Gerhana Bulan Total: Begini Sifat dan Jumlah Rakaat Sholat Khusuf
Jum'at, 04 November 2022 - 09:26 WIB
loading...
A
A
A
“Mereka kufur kepada keluarganya (suaminya), dan kufur terhadap kebaikan (tidak berterima kasih). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang waktu, lalu dia melihat sesuatu (kesalahan) darimu, niscaya dia akan mengatakan : “Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu” (HR Asy-Syaikhani).
Baca juga: 4 Mitos yang Dipercaya Saat Gerhana Bulan, Cek Faktanya
Ketiga, bacaan dalam sholat khusuf maupun kusuf dibaca dengan jahr (suara keras), sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi SAW.
Dari Aisyah ra mengatakan Nabi SAW menjaharkan bacaannya dalam sholat kusuf. Jika selesai dari bacaannya, beliau pun bertakbir dan ruku. Dan jika dia bangkit rukuk, maka beliau berucap: “Sami Allaahu liman Hamidah. Rabbana lakal hamdu”. Kemudian beliau kembali mengulang bacaan dalam shalat kusuf. Empat rukuk dalam dua rakaat dan empat sujud.” (HR Asy-Syaikhanu)
At-Tirmidizi mengatakan : “Para ulama telah berbeda pendapat mengenai bacaan di dalam shalat kusuf. Sebagian ulama berpendapat supaya dibaca pelan (sirr, dengan suara tidak terdengar) dalam shalat kusuf pada waktu siang hari. Sebagian lainnya berpendapat supaya menjaharkan bacaan dalam sholat kusuf pada siang hari. Sebagaimana halnya dengan sholat ‘Idul Fithi dan Idul Adha serta sholat Jum’at. Pendapat itulah yang dikemukakan oleh Malik, Ahmad dan Ishaq. Mereka berpendapat menjaharkan bacaan pada sholat tersebut. Asy-Syafi’i mengatakan: Bacaan tidak dibaca Jahr dalam sholat sunnat.
Keempat, sholat gerhana mengerjakannya di masjid. Hal tersebut didasarkan pada beberapa hal berikut ini.
1. Disyariatkannya seruan di dalam sholat kusuf, yaitu dengan “Ash-Shalaatu Jaami’ah”
2. Apa yang disebutkan bahwa sebagian sahabat mengerjakan sholat kusuf ini dengan berjama’ah di masjid.
3. Isyarat yang diberikan oleh kedua riwayat di atas dari hadits Aisyah dan Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW mengerjakan sholat gerhana itu secara berjama’ah di masjid. Bahkan dalam sebuah riwayat hadis Aisyah, dia bercerita, “Pada masa hidup Rasulullah pernah terjadi gerhana matahari, lalu beliau pergi ke masjid, kemudian beliau berdiri dan bertakbir, dan orang-orang pun membuat barisan di belakang beliau. (HR Bukhari)
Kelima, sholat khusuf maupun kusuf terdiri dari dua rakaat, masing-masing rakaat terdiri dari dua ruku dan dua sujud. Dengan demikian, secara keseluruhan, shalat kusuf ini terdiri dari empat ruku dan empat sujud di dalam dua rakaat.
Barangsiapa mendapatkan ruku kedua dari rakaat pertama, berarti dia telah kehilangan berdiri, bacaan, dan satu rukuk. Berdasarkan hal tersebut, berarti dia belum mengerjakan satu dari dua rakaat sholat kusuf, sehingga rakaat tersebut tidak dianggap telah dikerjakan.
Berdasarkan hal tersebut, setelah imam selesai mengucapkan salam, maka hendaklah dia mengerjakan satu rakaat lagi dengan dua rukuk, sebagaimana yang ditegaskan di dalam hadis-hadis shahih.
Baca juga: Gerhana Bulan Total Baru Terjadi Lagi Pada 2033 Nanti
Baca juga: 4 Mitos yang Dipercaya Saat Gerhana Bulan, Cek Faktanya
Ketiga, bacaan dalam sholat khusuf maupun kusuf dibaca dengan jahr (suara keras), sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi SAW.
Dari Aisyah ra mengatakan Nabi SAW menjaharkan bacaannya dalam sholat kusuf. Jika selesai dari bacaannya, beliau pun bertakbir dan ruku. Dan jika dia bangkit rukuk, maka beliau berucap: “Sami Allaahu liman Hamidah. Rabbana lakal hamdu”. Kemudian beliau kembali mengulang bacaan dalam shalat kusuf. Empat rukuk dalam dua rakaat dan empat sujud.” (HR Asy-Syaikhanu)
At-Tirmidizi mengatakan : “Para ulama telah berbeda pendapat mengenai bacaan di dalam shalat kusuf. Sebagian ulama berpendapat supaya dibaca pelan (sirr, dengan suara tidak terdengar) dalam shalat kusuf pada waktu siang hari. Sebagian lainnya berpendapat supaya menjaharkan bacaan dalam sholat kusuf pada siang hari. Sebagaimana halnya dengan sholat ‘Idul Fithi dan Idul Adha serta sholat Jum’at. Pendapat itulah yang dikemukakan oleh Malik, Ahmad dan Ishaq. Mereka berpendapat menjaharkan bacaan pada sholat tersebut. Asy-Syafi’i mengatakan: Bacaan tidak dibaca Jahr dalam sholat sunnat.
Keempat, sholat gerhana mengerjakannya di masjid. Hal tersebut didasarkan pada beberapa hal berikut ini.
1. Disyariatkannya seruan di dalam sholat kusuf, yaitu dengan “Ash-Shalaatu Jaami’ah”
2. Apa yang disebutkan bahwa sebagian sahabat mengerjakan sholat kusuf ini dengan berjama’ah di masjid.
3. Isyarat yang diberikan oleh kedua riwayat di atas dari hadits Aisyah dan Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW mengerjakan sholat gerhana itu secara berjama’ah di masjid. Bahkan dalam sebuah riwayat hadis Aisyah, dia bercerita, “Pada masa hidup Rasulullah pernah terjadi gerhana matahari, lalu beliau pergi ke masjid, kemudian beliau berdiri dan bertakbir, dan orang-orang pun membuat barisan di belakang beliau. (HR Bukhari)
Kelima, sholat khusuf maupun kusuf terdiri dari dua rakaat, masing-masing rakaat terdiri dari dua ruku dan dua sujud. Dengan demikian, secara keseluruhan, shalat kusuf ini terdiri dari empat ruku dan empat sujud di dalam dua rakaat.
Barangsiapa mendapatkan ruku kedua dari rakaat pertama, berarti dia telah kehilangan berdiri, bacaan, dan satu rukuk. Berdasarkan hal tersebut, berarti dia belum mengerjakan satu dari dua rakaat sholat kusuf, sehingga rakaat tersebut tidak dianggap telah dikerjakan.
Berdasarkan hal tersebut, setelah imam selesai mengucapkan salam, maka hendaklah dia mengerjakan satu rakaat lagi dengan dua rukuk, sebagaimana yang ditegaskan di dalam hadis-hadis shahih.
Baca juga: Gerhana Bulan Total Baru Terjadi Lagi Pada 2033 Nanti
(mhy)
Lihat Juga :