Kisah Lompatan Iman Ferdinand Lewis Alcindor Menjadi Kareem Abdul Jabbar
Minggu, 06 November 2022 - 10:21 WIB
loading...
A
A
A
Saya beralih ke sumber segala ilmu. Saya mempelajari bahasa Arab. Saya mulai membaca Al-Quran dalam bahasa Arab. Saya dapat menerjemahkannya dengan bantuan kamus. Untuk menerjemahkan tiga kalimat saya membutuhkan waktu sepuluh jam tetapi saya memahami apa yang dimaksudkan secara gramatikal.
Baca juga: Mualaf Jerman Murad Hoffman Bicara tentang Pluralisme dalam Islam
Pada musim panas berikutnya saya pergi ke Libya dan Arab Saudi. Saya belajar berbicara bahasa Arab dan sedikit lebih mendalaminya. Itu terjadi pada 1973. Pada musim dingin di tahun itulah pembunuhan itu terjadi.
Saya sedang bermain [basket]. Saya mendapat telepon dari salah seorang rekan di D.C. Dia berbisik. Saya berkata, "Apa yang terjadi?"
Saya benar-benar terkejut dan tidak percaya. Saya tidak dapat mengerti mengapa orang tega membunuh anak-anak. Perbuatan gila. Ketakutan melanda keluarga saya. Ketakutan melanda orang-orang di D.C.
Saya pergi ke D.C. dan membantu penguburan, lalu menghabiskan empat sampai enam minggu berjalan-jalan dengan perlindungan FBI.
Kemudian mereka menangkap orang-orang yang melakukan hal itu.
Saya pikir Hamaas terserang paranoia. Pada saat itu saya pikir dia pasti akan meninggalkan rumahnya di D.C. untuk beberapa tahun berikutnya.
Saya tidak ingin melakukan apa yang dilakukan Muhammad Ali. Dia mengumumkan secara terbuka kepindahan agamanya. Itu bisa ditafsirkan sebagai pernyataan politik, pernyataan menentang perang, dan pernyataan rasial. Saya hanya akan menguatkan identitas saya sebagai orang Afro-Amerika dan sebagai seorang Muslim.
Saya tidak akan menggunakan nama Alcindor. Secara literal itu adalah nama budak. Ada seorang laki-laki bernama Alcindor yang membawa keluarga saya dari Afrika Barat ke kepulauan Dominika. Dari sana mereka pergi ke kepulauan Trinidad, sebagai budak, dan mereka mempertahankan namanya. Mereka adalah budak-budak Alcindor. Jadi Alcindor adalah nama penyalur budak. Ayah saya melacak hal ini di tempat penyimpanan arsip.
Ketika pertama kali mengucapkan kalimat syahadat, mereka memanggil saya dengan Abdul Kareem. Hamaas berkata, Anda lebih tepat sebagai Abdul-Jabbar.
Allah memberkati saya dengan memberikan kekuatan yang besar pada saya. Itu benar. Saya harus mensyukurinya, saya tidak ingin keadaan itu membuat saya sombong.
Orang-orang tampaknya menyukai hal itu. Orangtua saya sedikit gelisah menanggapinya. Tetapi mereka tahu saya bersungguh-sungguh. Saya pindah agama bukan untuk ketenaran. Saya sudah menjadi diri saya sendiri, dan melakukan itu dengan cara saya sendiri, apa pun konsekuensinya.
Baca juga: Catatan Seorang Mualaf Jerman: Masyarakat Alkohol, Nikotin, dan Daging Babi
Saya tidak pernah berhasil menegakkan disiplin untuk sholat lima kali setiap hari. Saya banyak berada di luar dan banyak urusan. Terutama ketika saya sedang bermain.
Saya terlalu lelah untuk bangun melakukan sholat subuh. Saya harus bermain basket pada waktu maghrib dan isya'. Saya akan tertidur sepanjang siang di mana saya seharusnya melakukan sholat zuhur.
Begitulah, saya tidak pernah bisa menegakkan disiplin itu. Tapi sejak berhenti bermain, saya menjadi semakin baik. Saya rasa saya harus beradaptasi untuk hidup di Amerika. Yang dapat saya harapkan hanyalah semoga pada Hari Akhir nanti Allah ridha atas apa yang telah saya lakukan.
Saya tahu bersekolah di sekolah Katolik memberikan dasar yang kuat bagi saya. Jesus (Isa) adalah seorang Muslim. Jadi saya telah dibelokkan mengenai hal itu. Tetapi dengan Islam Anda dapat menjelaskan segala sesuatu tentang Jesus.
