Keberanian Imam Said bin Musayib kepada Penguasa Zalim
Jum'at, 28 Oktober 2022 - 05:10 WIB
loading...
A
A
A
Orang-orang begitu melihat Hajjaj langsung ketakutan dan mengkhawatirkan keselamatan Said bin Musayib. Namun Said justru berdiri dan memukul dada Hajjaj bin Yusuf sambil berkata: "Iya, memang kenapa?" Hajjaj kemudian menjawab:
فجزاك الله من معلم ومؤدِّب خيراً؛ ما صلَّيْتُ بعدَك صلاةً إلا وأنا أذكر قولك ثم قام ومضى
Artinya: "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai Guru dan pengajar kebaikan. Tidaklah aku sholat setelah kejadian yang lampau itu, melainkan aku selalu teringat dengan ucapanmu."
Diceritakan, ketika Hajjaj berkuasa di masa kepemimpinan Khalifah Abdul Malik bin Marwan, tidak ada yang berani berurusan dan berhadapan dengannya. Baik itu kalangan elit, ulama apalagi masyarakat awamnya. Namun tidak demikian dengan sang imam, beliau memperlakukan penguasa durjana Bani Umayyah itu seperti kucing rumahan.
Imam Said bin Musayib memang dikenal sebagai ulama yang menjag jarak dengan penguasa. Ustaz Ahmad Syahrin menceritakan suatu hari Khalifah kelima Dinasti Ummayyh Abdul Malik bin Marwan (berkuasa 685-705) mendengar bahwa Sa'id bin Musayib sedang membutuhkan uang karena tertimpa sebuah musibah.
Ia mengirimkan 30.000 Dirham (setara Rp2,1 Miliar) kepada sang imam. Namun Imam Said justru menolaknya dan mengatakan kepada utusan istana kalimat yang tajam:
لا حاجة لي فيها ولا في بني مروان حتى ألقى الله، فيحكم بيني وبينهم
Artinya: "Saya tidak membutuhkan uang ini dan juga tidak membutuhkan bantuan dari Bani Marwan, hingga saya bertemu Allah dan mengadili antara saya dan mereka."
Demikian sekelumit kisah keberanian Imam Said bin Musayib saat berhadapan dengan penguasa zalim yang berkuasa pada masa Dinasti Umayyah.
Baca Juga: Deretan Ulama yang Mengkritik Penguasa Secara Terbuka
فجزاك الله من معلم ومؤدِّب خيراً؛ ما صلَّيْتُ بعدَك صلاةً إلا وأنا أذكر قولك ثم قام ومضى
Artinya: "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai Guru dan pengajar kebaikan. Tidaklah aku sholat setelah kejadian yang lampau itu, melainkan aku selalu teringat dengan ucapanmu."
Diceritakan, ketika Hajjaj berkuasa di masa kepemimpinan Khalifah Abdul Malik bin Marwan, tidak ada yang berani berurusan dan berhadapan dengannya. Baik itu kalangan elit, ulama apalagi masyarakat awamnya. Namun tidak demikian dengan sang imam, beliau memperlakukan penguasa durjana Bani Umayyah itu seperti kucing rumahan.
Imam Said bin Musayib memang dikenal sebagai ulama yang menjag jarak dengan penguasa. Ustaz Ahmad Syahrin menceritakan suatu hari Khalifah kelima Dinasti Ummayyh Abdul Malik bin Marwan (berkuasa 685-705) mendengar bahwa Sa'id bin Musayib sedang membutuhkan uang karena tertimpa sebuah musibah.
Ia mengirimkan 30.000 Dirham (setara Rp2,1 Miliar) kepada sang imam. Namun Imam Said justru menolaknya dan mengatakan kepada utusan istana kalimat yang tajam:
لا حاجة لي فيها ولا في بني مروان حتى ألقى الله، فيحكم بيني وبينهم
Artinya: "Saya tidak membutuhkan uang ini dan juga tidak membutuhkan bantuan dari Bani Marwan, hingga saya bertemu Allah dan mengadili antara saya dan mereka."
Demikian sekelumit kisah keberanian Imam Said bin Musayib saat berhadapan dengan penguasa zalim yang berkuasa pada masa Dinasti Umayyah.
Baca Juga: Deretan Ulama yang Mengkritik Penguasa Secara Terbuka
(rhs)
Lihat Juga :