Kisah Perjalanan Rohani Muhammad Ali: Malcolm, Ingat David dan Goliath
Jum'at, 04 November 2022 - 13:57 WIB
loading...
A
A
A
Selama tiga tahun sebelum pertarungannya untuk memperebutkan gelar juara dunia kelas berat dengan Sonny Liston, Clay telah menghadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh Nation of Islam. Kehadirannya dilaporkan oleh koran Daily Nezus di Philadelphia pada September 1963; tetapi pada Januari 1964, dia berbicara di sebuah rapat Muslim di New York. Dia membuat sensasi yang besar. Beberapa minggu kemudian, ayahnya mengatakan bahwa Clay telah bergabung dengan Nation:
Clay masih belum memberikan pernyataan publik tentang keikutsertaannya dalam Nation of Islam. Tetapi dia sibuk mempelajari Islam di bawah bimbingan Kapten Sam Saxon (sekarang Abdul Rahman), yang dijumpai Clay di Miami pada 1961, dan menteri Ishmael Sabakhan. Pelajaran-pelajaran mereka merupakan hasil ajaran Nation of Islam: Tuhan adalah orang kulit hitam, tetapi kaum kulit hitam di Amerika memakai nama majikan budak.
Pelajaran yang membakar dapat didapat dari perjalanan ke daerah Selatan, atau dengan mudah bisa didapatkan dengan menonton televisi. Jim Crow sedang berada pada masa kejayaannya, dan seratus tahun setelah penghapusan perbudakan, kaum kulit hitam disemprot dengan selang air di jalanan, dipukuli, ditembaki, dan dilukai sampai cacat karena memperjuangkan kesetaraan rasial di Amerika Serikat.
Baca juga: Cerita Paul Pogba Dapat Hidayah hingga Jadi Mualaf
Clay merenungkan ajaran-ajaran Elijah Muhammad, membaca surat kabar yang diterbitkan Nation, dan mencari bimbingan dan saran dari Malcolm X, yang dijumpainya di Detroit pada awal 1962. Pesan di balik perjuangan kaum kulit hitam terhadap supremasi kulit putih dapat dimakluminya.
Sebelum pertandingan Clay melawan Liston, Malcolm mengunjungi Clay sebagai pribadi, bukan sebagai wakil Elijah. Malcolm menganggap Clay sebagai adiknya dan menasihati dia, melambungkan kebulatan tekadnya untuk bangkit melawan tantangan yang berat --untuk mengungguli Liston. "Ingat David dan Goliath," ujar Malcolm menyemangatinya.
Malcolm meninggalkannya hanya setelah promotornya mengancam untuk membatalkan pertandingan jika dia masih berkeliaran di sekitar tempat itu. Di satu pihak Clay merasa takut jika dia tidak akan diizinkan untuk bertanding memperebutkan gelar di kelas berat apabila hubungannya dengan Nation diketahui.
Walaupun merasa sangat takut menghadapi Liston, akhirnya Clay menang dalam pertandingan itu karena, dia yakin, bahwa itu merupakan "waktu Allah". Clay benar-benar bergerak menjauhi jangkauan Liston dan menghajarnya dari sudut-sudut yang berlainan. Ketika pada akhir ronde keempat mata Clay terasa perih dan buta sebagian (mungkin karena minyak gosok dari tubuh dan sarung tangan Liston), Angelo Dundee mendorongnya kembali ke ring, lalu Clay mempergunakan kelihaian dan keyakinannya untuk menghindari pukulan Liston. Liston yang terluka mengakhiri pertandingan sebelum bel ronde ketujuh berbunyi. Dunia memiliki seorang juara baru.
Baca juga: Viral! Kisah Bule Jadi Mualaf Usai Temukan Alquran
Setelah Clay menang, Elijah Muhammad membalik strateginya. Dia berkata pada lima ribu pengikut di Chicago: "Saya bahagia bahwa dia mengaku sebagai seorang yang beriman. Clay membuktikan diri sebagai seorang yang lebih tangguh dan menyelesaikan pertandingan tanpa rasa takut karena dia telah menerima Muhammad sebagai Utusan Allah."