Tiba-tiba semuanya jadi masuk akal. Anda tidak harus mempercayai bahwa tiga adalah satu. Jika Anda minta orang Kristen untuk menjelaskan hal itu secara logis, atau bertanya bagaimana Injil dikumpulkan dan ditulis, dan menyebutkan bahwa pasti ada kesalahan manusia dalam Al-Kitab itu, mereka pasti tidak mau membicarakan hal itu dengan Anda.
Masalah itu sangat membingungkan. Jika Anda seorang Kristen, sangat sulit bagi Anda untuk mempertahankan pendapat tersebut dan itu akan membawa Anda kepada berbagai macam frustrasi dan kemarahan. Itulah yang saya lihat di dunia Kristen.
Dalam Islam, Anda mempunyai kitab suci yang sangat jelas dan tidak terusik. Jika Anda orang yang beriman dan logis, dan Anda menjalankan apa yang diperintahkan Al-Quran, Allah akan merestui Anda dan Anda dapat melihat bahwa itulah jalan hidup yang benar untuk diikuti.
Baca juga: Ini Agama Suami Maudy Ayunda sebelum Mualaf
Saya selalu mempunyai keyakinan yang kuat pada Allah Yang Mahatinggi, dan jika saya membaca Al-Quran [dan] tentang Nabi Muhammad, menjadi sangat jelas bagi saya bahwa Kitab ini merupakan wahyu terakhir.
Di sini kami tidak memiliki kepaduan sebagai suatu komunitas; tidak ada lembaga yang melayani kami sebagai suatu komunitas; kami orang-orang yang belum berpengalaman. Saya pikir jumlah kami cukup banyak. Saya berpikir bahwa kami tidak terorganisir sebagaimana seharusnya. Kaum Muslim di Amerika berpencar-pencar, tetapi jika kami bergabung sebagai satu kelompok, pasti akan sangat mengejutkan banyak orang.
Anda harus sedikit lebih waspada di sini, sebab Anda akan didiskriminasikan jika Anda seorang Muslim --bukan dalam komunitas Muslim [tetapi] dalam komunitas yang lebih luas. Jadi orang-orang harus waspada, jangan terlalu mengumbar sebagai Muslim.
Tapi saya pikir sekarang keadaannya sudah banyak berubah. Saya gembira melihat kenyataan ini. Saya pikir penyerbuan Rusia atas Afganistan banyak membantu masalah kaum Muslim Amerika. Hingga saat ini, orang Amerika memandang kaum Muslim sebagai orang-orang fanatik yang tidak akan melakukan apa-apa kecuali melaksanakan ajaran Islam, dan fundamentalisme membuat mereka menjadi kekuatan yang radikal.
Baca juga: Mualaf Jerman Murad Hoffman Bicara tentang Pluralisme dalam Islam
Pada musim panas berikutnya saya pergi ke Libya dan Arab Saudi. Saya belajar berbicara bahasa Arab dan sedikit lebih mendalaminya. Itu terjadi pada 1973. Pada musim dingin di tahun itulah pembunuhan itu terjadi.
Saya sedang bermain [basket]. Saya mendapat telepon dari salah seorang rekan di D.C. Dia berbisik. Saya berkata, "Apa yang terjadi?"
Saya benar-benar terkejut dan tidak percaya. Saya tidak dapat mengerti mengapa orang tega membunuh anak-anak. Perbuatan gila. Ketakutan melanda keluarga saya. Ketakutan melanda orang-orang di D.C.
Saya pergi ke D.C. dan membantu penguburan, lalu menghabiskan empat sampai enam minggu berjalan-jalan dengan perlindungan FBI.
Kemudian mereka menangkap orang-orang yang melakukan hal itu.
Saya pikir Hamaas terserang paranoia. Pada saat itu saya pikir dia pasti akan meninggalkan rumahnya di D.C. untuk beberapa tahun berikutnya.
Saya tidak ingin melakukan apa yang dilakukan Muhammad Ali. Dia mengumumkan secara terbuka kepindahan agamanya. Itu bisa ditafsirkan sebagai pernyataan politik, pernyataan menentang perang, dan pernyataan rasial. Saya hanya akan menguatkan identitas saya sebagai orang Afro-Amerika dan sebagai seorang Muslim.
Saya tidak akan menggunakan nama Alcindor. Secara literal itu adalah nama budak. Ada seorang laki-laki bernama Alcindor yang membawa keluarga saya dari Afrika Barat ke kepulauan Dominika. Dari sana mereka pergi ke kepulauan Trinidad, sebagai budak, dan mereka mempertahankan namanya. Mereka adalah budak-budak Alcindor. Jadi Alcindor adalah nama penyalur budak. Ayah saya melacak hal ini di tempat penyimpanan arsip.
