "Kita akan dihidupkan kembali." Inilah pentingnya memahami Bahasa Arab. Darimana Arab Badui itu memahami makna ayat itu? Ternyata dia menyimpulkan kata ُرْتُمُ (zurtum) yang berasal dari kata Ziarah yang artinya berkunjung sesaat.
Lihat Juga :