Malcolm mungkin telah berusaha untuk menarik Ali ke sudutnya sendiri ketika Malcolm telah merencanakan untuk memisahkan diri dari Nation. Tetapi Ali dilaporkan mengatakan pada seoran koleganya, "Orang itu tidak dapat meyakinkan saya untuk melawan sang Utusan."
Clay masih belum memberikan pernyataan publik tentang keikutsertaannya dalam Nation of Islam. Tetapi dia sibuk mempelajari Islam di bawah bimbingan Kapten Sam Saxon (sekarang Abdul Rahman), yang dijumpai Clay di Miami pada 1961, dan menteri Ishmael Sabakhan. Pelajaran-pelajaran mereka merupakan hasil ajaran Nation of Islam: Tuhan adalah orang kulit hitam, tetapi kaum kulit hitam di Amerika memakai nama majikan budak.
Pelajaran yang membakar dapat didapat dari perjalanan ke daerah Selatan, atau dengan mudah bisa didapatkan dengan menonton televisi. Jim Crow sedang berada pada masa kejayaannya, dan seratus tahun setelah penghapusan perbudakan, kaum kulit hitam disemprot dengan selang air di jalanan, dipukuli, ditembaki, dan dilukai sampai cacat karena memperjuangkan kesetaraan rasial di Amerika Serikat.
Baca juga: Cerita Paul Pogba Dapat Hidayah hingga Jadi Mualaf
Clay merenungkan ajaran-ajaran Elijah Muhammad, membaca surat kabar yang diterbitkan Nation, dan mencari bimbingan dan saran dari Malcolm X, yang dijumpainya di Detroit pada awal 1962. Pesan di balik perjuangan kaum kulit hitam terhadap supremasi kulit putih dapat dimakluminya.
Sebelum pertandingan Clay melawan Liston, Malcolm mengunjungi Clay sebagai pribadi, bukan sebagai wakil Elijah. Malcolm menganggap Clay sebagai adiknya dan menasihati dia, melambungkan kebulatan tekadnya untuk bangkit melawan tantangan yang berat --untuk mengungguli Liston. "Ingat David dan Goliath," ujar Malcolm menyemangatinya.
Malcolm meninggalkannya hanya setelah promotornya mengancam untuk membatalkan pertandingan jika dia masih berkeliaran di sekitar tempat itu. Di satu pihak Clay merasa takut jika dia tidak akan diizinkan untuk bertanding memperebutkan gelar di kelas berat apabila hubungannya dengan Nation diketahui.
Walaupun merasa sangat takut menghadapi Liston, akhirnya Clay menang dalam pertandingan itu karena, dia yakin, bahwa itu merupakan "waktu Allah". Clay benar-benar bergerak menjauhi jangkauan Liston dan menghajarnya dari sudut-sudut yang berlainan. Ketika pada akhir ronde keempat mata Clay terasa perih dan buta sebagian (mungkin karena minyak gosok dari tubuh dan sarung tangan Liston), Angelo Dundee mendorongnya kembali ke ring, lalu Clay mempergunakan kelihaian dan keyakinannya untuk menghindari pukulan Liston. Liston yang terluka mengakhiri pertandingan sebelum bel ronde ketujuh berbunyi. Dunia memiliki seorang juara baru.
Baca juga: Viral! Kisah Bule Jadi Mualaf Usai Temukan Alquran
Setelah Clay menang, Elijah Muhammad membalik strateginya. Dia berkata pada lima ribu pengikut di Chicago: "Saya bahagia bahwa dia mengaku sebagai seorang yang beriman. Clay membuktikan diri sebagai seorang yang lebih tangguh dan menyelesaikan pertandingan tanpa rasa takut karena dia telah menerima Muhammad sebagai Utusan Allah."
Malcolm mungkin telah berusaha untuk menarik Ali ke sudutnya sendiri ketika Malcolm telah merencanakan untuk memisahkan diri dari Nation. Tetapi Ali dilaporkan mengatakan pada seoran koleganya, "Orang itu tidak dapat meyakinkan saya untuk melawan sang Utusan."
Lihat Juga :