Ketika pertama kali mengucapkan kalimat syahadat, mereka memanggil saya dengan Abdul Kareem. Hamaas berkata, Anda lebih tepat sebagai Abdul-Jabbar.
Allah memberkati saya dengan memberikan kekuatan yang besar pada saya. Itu benar. Saya harus mensyukurinya, saya tidak ingin keadaan itu membuat saya sombong.
Orang-orang tampaknya menyukai hal itu. Orangtua saya sedikit gelisah menanggapinya. Tetapi mereka tahu saya bersungguh-sungguh. Saya pindah agama bukan untuk ketenaran. Saya sudah menjadi diri saya sendiri, dan melakukan itu dengan cara saya sendiri, apa pun konsekuensinya.
Baca juga: Catatan Seorang Mualaf Jerman: Masyarakat Alkohol, Nikotin, dan Daging Babi
Saya tidak pernah berhasil menegakkan disiplin untuk sholat lima kali setiap hari. Saya banyak berada di luar dan banyak urusan. Terutama ketika saya sedang bermain.
Saya terlalu lelah untuk bangun melakukan sholat subuh. Saya harus bermain basket pada waktu maghrib dan isya'. Saya akan tertidur sepanjang siang di mana saya seharusnya melakukan sholat zuhur.
Begitulah, saya tidak pernah bisa menegakkan disiplin itu. Tapi sejak berhenti bermain, saya menjadi semakin baik. Saya rasa saya harus beradaptasi untuk hidup di Amerika. Yang dapat saya harapkan hanyalah semoga pada Hari Akhir nanti Allah ridha atas apa yang telah saya lakukan.
Saya tahu bersekolah di sekolah Katolik memberikan dasar yang kuat bagi saya. Jesus (Isa) adalah seorang Muslim. Jadi saya telah dibelokkan mengenai hal itu. Tetapi dengan Islam Anda dapat menjelaskan segala sesuatu tentang Jesus.
Tiba-tiba semuanya jadi masuk akal. Anda tidak harus mempercayai bahwa tiga adalah satu. Jika Anda minta orang Kristen untuk menjelaskan hal itu secara logis, atau bertanya bagaimana Injil dikumpulkan dan ditulis, dan menyebutkan bahwa pasti ada kesalahan manusia dalam Al-Kitab itu, mereka pasti tidak mau membicarakan hal itu dengan Anda.
Masalah itu sangat membingungkan. Jika Anda seorang Kristen, sangat sulit bagi Anda untuk mempertahankan pendapat tersebut dan itu akan membawa Anda kepada berbagai macam frustrasi dan kemarahan. Itulah yang saya lihat di dunia Kristen.
Dalam Islam, Anda mempunyai kitab suci yang sangat jelas dan tidak terusik. Jika Anda orang yang beriman dan logis, dan Anda menjalankan apa yang diperintahkan Al-Quran, Allah akan merestui Anda dan Anda dapat melihat bahwa itulah jalan hidup yang benar untuk diikuti.
Baca juga: Ini Agama Suami Maudy Ayunda sebelum Mualaf
Saya selalu mempunyai keyakinan yang kuat pada Allah Yang Mahatinggi, dan jika saya membaca Al-Quran [dan] tentang Nabi Muhammad, menjadi sangat jelas bagi saya bahwa Kitab ini merupakan wahyu terakhir.
Di sini kami tidak memiliki kepaduan sebagai suatu komunitas; tidak ada lembaga yang melayani kami sebagai suatu komunitas; kami orang-orang yang belum berpengalaman. Saya pikir jumlah kami cukup banyak. Saya berpikir bahwa kami tidak terorganisir sebagaimana seharusnya. Kaum Muslim di Amerika berpencar-pencar, tetapi jika kami bergabung sebagai satu kelompok, pasti akan sangat mengejutkan banyak orang.
Anda harus sedikit lebih waspada di sini, sebab Anda akan didiskriminasikan jika Anda seorang Muslim --bukan dalam komunitas Muslim [tetapi] dalam komunitas yang lebih luas. Jadi orang-orang harus waspada, jangan terlalu mengumbar sebagai Muslim.
Tapi saya pikir sekarang keadaannya sudah banyak berubah. Saya gembira melihat kenyataan ini. Saya pikir penyerbuan Rusia atas Afganistan banyak membantu masalah kaum Muslim Amerika. Hingga saat ini, orang Amerika memandang kaum Muslim sebagai orang-orang fanatik yang tidak akan melakukan apa-apa kecuali melaksanakan ajaran Islam, dan fundamentalisme membuat mereka menjadi kekuatan yang radikal.
Lihat Juga :