Pesan Ustaz Budi Ashari: Pentingnya Belajar Iman Sebelum Al-Qur'an!
Kamis, 20 Oktober 2022 - 05:10 WIB
loading...
Ustaz Budi Ashari menyampaikan kajian pentingnya belajar iman sebelum Al-Quran pada pengajian umum Ahad pagi Al-Amin Pare, beberapa waktu lalu. Foto/dok Channel YouTube Eraummat TV
A
A
A
Mengapa belajar iman lebih penting sebelum belajar Al-Qur'an ? Tema ini sangat menarik untuk dibahas, apalagi zaman sekarang anak-anak kecil selalu didorong untuk menghafal Qur'an.
Menghafal Al-Qur'an di usia dini tentu hal yang baik, namun paling penting adalah bagaimana anak dapat memahami apa yang dia hafal. Dengan memahami makna kandungannya, maka seorang anak mudah mengamalkan isi Al-Qur'an dan mengerti hakikat keimanan.
Berikut penjelasan Ustaz Budi Ashari, Dai yang juga pakar sejarah Islam satu acara pengajian umum Ahad pagi Al-Amin Pare, yang disiarkan kanal YouTube "Eraummat TV" 24 Februari 2021:
Imam Al-Ghazali pernah menyampaikan kritik terkait cara pengajaran akidah. Kata beliau, kesalahan mengajarkan akidah yaitu diajarkan menggunakan filsafat. Celakanya hari ini akidah disebut "Filsafat Islam". Ini sudah dikritik oleh Imam Al-Ghazali.
Lihatlah konsep filsafat, semua menurut logika, dia merumuskan sesuatu yang ujung-ujungnya berputar-putar di kepala. Kita sering ditanya tentang Tuhan itu apa, jawabnya ini dan itu. "Kalau manusia sudah masuk surga dan neraka apakah Dia layak disebut Al-Khaliq". Begitulah cara dosen orientalis merusak pemahaman akidah umat Islam.
Inilah yang dikritik Imam Al-Ghazali. Jika semua masih ada di kepala atau otak, itu belum layak disebut iman. Artinya, ketika sesuatu masih berada dalam pikiran seseorang itu masih sebatas wawasan ilmu.
Iman yang diajarkan Rasulullah SAW itu bukan sekadar teori yang disampaikan. Tetapi, bagaimana pemahaman yang ada di kepala turun ke dalam hati.
Imam Hasan Al-Bashri mendefenisikan iman: "Apa yang tertancap di hati dan dibuktikan dengan amal." Jadi tidak ada pembahasan akal di situ.
Dulu sahabat Nabi, Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu suatu malam pada bulan purnama sedang asik menikmati keindahan langit. Kemudian Nabi memegang pundak Jabir sembari bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ
Menghafal Al-Qur'an di usia dini tentu hal yang baik, namun paling penting adalah bagaimana anak dapat memahami apa yang dia hafal. Dengan memahami makna kandungannya, maka seorang anak mudah mengamalkan isi Al-Qur'an dan mengerti hakikat keimanan.
Berikut penjelasan Ustaz Budi Ashari, Dai yang juga pakar sejarah Islam satu acara pengajian umum Ahad pagi Al-Amin Pare, yang disiarkan kanal YouTube "Eraummat TV" 24 Februari 2021:
Imam Al-Ghazali pernah menyampaikan kritik terkait cara pengajaran akidah. Kata beliau, kesalahan mengajarkan akidah yaitu diajarkan menggunakan filsafat. Celakanya hari ini akidah disebut "Filsafat Islam". Ini sudah dikritik oleh Imam Al-Ghazali.
Lihatlah konsep filsafat, semua menurut logika, dia merumuskan sesuatu yang ujung-ujungnya berputar-putar di kepala. Kita sering ditanya tentang Tuhan itu apa, jawabnya ini dan itu. "Kalau manusia sudah masuk surga dan neraka apakah Dia layak disebut Al-Khaliq". Begitulah cara dosen orientalis merusak pemahaman akidah umat Islam.
Inilah yang dikritik Imam Al-Ghazali. Jika semua masih ada di kepala atau otak, itu belum layak disebut iman. Artinya, ketika sesuatu masih berada dalam pikiran seseorang itu masih sebatas wawasan ilmu.
Iman yang diajarkan Rasulullah SAW itu bukan sekadar teori yang disampaikan. Tetapi, bagaimana pemahaman yang ada di kepala turun ke dalam hati.
Imam Hasan Al-Bashri mendefenisikan iman: "Apa yang tertancap di hati dan dibuktikan dengan amal." Jadi tidak ada pembahasan akal di situ.
Dulu sahabat Nabi, Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu suatu malam pada bulan purnama sedang asik menikmati keindahan langit. Kemudian Nabi memegang pundak Jabir sembari bersabda:
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ، كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ
Lihat Juga :